Skripsi: Insomnia
Skripsi: Insomnia
Ali Hamidi
Negera yang aku diami ini memang aneh-aneh menyenangkan, sebagai seorang pengamat di warung kopi kutemui berita-berita aneh yang ada di televise. Sebagai satu-satunya hiburan yang dapat dinikmati secara umum di sana, selain menonton pertandingan catur. Ketika kuaduk kopi untuk yang ke dua puluh tujuh putaran, perasaanku tak enak. Kulirik televise yang ada di atas sana dan mendengarkan sungguh-sungguh, bahwa:
“Seusai menghina Pancasila dengan candaan yang melukai. Pada hari Kamis, Zaskia Gotik diundang anggota DPR untuk digandeng menjadi Duta Pancasila (Gedung Nusantara V, DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta” ujar seorang laki-laki berjas hitam di televise.
Kuamati lagi berita itu, barangkali itu hanya program acara komedi yang memuat berita yang ngawur dan lucu-lucuan saja. Ternyata tidak! Orang-orang itu begitu serius tentang itu. Oleh halnya aku tahu bagaimana mudahnya untuk menjadi “Duta” di negara ini, apakah jangan-jangan duta sampo juga berawal dari mengolok-olok produk tersebut? Entahlah. Cepat-cepat kuantar kopi itu kepada pemesannya.
Perempuan 31 tahun asal Bekasi, bernama asli Surkianih itu entah mengapa mengganti namanya menjadi Zaskia dan menambahi salah satu spesies unggas sebagai ciri khasnya. Usut punya usut, ia tenar dengan memiliki goyang yang khas semacam goyang gergaji karya Inul Daratista, goyang ngebor karya Dewi Persik atau goyang dribel favorit saya yang di-atlet-i oleh Duo Serigala dan goyangan lain di dunia perdangdutan yang tak bisa sebutkan satu persatu. Tak hasil, selain Duta Pancasila, goyang-goyangan itu membuatku susah tidur akhir-akhir ini, bahwa goyang-goyangan itu diciptakan selain untuk menggoda syahwat, mungkin juga hasil suatu gerak, penghayatan atau filosofi tertentu. Cerdas.
Lain halnya bukannya saya sembuh dengan kebingungan dan penyakit insomnia, saya malah patah hati melihat Kalista Iskandar, pemenang kontes kecantikan Puteri Indonesia Sumatera Barat 2020. Bagaimana saya tidak patah hati bahwa peserta yang cuantik itu gelapan menyebutkan butir-putir Pancasila. Akan tetapi tak masalah, di negara ini perempuan cantik itu tak boleh disalahkan atas kesalahan apapun, pasti bisa dimaafkan. Saya hanya mengingat gelagatnya yang gugup dan tak jelas ketika menyebutkan butir Pancasila. Saya membayangkan Kalista seperti sedang menentukan sikap respon perempuan diajak menikah oleh laki-laki tampan namun tak mapan secara finansial.
“Kopi pahit, Dul” ujar seorang membuyarkan lamunanku.
“Ngge Pak” jawabku ringan.
Kuracik kopi dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, apabila rasa enak seperti biasanya tak terasa, uang tidak kembali memang. Namun kopi pahit tetaplah kopi pahit, hanya orang tertentu yang mampu menikmatinya. Yaitu mereka yang sudah memiliki banyak perasaan dan pengalaman dalam hidup. Mati rasa terhadap kepahitan itu sendiri.
“Niki kopinya Pak” tawarku dengan ramah, sebab selain dengan senyum dan bekerja dengan ikhlas, entah dengan apa lagi orang miskin di desa ini bisa bersedekah.
Tunggu sebentar, pikirku.
Kuingat-ingat beliau, Pak Zainul ialah Guru Pendidikan Kewarganegaraan di sebuah sekolah dasar. Mengenai Pancasila dan dua perempuan yang mengganggu tidurku akhir-akhir ini, aku pasti menemukan jawaban.
“Pak?”
“Ssssst. Duduk-duduk Dul, lihatlah berita itu” Pak Zainul memberi isyarat dan mempersilahkan.
Kami berdua menonton dengan khusuk dan mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh penyiar televise. Bahwa salah seorang ketua lembaga pembinan Pancasila terang-terangan menyebutkan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama. Sebagai orang awam, aku tak berani menafsiri maksud kalimat itu, kulihat saja bahwa Pak Zainul tersenyum sumringah.
“Bagaimana kabar pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pak Zainul? apakah istilah Homo Homini Lupus yang dikemukakan Thomas Hobbes masih berlaku di kehidupan sosial masyarakat kita?” tanyaku dengan serius.
“Ah, Dul. Aku ini sudah tua. Janganlah kau beri pertanyaan berat seperti itu kepada orang tua ini” Ia kemudian menuangkan kopi ke leper, membiarkan angin secara otomatis meredakan panas kopi itu. “Akan tetapi bolehkah aku bercerita tentang murid-muridku saja Dul?”
Aku duduk dengan khusuk, mengangguk dan membiarkan ia mengambil nafas panjang.
“Anak-anak muridku membuatku kagum sendiri. Sebab mereka tak pernah kusuruh menghafal Pancasila, tapi sudah hafal di luar kepala. Mereka tak kusuruh saling menyayangi sebagaimana tujuan hukum dibuat, namun mereka sudah memiliki keakraban dengan sesama, Mereka pula dengan jelas membuat akal dan hati sebagai pusat membuat keputusan di semua tindak lakunya.”
Aku tetap terdiam, Pak Zainul, guru sepuh ini melanjutkan ceritanya.
“Mereka sudah hafal Pancasila sejak awal sekolah dasar, sebab Ibu mereka dengan sengaja membeli sampul buku yang bergambar garuda beserta lima butir isinya. Otomatis, mereka membaca dan hafal begitu saja.”
“Mereka juga bermain di lapangan ketika sepulang sekolah, Ibu mereka mengizinkan mereka untuk berinteraksi dan membuat sebuah perkawanan Dul. Mereka bekerja sama untuk mencuri tebu di kebun sebelah sekolah, mereka masih kecil dan pemilik kebun itu terlalu pelit terhadap murid-muridku.”
“Namun setelah itu, hari raya Idul Fitri mereka berbondong-bondong ke rumah pemilik kebun, memita maaf akan tebu-tebu yang telah ditebang sembarangan oleh mereka. Sebelum seminggu setelahnya mereka melakukan itu lagi.”
“Anak-anak desa ini tak perlu diajari Pancasila secara formal Dul, sebab mereka tak berharap menjadi duta atau hal administrative lainnya. Mereka juga tak akan berpikir bahwa Pancasila itu musuh bagi siapapaun, sebab semua yang ada di dunia ini menyatu. Dan menjelma sebagai nilai-nilai dalam prilaku kita sendiri.”
“Warung kopi ini juga Pancasila sekali Dul”
“Bagaimana bisa Pak?” tanyaku. “Kukira tidak ada pigura Pancasila di sini.”
“Bukan karena dandanan itu, melainkan manusia yang selalu membawanya kemana-mana.”
Lalu kudengar suara speaker musala menyala, apakah ini sudah sore? Kukira waktu shalat asar masih lama. Kemudian terdengar suara anak-anak nakal itu dari speaker musala dan berteriak sekeras mungkin hingga toa musala berdengung kencang sekali. Mereka bersama-sama membunyikan Pancasila, bernyanyi dan bergurau di depan speaker itu. Abidin tetangga warung kopi ini, sang takmir musala dengan hanya memakai celan pendek berlari ke musala mengejar dan memecuti anak-anak itu dengan sajadah.
Aneh tapi menyenangkan, namun aku sudah mantap ingin membuat skripsi dengan meneliti perilaku anak-anak di desaku dan menemukan relevansi dengan nilai Pancasila. Seperti negaraku, skripsiku harus aneh tapi menyenagkan.

Komentar
Posting Komentar