Bukan Hewan Ternak Ali Hamidi Bukuku lebih dari satu Jangan tanya, apalagi revisiku Posisi membaca sudah kuatur Mataku saja yang tertidur Datangku pagi-pagi Namun kantin, tempat nyasar setiap hari Bangku belakang pojok kiri Bekas tempat einsten, aku duduki Lambat laun, lambat jadi Hanya uang, waktu dan tanggungjawab Yang aku bakar setiap hari Tak taukah wahai diri Ibu dan bapak tak pernah mandi Bagaimana tidak, keringat dan air mata dahulu membasahi Jangan hanya makan, tidur dan mengaung Aku bukan hewan ternak
Postingan
Menampilkan postingan dari Januari, 2019
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Srrrrt Ali Hamidi “ Srrrrt “ Suara ingus ditarik paksa Dan sarung yang asal ketat Pecinya yang tak seimbang Tawa dan kantuk sebagai hiburan bagi bolpen Yang tiap hari ikut mengaji Keran-keran yang tiap subuh berbunyi Menggelitik kaki-kaki lemas penuh kapal Sandal di teras surau Yang berjama’ah lima kali sehari Dan pemiliknya yang selalu berganti Haruskah mereka bernyawa dan menjadi saksi Atas lelah dan juang santri Yang jauh dari rumah, dekat dengan lelah Sungguh sulit sekali mencari ilmu Tuhanpun berkata begitu Lalu engkau tertidur tak mau lelah Sementara tuhan menyuruhmu berusaha susah payah Dan engkau angkuh, seakan bisa kuasa Sementara tuhanmu menyuruhmu untuk berdo’a
Ibu Perbu di Akhir Waktu ( puisi untuk Cut Nyak Dien )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ibu Perbu di Akhir Waktu ( Ali Hamidi ) Ibu perbu terjebak waktu Jiwa srikandi, gelora menggerutu Terjebak dalam tulang rapuh Tumbuh, bersama kaki bercabang kayu Serambi mekah, tak berani malu Setelah pepohonan tumbuh merimbun Kalut marut, tak mau tau Giling habis pasukan karun Telinga berisi strategi, kaki bergetar tiada henti Sisa kecamuk perang tadi Jiwa kesatria bersembunyi Komandan garang, di tubuh nenek periang Ahli rencong dan bambu runcing Berselimut hijab bening Menakuti koloni Hingga kencing, tak bergeming Di kisah akhir hari Ibu perbu tidur, tiada berdiri lagi Mata kantuk selepas ajar mengaji Kepala empuk, berganjal atap negeri Tanpa debu dan darah lagi Salatiga, 27 Januari 2019
Tiga Banjar Kursi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tiga Banjar Kursi Ali Hamidi Tiga banjar, kursi wisuda Bertepuk ria Sesaat setelah mereka melempar topi Bertoga, semangat berapi-api Selesailah masa penuh revisi Esok mereka lahir kembali Dalam dunia penuh kontroversi Kakak-kakak mereka Yang mengais lalu gugur satu per satu Bacaan mereka tak lagi referensi Namun koran, majalah atau bungkus roti isi Berburu kata “ Dicari“ Media cetak maupun televisi Malamnpun mulai redup Dan pagi itu mentari tak sehangat biasanya Begitu panas Menyambar otak para pemalas Melambai duduk, tertidur diatas kapuk Yang lapuk bersama dirinya “ Sudahlah besok saja “ kata mereka Sepertiga lagi dari mereka berguling Ke gedung kosong, rebutan omong Aksi tawar kehebatan diri Maaf Hanya dia si kutu buku Cekatan, nilainya tinggi Lalu mereka bagian akhir, mulai berpikir Kenapa harus cari bekerja.? Bukankah pencipta perusahaan manusia juga.? Lahirlah bakul kecil, wadah bagi seni Dan tekad yang amat besar Membuat bukan mendafta...
Butuh Lautan Tinta
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BUTUH LAUTAN TINTA Ali Hamidi Ketika patahan rusuk turun menjelma Makhluk anggun lagi nirmala Sumringailah semesta, terobati luka badan bumi Merangkul menemani sepi hati Yang bosan menopang dan menyendiri Per Empu annya para insan Sang maestro irama perasaan Pencipta rona makna hati Teladan pekerti ibu sejati Kau timang rindu Mengayun perlahan penuh syahdu Terdengar samar hentakan kaki Tabah kuat menahan beba Kau terima segala keluh Bersihkan angkuh serta kumuh Terjahitlah satu demi satu Penghangat badan serta batin ku Dialah bdadari Pondasi sebuah negri,Perhiasan duniawi Kurangajarnya aku Yang menggambarkanmu dengan tetes tinta Dan beberapa helai buku Salatiga, 5 September 2018
Dan Kita ( Ali Hamidi )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dan Kita Ali Hamidi Salama... Kutanya senyum saudara Suara daun, merdu membelai sukma Menjawab mata penuh tanya Kutanya satunya Jejak para sirip dan kaki melata Berbagi kisah ketawakkalannya Dan kita berguling-guling Orasi, tuntut kita hampir binasa Perut bolong, kantong kosong pura-pura Pertikaian, rebut paksa semena-mena Sementara islam kita saling jaga Dan kita mengaung-ngaung Dusta, fitnah kita seribu gunung Lingkar serakah, takar kurang hati bingung Lidah kita, rusak kandang hasud gedung Sementara islam kita saling lindung Dan kita mengufur-ngufur Radikal, sebar kutuk tak sama jalur Perangai egois, pesta perang sarana penghibur Kebiadaban, rampas tawa hingga luntur Sementara islam kita sabar syukur Dan kita sebatas berharap rahmatan Sementara laku kita hanya bayangan Dan kita bilang hidup ini mengekang Sementara hati kita sempit kurang lapang Salatiga, 23 November 2018