Sepasang yang Sendiri

          Jual Sandal swallow ungu - Kab. Demak - Nagiza Online Shop | Tokopedia
Ilustrasi :  Google
  “Berhentilah menangis siti, sebenarnya apa yang kau tangisi?”

            Di pelataran rumah yang klasik dan teduh itu Siti menangis tersedu-sedu, air matanya tak terlihat sebab malam menutupi kesedihan, suara rintihannya tak sampai telinga sebab suara kumandang takbir Idul fitri memenuhi langit-langit dunia. Mariah teman kecilnya tak bisa apa-apa selain mengelus lembut pundak temannya itu. Mencoba menenangkan.

            “Ceritalah Siti, kau tau tak baik bersedih lama-lama. Aku temanmu dari semenjak kita masih jadi janin ini siap mendengar keluh kesahmu. Ayo berceritalah.”

            Siti terisak-isak membersihkan air matanya. Mariah menatap Siti, menunggunya bercerita. Betapa Mariah kagum pada temannya yang jelita itu, meski jilbab merah Siti basah karena air mata, tak dapat ditutupi kalau memang wajahnya tetap jelita meski sedang menangis.

            “Pelan-pelan, Tarik nafas dengan tenang lalu mulailah bercerita padaku.”

            Mariah menebak-nebak arti tangis Siti yang indah itu, apakah itu tangisan kehilangan Ramadhan? Tangisan menyambut Hari Raya? Tangisan haru karena besok pakai baju baru? Mariah masih menerka-nerka.

            “A-aku” Siti mengusap lagi kedua matanya.

            “Tenang Siti, tenang. Ceritalah.”

            “Sendalku ketinggalan di asrama, aku lupa.”

            Mariah melonjak berdiri seketika,”Gila kau! Kukira menagisi apa? Sendal saja kau tangisi.”

         “Duduklah dulu dengan tenang, biarkan aku bercerita dulu” kini Siti yang menenangkan Mariah.

            “Sendal itu sudah setahun kuajak kemana-mana Mar. Taukah kata Ustadz yang berceramah tadi? Setiap benda akan menjadi saksi baik perbuatan baik atau buruk kita di akhirat nanti.” Siti mengusap air mata yang tersisa.

            “Bayangkan Mar, setahun sejak tinggal di asrama sudah kuajak ia ke masjid berjamaah, ke warung membeli sarapan untuk berbuka dan dia termasuk saksi bahwa aku juga pernah belajar sungguh-sungguh Mar. Aku membayangkan sepasang sendalku yang sendiri itu melamun di rak asrama, ia rindu dan memanggil-manggil namaku di sana. Duduk memandang langit yang gelap, asrama yang sepi dan meneteslah air matanya.”

            “Tapi itu hanya sendal Siti, kau menangis seperti kehilangan sapi.”

            “Kutanya kau Mar, jawablah cepat. Benda apa yang paling setia di dunia ini?.”

            “Tak tau aku” Mariah menggeleng-gelengkan kepala.

            “Sendal Mar, sendal. Karena dia diciptakan sepasang dan tak dapat dipakai jika salah satunya selingkuh. Ingat itu!”

            Mariah terdiam, mengangguk.

            “Sendal itu lambang cinta dan kesetiaan, kesederhanaan, ketabahan dan kenangan Mar.”

            “Tak paham kau?” Siti menatap teman di sampingnya.

            Mariah menggeleng-geleng.

            “Tentang kesetiaan kita belajar dari sandal yang setia itu Mar. Meski ada sendal lain yang bagus jika ditakdirkan bukan berpasang maka tak akan bertemu, seperti jodoh Mar! dengar itu.”

            Mariah mengangguk.

            “Tentang kesederhanaan manusia bisa dilihat dari merek sendalnya Mar, apa merek sendalmu?”

            “Swalow”

            “Bagus. Sandal itu sederhana dan suka berjamaah Mar, aku sering melihatnya di masjid.”

       “Terakhir tentang kenangan Mar, sendal itu bersamaku dalam suka dan duka. Aku berterimakasih sebab dari segala perjalananku di bumi, ia melindungiku dari luka dan duri. Aku terkadang membayangkan sifat lelaki juga harus seperti sendalkui itu.”

            Mariah mengangguk.

            “Tapi Kau berlebihan Siti.”

            “Aku serius Mar”

            “Aku lebih serius siti. Coba ingat-ingat dimana bedak merek baru yang mau kau tunjukkan padaku kemarin?”

            Siti menutup kedua wajahnya,”Aku juga lupa membawanya Mar"

            “Nah. sekarang jelaskan padaku apa manusia dapat belajar dari bedak?”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077