Dyschromatopsia
Dyschromatopsia
Ali
Hamidi
Suasana pagi masih menyisakan mendung
selepas hujan semalam, tanah-tanah di halaman kelas berubah menjadi lumpur. Sesekali
daun rimbun meneteskan sisa-sisa embun ke pelataran tanah atau siapa saja yang
sedang berteduh. Abi sedang duduk di sana menunggu sesuatu. Ubin kelas melukis
jejak-jejak sepatu yang kotor, sementara suasana kelas agak ramai berbincang
tentang hujan badai petang lalu sambil mengamati meja guru yang sedang kosong.
Abi
berdiri ketika mobil pick
up mendekatinya, dengan agak keras Abi membantu, “Kiri Pak, kiri, iya sedikit lagi. Stop!” Terdapat puluhan tanaman warna-warni yang menumpangi mobil tersebut.
Entah sudah berapa tabungan ayam yang Abi korbankan untuk membeli segala jenis
tanaman yang indah itu, yang pasti terlihat dari wajahnya dia sangat
berbahagia.
Merasa
tenaga mereka berdua mulai melemah Kara tiba-tiba berteriak kencang, “Hei teman-teman, ayo
keluar semua, hari ini Pak Adang tidak masuk. Mari kita m“Wah borong nih!”
sahut Kara yang muncul tiba-tiba dari belakang lalu menepuk bahu Abi agak
keras, suaranya mengundang perhatian Pak Sholeh yang sedang turun dari pintu mobil
memberi senyum sapa. Pak Sholeh, seorang supir profesional setengah
baya yang bertugas mengantarkan bunga-bunga itu. Tubuhnya yang kekar, berkulit
hitam dan berwajah garang turun menghampiri Abi, “Ditaruh dimana, Mas?” ucap Pak Sholeh dengan sopan.
“Agak
ke sana Pak,
di depan kelas saya,
Pak,” sahut Abi, “mari saya bantu.”
Mereka
bergerak menuju ke belakang mobil, membuka pintu belakang lalu mulai
mengangkuti tanaman. “Ayo sini ikut aku bantu, biar cepet!” ajak Abi sembari
menarik tangan kurus Kara
yang dari enanam pohon saja!”
Semua
penghuni kelas berteriak kegirangan lalu berbondong-bondong mencopot sepatu dan
kaos kaki. Dengan bertelanjang kaki para siswa mengangkuti tanaman dari mobil
ke halaman kelas dan menggali lubang, sementara para siswi menanam bunga-bunga hingga
tanah hitam taman yang becek itu mengotori tangan dan kaki-kaki mereka.
“Kita
butuh banyak pasukan, bener kan Bi?” ucap Kara melirik Abi. Sama seperti
badannya yang pendek, pikirannyapun begitu. Tanpa berpikir panjang dan sok tahu
ia berkata kelas kosong dengan dalih sudah seperempat jam kelas senyap tanpa
ada Guru yang mengisi pelajaran. Abi hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan
itu.
Abi
adalah seorang ketua kelas, bicaranya yang santun serta sikap yang peka terhadap
sekelilingnya membuat dirinya terpilih tiga kali menjadi ketua kelas sejak
kelas sepuluh. Pak Adang kemarin sudah memberi tahu pada Abi bahwa
hari ini beliau akan ada rapat di sekolah lain, kesempatan bagus ini digunakan
Abi untuk melakukan kegiatan bertanam. Sekarang seisi kelas hanya menikmati
masa-masa akhir sekolahnya. Tak lama kemudian masing-masing penghuni kelas akan
berpisah. Mungkin lanjut ke bangku perkuliahan, pondok pesantren, kerja atau
nikah dini. Dinding tua, bangku penuh coretan serta setiap sudut-sudut kelas
akan selalu mereka ingat sampai uban
mereka memenuhi kepala mereka nanti.
Abi,
Kara dan teman-teman lainnya masih saling menyalurkan tanaman hingga satu per
satu beban di punggung pick up kini separuhnya telah berada di taman. Dengan
wajah berkeringat serta nafas terengah-engah
Kara bertanya, “Buat apa Bi, buang-buang uang untuk beli bunga segini banyaknya.”
Abi
menaruh kembali bunga yang diangkatnya kembali ke mobil sambil menatap tajam
Kara, “Kau lupa Kara?”
“Lupa
apa?” tanya Kara
sambil mengusap keringat di dahinya.
“Kau
sudah tau dari kecil aku mengalami Dyschromatopsia,”
ujar Abi, “aku tak bisa melihat warna dengan sempurna, aku tak bisa menikmati
indahnya bunga-bunga ini yang kau bilang warna-warni. Aku tidak bisa melihat keindahan mereka,”
lalu ia mendekati Kara yang kini terdiam menyesali pertanyaannya.
“Aku tak bermaksud begitu,”
Kara menunduk.
“Aku paham maksudmu, tapi aku hanya ingin
sekeliling kita dipenuhi oleh warna. Aku ingin teman-temanku merasakan
keindahan dunia dengan sempurna. Makanya aku menabung untuk membeli bunga-bunga
ini, agar pandangan mereka tak sepertiku!”
“Maafkan aku Abi,”
ucap Kara pelan, tangannya merangkul pundak Abi yang tersender di badan mobil pick
up.
“Aku tidak marah Kara, hanya saja aku
ingin menebar pesan ke semua orang untuk menikmati segala nikmat Tuhan
selagi bisa. Kau ini kawan baikku, sewajarnya pesan ini kusampaikan padamu
lebih dulu,” Abi tersenyum hingga kacamata bundarnya melorot tergoyah simpul
pipinya.
“Oke kawan, selain memberi contekan, kau
juga harus sering-sering memberiku nasihat,”
canda Kara.
“Hahaha wedus,”
jawab Abi mengejek.
“Ingat Bi, wedus juga nikmat Tuhan.
Dagingnya eeenak,”
ucap Kara lalu mengacungkan jempolnya.
“Ngobrol terus nih, mau dibikinin kopi?
Ayo angkat!” sahut Nia memecah tawa mereka, sambil tergopoh-gopoh Nia ikut
mengangkat pot berukuran seperempat badannya yang mungil, berjalan di tengah
melewati Abi dan Kara. Nia adalah siswi yang paling cekatan dalam hal apa pun,
wajahnya yang cantik alami serta tidak jaim
seperti perempuan lainnya membuat dirinya dikenal di seluruh penjuru sekolah.
“Tuan Putri
mau dibantuin,”
ujar Kara menggoda sambil mengulurkan tangannya. Nia
menoleh ke belakang menjawab, “Maaf Mas,
saya wanita kuat. Saya bisa sendiri.”
Mata indah Nia menatap ke arah mereka
berdua, wajahnya yang cantik berselimut kerudung panjang memancarkan warna
sejati yang tak pernah dilihat Abi selama ini. Kara melanjutkan pekerjaannya
memindahkan bunga, sementara Abi terdiam, matanya terpaku tak bergerak,
perempuan ini yang sering membuat Abi terlihat agak gila karena senyum-senyum
sendiri.
“Kara?” ucap Abi tetapi matanya tetap
memandangi Nia yang sibuk menanam pohon bersama teman-temannya.
“Apa?” jawab Kara
menoleh ke Abi.
“Dunia ini penuh warna ya,”
ungkap Abi.
“Iyalah,”
jawab Kara tak peduli pertanyaan tak jelas itu.
Melihat Abi yang masih terpaku tak
bergerak, Kara baru menyadari perilaku sahabatnya ini, sayang sekali lelaki
cupu ini tak berani lekas mengungkapkan perasaannya. Nia memiliki peringkat
tertinggi di kelas dan juga dalam masalah penolakan pria. Mungkin Abi butuh
mental dan spiritual yang amat kuat untuk menjadi daftar pria tertolak, tinggal
menunggu dirinya saja mempersiapkan diri untuk patah hati atau rasa itu
terpenjara hingga mereka berpisah ketika wisuda nanti.
“Uhk, uhk,”
Kara sengaja membuat suara gaduh sembari menyenggol bahu Abi, membuyarkan
lamunannya yang entah sudah berlarian sampai mana.
“Aku tau apa yang ada di pikiranmu,
matamu mungkin tak bisa melihat warna atau ketampananku. Tapi aku yakin tiga
juta persen kau bisa memandangi cintamu dengan sempurna,”
mata Kara menerkam pandangan Abi, pertanyaan yang menjurus membuatny[T1] a
lumpuh total, mulutnya bisu, badannya kaku tak merespons
apa-apa.
“Tinggal dua lagi itu, lanjutin yuk!” ucap
Abi mengelak. Kara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, memahami bahwa Abi
salah tingkah.
“Mas, ini sudah selesai. Saya pulang dulu ya,”
sahut Pak
Sholeh yang berpamitan dan mengusap dahinya yang penuh keringat dengan handuk
kecil yang berkalung di lehernya.
“Iya Pak,
terima kasih
atas bantuannyanya,”
jawab Abi sembari tangannya menjabat tangan Pak
Soleh.
“Saya juga terimakasih Mas, tadi upahnya
juga terlalu banyak,” ucap Pak Sholeh malu-malu, “Saya pulang dulu ya Mas,”
wajah Pak Soleh menatap Abi dan Kara.
“Iya, hati-hati Pak,”
sahut mereka berdua kompak.
Asap mobil tua tak seperti asap sate yang harum,
baru beberapa meter mobil Pak Sholeh menjauh asap knalpotnya memenuhi wajah
mereka, tangan mereka mengipas-ngipas asap di hadapan mereka yang kian menggebu
dan hitam pekat itu. Nia bersama teman-temannya yang melihat kejadian itu
tertawa memandangi mereka.
“Abi, Nia tertawa Bi,”
ucap Kara berbisik.
“Gapapa Kar. Biar cepet sembuh mataku,”
balas Abi.
Mereka berdua tertawa saling merangkul dan
kemudian kembali bergabung ke halaman taman kelas bersama yang lainnya. Semua
penghuni kelas bergotong royong, begitu pula Nia yang terlihat antusias.
Terlihat Nia sambil memegangi tanaman bunga melati kecil sedang menoleh kiri
kanan sambil tangannya mengais-ngais dedaunan selutut kaki seakan sedang
mencari sesuatu, Nia terkejut merasakan sesuatu berada di pipinya. Ternyata Abi
menempelkan sekop bekas menggali lumpur di pipi Nia hingga membuat ia terkejut
dan kini wajahnya semakin belepotan dari sebelumnya.
“Cari ini kan Tuan
Putri?”
sahut Abi.
“Kamu terlalu sering mengamatiku Bi,
hingga sangat tahu,”
canda Nia.
Abi hanya tersipu malu, jangan-jangan Nia
tahu bahwa ketika di kelas dia selalu mencuri-cuiri pandang padanya. Nia
mengambil sekop itu lalu, “Bluk!” segenggam lumpur mendarat di muka Abi
membuyarkan lamunannya, dia tak sadar bahwa selain tangan kiri Nia yang
menerima sekop, tangan kanannya diam-diam membuat kepalan lumpur yang sekarang
mendarat di wajahnya. Nia tertawa dan berlari menjauh, sementara Abi mencari
lumpur, mengisi amunisi membentuknya seperti peluru meriam ukuran bola tangan
untuk melakukan serangan balik. Sekali lagi matanya memandangi Nia yang agak
jauh, terlihat sempurna cahaya dalam matanya, pantulan dari wajah cantik yang
mewarnai hatinya.
Sungguh cerpen yg menyimpan moral... Saluut....
BalasHapus