Mbah Wali Gagal Meramal
Mbah Wali Gagal Meramal
Ali Hamidi
Sekolahku
adalah sekolah terbesar dan tertua di desaku. Meski begitu, kondisi gedung
sekolah sekarang sudah berdiri sangat indah, tak kalah bagusnya dengan sekolah-sekolah
lain di kota. Hiasan dinding, jam tua, bangku dan kursi kelas bekas angkatan
beberapa tahun lalu masih terawat memenuhi suasana kelas kami, yang paling
menarik bagi kami adalah kursi panjang. Kursi yang panjangnya kira-kira hampir
satu meter itu kami susun rapat hingga seperti kasur agak lebar, lalu kami
gunakan untuk tidur, cukup untuk dua atau tiga orang.
“Minggir-minggir
gantian” ucap Ifan dengan paksa menarik tangan Ulum yang setengah sadar setelah
selesai menyelesaikan rutinitasnya, tidur di pojok kelas.
“Haaaah” Ulum
menguap. Tubuh kurus keringnya terlihat masih layu, dengan lemas dia mencoba
berdiri, terlihat gerak-geriknya seperti tanaman yang sempoyongan tertiup
angin. Ifan dengan leluasa mengatur posisi tidurnya, melepas kantuk dengan
berbaring di atas kursi pojok kelas, aku yang duduk di situ sejak pagi tidak merasa
risih atau terganggu karena memang itu kegiatan sehari-hari kami.
“Al rang pek
turu, ngko reng onok gurune pok tangeni ya?(Al, saya mau tidur, nanti kalau ada
gurunya bangunin ya)”
“Iyo” jawabku
agak malas.
Aku hanya
menyilangkan kedua tanganku di atas bangku, menjadikannya bantal untuk sekedar
memejamkan mata. Aku tipikal orang tidak bisa tidur jika keadaan sekitarku tidak
tenang, bahkan ketika Ifan bergerak sedikit mengganti posisi tidurnya, akupun
ikut terbangun juga.
“Huahahaha” ”Wakakakak”
suara tawa bersautan sangat keras menggelegar mengejutkanku, aku terbangun.
Begitu pula Ifan yang sedang berada di ujung
lelap seketika terperanjak duduk. Kulihat matanya yang memerah seolah menahan
kantuk luar biasa harus terganggu oleh suara tawa geng Temel (kusam),
begitulah delapan siswi cerewet menamai geng mereka. Mungkin nama geng mereka sesuai
dengan ocehan mereka yang sangat berisik dan tak berarti sehingga membuat para
pendengarnya bermuka kusam. Namun urusan penampilan ,wajah cantik mereka akan
menolak jika dikaitkan dengan nama itu.
Dengan muka
masam aku dan Ifan beranjak dari kursi meninggalkan tempat itu sambil bergumam, “Kurangajar, ganggu orang tidur
saja”.
Siang ini cuaca di luar sangat panas, aku dan
Ifan melangkah menjauh dari kursi itu kemudian ikut bergabung dengan Agus dan Achris
yang sedang menikmati sepoi-sepoi angin dari kipas yang tertanam di dinding. Kurasa
siang ini aku dan Ifan harus merelakan tidur di jam kosong ini, lagi pula juga
sudah tidak nyaman lagi ketika suara berisik itu sedang bersahutan keras.
Kevin Maulana
atau yang kerap kami panggil Mbah Wali, salah teman kami yang kami panggil
demikian karena konon dia bisa meramal kini menempati kursi belakang. Dengan berbaring
terlentang merebahkan tubuh, menutupi wajah dengan tangan kanannya, serta sebelah
kaki yang ditekuk seperti gaya seorang kernet truk yang tertidur di kursi
penumpang karena kelelahan. Beberapa menit kemudian ketika kulihat lagi dia
sudah tak bergerak, tertidur pulas.
Sekarang aku,
Ifan, Agus dan Achris sedang duduk saling berhadapan seperti sedang membuat
forum, dengan moderator sebuah kipas dinding yang menoleh ke kiri dan kanan
seperti memandangi kami.
“Kon u
yaapoe gus, seragammu gak tepak kabeh (Kamu ini bagaiman gus,
seragammu tidak benar)” ujar Achris mengawali pembicaraan, matanya memperhatikan
penampilan Agus yang tak serasi dengan bercelana olahraga sementara baju yang dipakaiya adalah seragam
pramuka.
“Wes cee
gak onok sing kamot (Biar saja, gak ada yang muat)“ bantahnya sambil
jemarinya sibuk bermain ponsel. Tubuhnya yang besar membuat beberapa seragamnya
terkulai di lemari tak terpakai, untuk sekolahpun dia hanya berpakaian
sesukanya karena alasan tadi sangatlah manjur ketika para Guru menanyainya.
“Yo gak
ngono, gaonok sing ngelirek kon i, kadaan gak payu payu opo (Ya bukan
begitu, gak ada yang akan melirikmu, pantas saja kamu gak laku laku )” ejek Ifan
yang tak pernah sadar bahwa keadaan dirinya sendiri persis seperti apa yang dia
katakan.
“Wes jok aken
omong kon i, nembak nirma tek tolak terus gak sungkan a? (Sudah
jangan banyak bicara, kamu juga nembak Nirma berkali kali ditolak terus apa gak
malu?),” ucap Agus yang membuat Ifan hanya tertawa, tak mampu membalas
pertanyaannya.
“Gak atek
nyek-nyek an, senasib ndewek i (Gak pakai saling mengejek, kita
semua senasib)” ujarku mencoba melerai pembicaraan mereka
Dalam
kebiasaan kami, menghina, mengejek atau mencaci adalah perbuatan yang
menunjukan keakraban suatu pertemanan, semakin sering kita berbuat demikian
maka tandanya pertemanan kamipun makin akrab. Meski begitu kamipun sering
tertawa bersama tanpa ada yang marah atau sakit hati.
Kaki kami
yang terangkat di kursi langsung turun seketika ketika melihat pak Samar,
Kepala Sekolah kami sedang lewat di depan kelas. Seperti biasa pak Samar sedang
mengawasi siswa siswinya yang barangkali kedapatan melanggar peraturan sekolah.
Setelah beberapa langkah melewati kelas kami lalu mengamati seisi kelas lewat
luar jendela bening kelas kami, beliau kembali dengan wajah agak muram. Dengan
langkah teratur beliau memasuki kelas berjalan melewati kami yang dengan cepat
menata tempat duduk, memakai sepatu dan merapikan baju yang amburadul.
Wajah kami
secara serempak mengikuti gerakan kaki beliau yang bergerak menuju bangku
belakang, kami lupa bahwa Mbah Wali sedang berasyik masyuk dalam mimpinya.
“Bblluk” suara
tepukan tangan pak Masdar dengan agak kencang mendarat di perut Mbah Wali, dengan
cepat ia langsung duduk dan merapikan
bajunya. Wajahnya tak berani melihat pak Masdar karena ketakutan, tangannya
menggerayangi peci yang kemudian dipakai untuk menutupi rambut kritingnya yang
berantakan.
“Tangi,
sekolah kok turu. Mule rono! (Bangun, sekolah kok malah tidur. Pulang saja
sana!) ”. ucap pak Masdar dengan membentak, beliau kemudian berjalan keluar.
Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana kiri, berjalan sambil sesekali membetulkan
kacamatanya, memang seperti itulah gaya beliau.
Melihat
kejadian itu aku, Ifan, Agus dan Achris hanya menundukkan muka sambil menahan
tawa yang terkadang keluar terpekik pekik, kemudian menggelegar ketika pak
Masdar sudah agak jauh. Dengan muka masih memerah menahan malu Mbah Wali
merapikan bajunya yang tak karuan, untuk kali ini dia gagal meramal dirinya
sendiri.
“Astaghfirullah
Mbah Wali, sekolah kok turu yo (Astaghfirullah Mbah Wali, sekolah kok
tidur)” ujar Agus, suaranya tak jelas karena bersamaan dengan tawan yang tak
tertahan, sementara Mbah Wali hanya tersenyum lalu berkata, “Asem gak onok
sing nangeni (Asem gak ada yang bangunin ).”
Untung bukan
aku yang tadi tidur di sana, sepertinya gangguan dari geng Temel kali
ini sangat membantu. Memang tidur ketika di kelas itu tidak baik, meski pada
saat jam kosong sekalipun, namun kami manusia-manusia yang tak tahan godaan,
kegiatan tidur masih terus berulang namun sekarang dengan tak tik yang lebih
aman. Kami bersepakat berjaga secara bergantian, ibarat bekerja kami berbagi
sif. Ada yang sebagian tertidur lalu sebagian lainnya mengawasi. Kami sangat
berhati hati, begitu juga Mbah Wali, dia mendapat kenangan tak terlupakan masa
sekolahnya. Kejadian yang mengalami Mbah Wali siang itu masih tersimpan diingatan
kami serta menjadi tranding topic di kelas kami selama berhari-hari.

Terus berkarya, good luck
BalasHapusMantap
BalasHapus😋
BalasHapus😂
BalasHapus😂
BalasHapus😂
BalasHapus