Puisi dan Patah Hati
Puisi dan Patah Hati
Ali Hamidi
Pagi itu terlihat sangat jenuh, matahari muram seperti wajah Rafi
hari ini. Belakangan gerak-geriknya menandakan tubuhnya tak sehat, dia tak mau
bergerak seperti kursi yang didudukinya. Kantung matanya menghitam, serta
pandangannya yang kosong persis seperti suasana hatinya. Kepalanya terkulai
miring di meja bangku, matanya terbuka tapi ia seperti orang pingsan, tak
peduli terhadap apapun yang di sampingnya.
Ulangan hari ini sangat bersejarah bagiku, ada perasaan senang dan
sedih bercampur jadi satu. Aku sangat senang karena peringkat nilai jelek tak
lagi menempel padaku, yang membuatku sedih adalah kenapa harus Rafi yang
menggantikan posisiku. Padahal ia biasanya peringkat satu dalam hal ini. Kulihat
kertas ulangannya tanpa jawaban apapun, hanya tertulis namanya ( Rafiuddin )
dan ada gambar wajah seorang perempuan cantik berjilbab panjang di belakangnya,
sambil sisi kiri gambar tersebut terdapat coretan agak besar “I miss you
Echa”. Aku hanya terheran ketika terdapat sepenggal puisi, empat tahun
berteman dengannya tak pernah aku lihat bakatnya sebagai penyair ini. Yang paling
kuingat dari puisinya yaitu dua baris pertama tulisannya persis seperti dialog
ketika Ajun Perwira merayu seorang wanita di film, “Pocong Juga Pocong”.
Cinta itu bagaikan kentut, ditahan sakit dikeluarin malu
Cinta itu bagaikan kentut, tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan
Kau pergi meninggalkan kaki
Yang tak sanggup berdiri sendiri
Kau pergi meninggalkan senyum
Yang tak punya alasan lagi
Kau pergi meninggalkan rindu
Yang kuhangatkan sebelum tidur
Hingga menjelang pagi
Manusia dengan tiba-tiba bisa menjadi sangat mahir berpuisi ketika sedang patah hati. Aku sangat prihatin melihatnya, dia yang
biasanya semangat dalam belajar dan peraih best student kini terdampar
lemas dalam sunyi, jika tak menulis atau menggambar dia akan murung seharian
hingga bel pulang berbunyi.
Saat itu peci yang dipakainya sebagai bantal sudah kempis dan kusut
sementara ia masih tak berdaya. Patah hati memang merampas segalanya. Terdengar
bisik-bisik segorombolan wanita bercampur tawa menyebar di setiap sudut kelas,
sesekali terdengar kata “Rafi” membuatku penasaran lalu diam-diam mendekat
menguping pembicaraan mereka. Aku sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya
sudah terjadi pada temanku yang satu ini.
“Kalian tahu kak Echa pacarnya Rafi?” ucap Ana meringankan suaranya,
“kakak kelas kita yang kelas 12 itu!. Sekarang dia sudah pindah ke sekolah lain
luar kota. Kemarin bersama kedua orang tuanya dia mengurus surat-surat pindah
sekaligus berpamitan kepada semua guru-guru” beberapa temannya hanya mengangguk-nganggukkan
kepalanya.
Ia melanjutkan ceritanya, “Aku melihat mereka berbincang di samping
kantor. Echa mengulurkan tangannya sambil menunduk, sementara wajah Rafi sangat
memerah tak karuan saat itu seperti menahan ledakan tangis. Setelah bersalaman
Echa langsung pergi mencangklong tas merah muda besarnya dan menarik sebuah
koper kecil, orang tuanya sudah bersiap dan menunggu di depan pintu mobil sambil
melambaikan tangan padanya, menyuruhnya cepat-cepat. Beberapa langkah kaki
menjauh dari Rafi ia sempat menolehkan pandangannya ke belakang menatap Rafi
dan berkata, “Sampai jumpa” lalu melemparkan senyum agak lama seperti menandakan
akan masa perpisahan mereka. Rafi hanya terdiam terpaku saat itu, langit yang gerimis
menambah suasana haru siang itu. Aku yang sedang mengambil buku tabungan di
kantor ikut bersedih, mataku berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata melihat
kejadian itu. Sekarang kalian lihat lah dia! beberapa hari seperti orang tak
punya nyawa.” ujar Ana di sampingku sambil jarinya menunjuk ke arah Rafi yang
melamun di bangku belakang.
Dengan rasa penasaran aku menyahut pembicaraan mereka, “Kalian tahu
kenapa Echa pindah?”.
“Yang kutahu kedua orang tua Echa menginginkan anaknya sekolah
sekaligus belajar di pondok pesantren, maka dari itu ia pindah ke Rembang untuk
meneruskan pendidikannya di sana. Parahnya lagi yang kutahu dari orang tua
Echa, disana tak boleh membawa handphone. Hanya sebulan sekali orang
tuanya dapat menelfonnya, itupun dengan cara menelepon pengurus pondok” ucap
Ana sangat yakin, karena dia tetangga Echa.
Mendengar pembicaraan itu aku hanya tergeleng-geleng meratapi nasib
yang dialami temanku ini. Penyakit ini sangat parah, akan sulit disembuhkan
meski dia digoda 17 bencong Thailand yang cantik. Dia tak akan sembuh. Rafi sangat
mencintai Echa sejak pandangan pertamanya di masa ospek SMA dulu, sudah dua
tahun mereka menjalani hubungan, menciptakan suasana romatis di sekolah kami. Membuat
kami iri bukan hanya setiap malam minggu namun setiap hari.
👍👍👍
BalasHapus😘😘😘😘
BalasHapus😘😘😘😘
BalasHapusBagus. Isi cerpen nya sudah menjawab pembaca yg bertanya2 akan judulnya...
BalasHapus