Sepasang yang Sendiri
Ilustrasi : Google “Berhentilah menangis siti, sebenarnya apa yang kau tangisi?” Di pelataran rumah yang klasik dan teduh itu Siti menangis tersedu-sedu, air matanya tak terlihat sebab malam menutupi kesedihan, suara rintihannya tak sampai telinga sebab suara kumandang takbir Idul fitri memenuhi langit-langit dunia. Mariah teman kecilnya tak bisa apa-apa selain mengelus lembut pundak temannya itu. Mencoba menenangkan. “Ceritalah Siti, kau tau tak baik bersedih lama-lama. Aku temanmu dari semenjak kita masih jadi janin ini siap mendengar keluh kesahmu. Ayo berceritalah.” Siti terisak-isak membersihkan air matanya. Mariah menatap Siti, menunggunya bercerita. Betapa Mariah kagum pada temannya yang jelita itu, ...