Perjalanan

 Gresik-Salatiga, hari ini 23 Mei 2021 adalah perjalanan saya dari Ujungpangkah ke Salatiga untuk kembali ke Mahad IAIN Salatiga. Atas tuntutan tugas formal dan spiritual, saya usaikan liburan saya yang hanya segelintir hari di rumah itu. Alhamdulillah, akhir ramadhan dan awal syawal sebagai budaya/arus balik orang-orang rantau sudah saya lalui dengan nikmat.

Agak jauh, dari Ujungpangkah desa pesisir saya bermotor dengan kawan saya hingga ke Stasiun Lamongan. Semenjak mengetahui prosedur perjalanan kereta, saya punya cita-cita untuk membuka bisnis di sana. Kalau sekarang viral-viralnya covid dan penumpang wajib bersedekah untuk sebuah kertas "negative" covid, maka mungkin esok saya beri penumpang itu surat "negative" jelek. Mereka pasti jauh lebih bangga dari sekarang.

Semenjak menjadi perantau untuk belajar di luar desa, kota dan provinsi. Saya bersyukur karena selama ini orang sekitar atau tetangga saya hanya mengamati rambut, warna kulit dan makin baik/buruknya tampang saya. Hal itu tidak salah, dibandingkan dengan saya diajukan beberapa pertanyaan fiqih yang tak mampu menjawabnya, maka saya akan jauh lebih malu.

Perjalanan dari Lamongan sekitar kurang  lebih 4 jam, penumpang kereta agak sepi tak seperti tahun tahun sebelumnya. Semenjak Indonesia darurat covid pula, mudik menggunakan kereta bisa dibilang susah-gampang, karena wajib tes swab hingga ge-nose yang saya tidak begitu tahu keabsahan proseduralnya.


Sebagai masyarakat awam saya penasaran sekaligus ikut menjadi penikmat segala tes tersebut sebelum memasuki kasir kereta. Harusnya penasaran saya diobati dengan pendidikan ringkas covid dan alat bantu pendeteksinya, sehingga saya benar-benar tahu bagaimana menyikapi sesuatu yang sedang menyerang dunia itu. Tapi, toh saya termasuk orang-orang yang 'ngeyel' juga, tidak gampang percaya dan banyak tanya.


4 jam itu berlalu dengan kebiasaan orang berpergian, melamun, main hape dan melihat dari jendela pemandangan yang indah. Kereta itu makhluk paling nurut, ia cerminan masyarakat ideal yang sesunggguhnya. Karena kereta akan selalu pada relnya dengan tanpa banyak bertanya, apalah daya saya sebagai seorang manusia.


Pada akhirnya saya hanya ingin menyampaikan keresahan saya hari ini, yaitu membayar uang ongkos bus dengan nominal 20.000, sementara saya sadari ketika separuh perjalanan di kaca depan bus itu tertulia oleh lembaga dishub, "Tarif normal Semarang-Salatiga 15.000"


Apakah saya tertipu? bukan, mungkin saya golongan manusia yang tidak normal atau husnudon saya, kernet setempat ingin membelikan sesuatu yang menyenangkan malam ini untuk anak istrinya, dan saya malam ini akan menelan sakit kepala karena mabuk perjalanan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skripsi: Insomnia

7.077