Bukan Kata-Kata

Bukan Kata-Kata
Ali Hamidi


Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan orang duduk


“Gus” langkahnya semakin mendekat.
“Agus” teriak Maulidiya makin kencang namun Agus tetap tak menoleh sedikitpun. 

Agus masih tetap menata gelas-gelas kecil hingga terjajar rapi untuk minuman para tamu. Malam itu acara pernikahan pak Ifan terlihat sangat meriah, mewah dan indah. Tatanan dekorasi terlihat sangat klasik namun tetap memiliki estetika yang menarik, terlihat dari pintu masuk hingga setiap sudut ruangan menyala kuning terang.

Semua mahasiswa Universitas Gresik khususnya Fakultas kedokteran turut hadir dalam undangan Pak Ifan selaku dosen di Uiniversitas tersebut. Para mahasiswa berbaju formal dan rapi namun Agus hanya memakai seragam catering bertulis “Cinta Rasa”.

“Sambil menyelam, sekaligus minum air” adalah peribahasa yang tepat untuk mahasiswa yang mandiri seperti Agus. Kesempatan ini ia gunakan selain untuk memenuhi undangan,  juga untuk ikut bekerja sebagai salah satu pelayan penyedia minum dalam acara tersebut.

Meski sebenarnya diminta  oleh pak Ifan untuk datang dan menjadi tamu spesial sebagai hadiah kepada mahasiswa cerdas kesayangannya, namun ia menolak tawaran itu dengan alasan ingin bekerja saja menjadi seorang pelayan dalam acara tersebut. Pak Ifan memahami alasan pemuda pekerja keras tersebut.

“Aguuuus” kini raut wajah Maulidiya memerah, alisnya hampir menyatu menahan kerut wajahnya. dia merasa keheranan pada sifat Agus yang kali ini tak seperti biasanya.
“Ayo, naik ke panggung. Tunjukkan suara emasmu pada para tamu” ajak Wafi sahabatnya, menarik paksa tangan Maulidya.

Agus hanya meliriknyanya sesaat, namun enggan menaggapi panggilan Maulidiya. Ia masih teringat akan rasa sakit hatinya setelah kemarin sepeda unta tua kesayangannya dihancurkan oleh Nafis dan gengnya. Mereka mengancam Agus, jika ia berani mendekati Maulidya lagi, maka nasib yang lebih buruk akan menimpa dirinya. Agus dan Maulidya memang sering bersama. Dari kebersamaan itulah yang menyulut kecemburuan Nafis. Mereka berdua mencintai wanita yang sama, akan tetapi Nafis memilih cara yang kotor demi keinginannya.

Sebenarnya tak ada rasa takut akan ancaman mereka semua bahkan bisa saja Agus menghajar habis mereka. Agus adalah seorang pendekar silat, akan tetapi kali ini jurus-jurus silat seakan tak berdaya mengingat Nafis adalah putra semata wayangnya pak Ifan, dosen yang kerap menolong Agus ketika menunggak uang semester, memberi keringanan biaya kuliah padanya hingga tak pantas jika berurusan dengan putra mahkotanya itu.

Disisi lain ia tak bisa berpura pura atau berlari menjauh terhadap Maulidya, hatinya memberontak tak menerima semua  itu.
“Agus! Habis ini ikut foto bareng ya?” teriak pak Ifan dari jauh melambaikan tangannya. Sudah dari beberapa menit lalu mahasiswa-mahasiswinya tak habis-habis meminta giliran foto.
“Iya pak”jawab Agus sembari melangkahkan kakinya. 

Baru beberapa langkah keluar dari barisan meja minuman, Nafis yang mendengar dialog itu dengan sengaja menjatuhkan beberapa gelas berisi minuman di meja ke lantai.
“Tiarrrrr..!” lantai rumah kini menjadi sangat kotor dan penuh pecahan kaca, untungnya para tamu undangan tidak begitu memperhatikan kejadian itu hingga tak ada kegaduhan yang terjadi.
“Tolong bersihkan ini sampai bersih” perintah Nafis dengan nada bicara kasar, telunjuknya  menunjuk letak pecahan gelas itu.

Agus yang terdiam menahan amarah tak bisa menolak perintahnya,setelah Nafis melangkah pergi sedikit demi sedikit ia membersihkan serpihan kaca itu.
“Aku bisa membuatmu”
“Jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku”
“Beri sedikit waktu, biar cinta datang karna telah terbiasa..”

Alunan musik berlirik indah Dewa 19 disenandungkan pelan seakan memaku pandangan para hadirin, wajah mereka kini menatap Maulidiya yang sangat cantik malam itu. Jilbab merah muda, berbaju hitam sangat selaras dengan dengan warna cokelat roknya. Suara merdu Maulidiya menghiasi suasana pengantin malam itu. sesekali mata Maulidya melirik Agus, dalam tatapannya masih tersimpan beribu tanya apa ada yang salah dengan dirinya.

Agus hanya dapat menikmati suara itu tanpa menatap apalagi berbicara padanya. Kini yang ada di otaknya hanya bagaimana cara memperoleh uang, bayar uang kuliah, meraih prestasi maksmal dan lulus dengan nilai sempurna. Suara langkah kaki dari belakang mendekati Agus.

“Gus Maulidiya cantik ya?” canda Aldi yang mengetahui kondisi sahabatnya itu. Ia membantunya menyapu serpihan kaca.
“Ðari dulu” balasnya singkat mengambili serpihan kaca lalu menaruhnya di keranjang.
Aldi tersenyum,“Lalu tidakkah kau ungkapkan perasaanmu itu? Tak takut kau didahului Nafis” Tanya Aldi menantang.
“Ketika aku lulus nanti, aku akan melamarnya” jawab Agus sambil melirik penuh makna.
“Kau lihat di sana, Nafis sedang merayunya di atas panggung?” ujar Aldi, tangannya menujuk ke atas panggung yang penuh sorakan.
“Cinta bukan kata-kata” tegas Agus malam itu.

Bagi Agus pendidikan adalah sebuah tujuan awal baginya ketika pertama merantau di kota dulu. Ia tidak boleh menyampingkan tujuannnya itu, apalagi kebanggaan orang tua merupakan titik besar alasannya menuntut ilmu, ia juga sangat yakin bahwa urusan cinta pasti akan ada masanya sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077