Ibu Perbu di Akhir Waktu ( puisi untuk Cut Nyak Dien )
Ibu Perbu di Akhir Waktu
( Ali Hamidi )
Ibu perbu terjebak waktu
Jiwa srikandi, gelora menggerutu
Terjebak dalam tulang rapuh
Tumbuh, bersama kaki bercabang kayu
Serambi mekah, tak berani malu
Setelah pepohonan tumbuh merimbun
Kalut marut, tak mau tau
Giling habis pasukan karun
Telinga berisi strategi, kaki bergetar tiada henti
Sisa kecamuk perang tadi
Jiwa kesatria bersembunyi
Komandan garang, di tubuh nenek periang
Ahli rencong dan bambu runcing
Berselimut hijab bening
Menakuti koloni
Hingga kencing, tak bergeming
Di kisah akhir hari
Ibu perbu tidur, tiada berdiri lagi
Mata kantuk selepas ajar mengaji
Kepala empuk, berganjal atap negeri
Tanpa debu dan darah lagi
( Ali Hamidi )
Ibu perbu terjebak waktu
Jiwa srikandi, gelora menggerutu
Terjebak dalam tulang rapuh
Tumbuh, bersama kaki bercabang kayu
Serambi mekah, tak berani malu
Setelah pepohonan tumbuh merimbun
Kalut marut, tak mau tau
Giling habis pasukan karun
Telinga berisi strategi, kaki bergetar tiada henti
Sisa kecamuk perang tadi
Jiwa kesatria bersembunyi
Komandan garang, di tubuh nenek periang
Ahli rencong dan bambu runcing
Berselimut hijab bening
Menakuti koloni
Hingga kencing, tak bergeming
Di kisah akhir hari
Ibu perbu tidur, tiada berdiri lagi
Mata kantuk selepas ajar mengaji
Kepala empuk, berganjal atap negeri
Tanpa debu dan darah lagi
Salatiga, 27 Januari 2019
Komentar
Posting Komentar