Hijau Adalah Suasana

Hijau Adalah Suasana
Ali Hamidi






“Bagaimana, ada yang ingin kuliah jurusan kimia?” Tanya pak Muasis menatap wajah kami. “Ya barangkali besok bisa menggantikan saya jadi guru kimia”.
            Setelah beberapa detik kami terpaku oleh pertanyaan yang sulit dijawab itu, salah satu teman perempuan di depanku dengan malu-malu mengangkat tangannya. pak Muasis hanya memandangi mereka dengan melempar senyum, tak heran kimia adalah salah satu pelajaran tersulit dikelas kami. Mungkin hanya beberapa orang saja yang sedikit menguasai pelajaran ini, namun untuk menekuninya hanya satu orang saja di kelas kami yang berani mengacungkan tangan. Dari 4 baris bangku yang tertata di kelasku, tempat dudukku berada di baris kedua. Tempat yang strategis barangkali aku sedang bersemangat lalu menatap tajam guru yang menerangkan pelajaran, terkadang juga pindah dengan sesuka hati ketika sedang malas atau mengantuk ke bangku pojok belakang, bersama Zainal.
            “Saya dulu kuliah di Universitas Negeri Surabaya” Ucap  pak Muasis. “Kuliah dengan jurusan kimia berbeda dengan yang lainnya, ada beberapa persyaratannya. Beberapa diantaranya adalah kita tidak boleh buta warna, kita harus mampu membedakan zat yang biasnya waranaya hampir sama, lalu  ingatan kita harus tajam untuk mengenali sifat, jenis, dan bedanya satu unsur zat atau senyawa, dan masih banyak lagi.”
             Kami hanya termanggut-manggut mendengarkan pak Muasis yang mondar mandir di depan kelas. Bola mata kami bergerak mengikuti langkah beliau. Tubuhnya berisi, tingginya sedang seukuran pria dewasa, matanya agak sipit serta berkulit putih. Baju batik serta berpeci hitam menambah nyentrik penampilan bapak tiga anak berusia 40 tahunan ini. Dalam menjelaskan mata pelajarannya pak Muasis sering mengundang gaduh di kelas kami, beliau selalu menyuguhkan lelucon di sela-sela pelajaran kimia yang mendidihkan otak kami. Ketika suasana cair akibat tawa kami, biasanya  malah suara tawa beliau yang keras menggelegar menambah meriahnya suasana pembelajaran Kelas 12 IPA Madrasah Aliyah  Al-Muniroh.
            “Terkadang kita ini lupa bersyukur”. Sahut pak Musis kemudian terdiam beberapa detik mengundang rasa penasaran kami, wajahnya sangat serius tak seperti biasanya. “Pernahkah kita berpikir tentang nikmat Tuhan sangat banyak dan berharga bagi kita. Kita bisa menkmati bentang alam yang kaya, hijaunya tumbuhan yang indah serta bernafas tanpa dituntut untuk membayar” Ungkap pak Muasis ini membuat wajah kami agak menunduk, tak berani menatapnya. Suasana hening bersarang di dalam ruang kami pagi itu.
            “Saya beri contoh : harga tabung oksigen kira-kira 500.000 rupiah, itupun maksimal hanya bertahan empat jam, sementara sehari  kita bernapas ada 24 jam. Jadi sekitar tiga juta rupiah per hari jika kita harus membeli oksigen untuk kehidupan kita. Andaikan kita disuruh membayar nikmat tuhan ini apa kita sanggup?“ Pak Muasis bertanya dengan nada yang mulai meninggi, wajahnya bergerak  menatap seisi kelas memandangi kami.
            Kami hanya terpaku tidak bisa berbicara apapun, “Mari kita belajar mensyukuri nikmat tuhan dengan ikut menjaga tubuh kita, alam kita, lingkungan kita!”.
“Sekarang saya mau kalian mengangkat tangan!”.  Perintah pak Muasis
Sambil keheranan kami mengangkat tangan menuruti perintah beliau.
            “Kita harus memanfaatkan nikmat tangan kita, sekarang periksa dalam lorong-lorong bangku kalian yang suram itu dan di bawah kaki kalian. Ambil semua sampah di situ dan buang ke tempat sampah, saya yakin anak IPA tau bahwa butuh 1000 tahun bumi untuk menguraikan sampah plastik, apalagi yang sering kalian taruh di lorong-lorong itu yang membusuk tak terurai di sana”. Tangannya menunjuk ke bawah, mengisyaratkan kolong bangku kami.
“Setelah minggu kemarin kita bertanam di taman kelas dan seperti yang saya ucapkan kemarin, mari kita ciptakan suasana hijau di kelas kita”.
 Wajahnya kini berubah menyuguhkan senyum penuh arti. Memang kebiasaan membuang sampah adalah kebiasaan penghuni kelas kami yang membeli makanan di kantin lalu dimakan di kelas, dan lorong-lorong bangku adalah korban sampah sisa makanan kami.
            Sekarang semua penghuni kelas kami sibuk membersihkan wilayah duduknya masing masing, terutama Zainal. Badannya yang tinggi, gagah serta berkulit coklat ini bisa dibilang maskot kelas kami, dia juga sering menjadi pengundang perhatian kelas kami. Zainal berjalan keluar kelas dengan gaya layaknya seorang model binaraga, sembari lengan seragamnya yang ditekuk akibat tak mampu menahan besar otot lengannya. Ketika kembali ke dalam kelas, dia membawa tempat sampah besar dengan hanya mengangkat menggunakan tangan kirinya. Sontak saja kami tertawa oleh sikapnya yang sering pamer kekuatan itu, dipikiranku Zainal laksana Hulk dalam adegan film “Avengers” melawan pasukan luar angkasa Loki.
“Ayo kebat ule, mentah kabeh i (Ayo cepetan, dasar lemah semua)” Ejek zainal ketika memandangi kami yang rata-rata bertubuh kurus, mungkin sepertiga tubuhnya.
 Omong wae yak e, ojok mentang-mentang awakmu gedi nal, na’e tek tawor bocah-bocah
“Bicara terus, jangan mentang-mentang badanmu besar nal, nanti ditawur teman-teman lho”. Sahutku sambil membuang beberapa bungkus permen ke tempat sampah di hadapan Zainal, namun Zainal hanya tertawa meringis, memperlihatkan gigi depannya yang hitam, bolong dan tak rata.
Pok mingkem nal, untumu ule (Tutup mulutmu nal, gigimu itu lho)”. Sindir Rafi, duduk di sampingku sambil tertawa.
“Hayo, hayo, hayo”. Suara Zainal melempar Rafi dengan botol bekas dan buku, sembari menggigit bibir bawahnya, menandakan bahwa dirinya sedang geram.
Kami hanya tertawa melihat kelakuan orang yang sebenarnya bertetangga ini, sementara Pak Muasis hanya tersenyum melihat tingkah kami. Beliau adalah salah satu guru favorit kami. Pak Muasis sangat santai, penuh nasihat dan baik hati. Pernah suatu hari pelajaran dikosongkan dan kita diajak kelapangan menikmati alam di sana serta dibelikan es krim satu persatu, lalu makan rujak bersama. Sangat benar nasehat beliau minggu lalu, bahwa bukan hanya alam yang hijau, kelaspun harus hijau. Hijau bukan berarti warna saja, hijau adalah suasana di mana hati kami segar, asri dan damai setiap harinya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077