Wanita Pemegang Dahi

Wanita Pemegang Dahi
Oleh : Ali Hamidi





“Kenapa tak dimakan dengan bungkusnya sekalian?” Ucap Rafi dalam hatinya. Pagi itu ia sedang menyapu sekaligus menata bangku di kelasnya. Hatinya agak geram perihal sampah yang berserakan dimana-mana. Jabatan seksi kebersihan kelas membuatnya menjadi seorang pawang kebersihan yang bertanggung jawab menjaga keasrian kelasnya.

Setelah semua sampah tersapu dan terkumpul dalam tong sampah besar dengan tinggi seukuran perutnya, ia mulai meletakkan posisi jari-jarinya agar dapat mencengkram dengan keras. Matanya melotot serta otot tubuhnya yang kaku menyadari bahwa betapa beratnya tong tersebut, apalagi dia harus menuruni tangga empat lantai untuk turun menuju ke gerobak sampah di bawah. Berat tong sampah itu membuatnya harus berjalan sedikit demi sedikit untuk beristirahat dan mengambil nafas.

Matanya hanya memandang ke bawah, kini ia memeluk erat tong itu dan berjalan menuruni tangga dengan perlahan,  ketika telah menuruni tangga dan melintas di depan kantor, di tengah langkahnya terdengar suara “Jdukk” seperti ada sesuatu yang menabrak tong dari arah samping kanannya,  sontak saja keseimbangannya terganggu kemudian tong sampah itu terpelanting ke depan, untung saja tong itu mendarat dengan sempurna hingga hanya beberapa sampah yang terjatuh dan dengan cepat Rafi  memasukkan kembali sampah-sampah yang berserakan itu ke tong sampah lagi.

Ia menoleh kesebelah kanan melihat seorang wanita yang memegangi dahinya lalu berkata, “Mas, kalau jalan lihat-lihat!” suaranya meringis kesakitan, tangannya memegangi dahinya yang tertabrak tong sampah akibat jalannya yang merunduk mengangamati buku bacaannya.
“lho tapi yang nabrak kan sampean, kok malah nyalahin saya” bela Rafi yang berdiri membersihkan baju dan celananya.
“Dasar, sudah salah tidak mau minta maaf!” ucap wanita berkaca mata itu sambil menatapnya tajam.

Dengan tergesa-gesa wanita pergi berjalan meninggalkan Rafi sambil tangan kanannya masih memegangi dahinya yang mungkin masih kesakitan. Rafi yang masih terdiam tidak begitu memandang seperti apa wajah wanita itu, hanya yang ada dalam pandangannya wanita agak pendek, berkaca mata sedang membawa tas agak besar dan beberapa buku di tangannya. Ia lalu kembali mengambil ancang-ancang lagi untuk membuang sampah sebelum bel masuk jam pertama berbunyi.

Ketika isi tong itu di tuangkan ke dalam gerobak, sebuah buku merah muda jatuh di hadapannya. Posisi buku yang terbuka membuat Rafi penasaran dan mengambilnya. Matanya memandangi soal-soal biologi yang beberapa diantaranya masih kosong, tepat di pojok atas halaman itu terdapat tulisan “Dikumpulkan 18 maret 2017,” tepat hari ini.

Ia membawa buku itu ke kelas, pasti buku itu milik wanita tadi, mungkin ketika istirahat nanti ia akan mengembalikan buku itu.
Suasana kelas sudah mulai ramai para murid telah menyelesaikan jam istirahatnya, waktu masuk pelajaran ke tiga setelah istirahat siang tinggal beberapa menit lagi sementara Rafi masih belum menyelesaikan soal tersebut. Rafi memang siswa yang pandai, dia tidak bisa melihat soal yang kosong tanpa jawaban, apalagi soal itu tentang pelajaran kesukaannya. Sesekali matanya memandangi jam di depan kelas sambil tangannya yang tetap bergeriliya menjawab soal-soal biologi di buku merah muda itu.

“Selesai” ucapnya agak keras, suaranya bersamaan dengan suara bel masuk istirahat.
“Raf, mau kemana? Sebentar lagi masuk, ini pelajaran pak Baidlowi nanti kamu di hukum lho kalau terlambat.” Ujar Didin mengingatkan.
“Iya, aku mau mengembalikan buku dulu” jawab Rafi kemudian berjalan menjauhmeninggalkan kelas.
Dia memandangi lagi buku itu untuk memastikan dimana kelas pemiliknya, buku berwarna merah muda dan bergambar boneka itu bertuliskan ( Mifroh Laili, XII A). Seperti yang diketahui Rafi kelas ini berada di bawah gedung ujung kiri dekat kantor sementara kelas Rafi adalah XII E, lantai empat paling atas. Akan butuh waktu lama untuk sampai ke sana, tapi mau bagaimana lagi dia sudah terlanjur pergi meninggalkan kelas, terlambat sedetik atau satu jam bagi pak Baidlowi adalah sama saja.
Setelah sampai di depan kelas XII A, Rafi melihat seorang wanita sedang berada di luar kelas, iya, itu pasti wanita berkacamata yang menabraknya pagi tadi. Terlihat tangannya kanannya masih memegangi dahinya.
“Permisi, apa ini bukumu?” tanya Rafi sambil menyodorkan buku merah muda itu.
Melihat buku itu mata Mifroh melotot lalu berkata, “Kok bisa di kamu? Ini buku tugasku”.
“Maaf, mungkin tadi aku tak sengaja meletakkan bukumu di tempat sampah ketika terjatuh tadi”. Jelas Rafi, “Aku pamit dulu dan maaf atas kejadian pagi tadi”.
“Iya, terimakasih juga sudah dikembalikan bukuku. Namamu siapa?”.
“Rafiuddin, kelas XII E. Kamu Mifroh kan?”

Mifoh hanya tersenyum. Entah apa yang terjadi pada Rafi, ia tak seperti biasanya. Baru kali ini dia gugup tak karuan ketika berhadapan dengan wanita. Seingatnya kemarin-kemarin tak ada masalah mental pada dirinya.

Rafi berpamitan meninggalkan Mifroh yang juga berjalan masuk kelsnya. Hati rafi berbunga-bunga entah kenapa, yang jelas ketika berada di dekat Mifroh dia merasa hatinya cerah, sejuk dan perasannya tidak menentu. Dari lantai bawah sampai atas di kelasnya ia hanya senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras.

Mifroh yang membolak-balik bukunya merasa heran dan takjub. Bagaimana tidak, semalam ia bergadang mengerjakan soal yang sulitnya setengah mati namun hanya bisa mengerjakan beberapa nomer saja, tetapi kini tugasnya sudah terisi semua.

“Teman-teman pak Baidlowi dapat mangsa tuh!” teriak salah seorang teman Mifroh sambil menunjuk kelapangan.

Mifroh terkejut karena melihat Rafi berada di tengah lapangan mengangkat sebelah kaki dan berkalung tasbih besar seukuran biji salak. Pak Baidlowi biasanya menghukum murid yang terlambat dengan dijemur di siang hari, rasa bersalah menyelimuti hati Mifroh karena pasti Rafi terlambat karena mengembalikan bukunya tadi.

Ia berjalan ke teras kelas sebelah yang searah lurus dengan posisi Rafi yang berdiri di tengah lapangan. lalu Mifroh berteriak, “Hai mas tukang sampah, maaf ya?” Mifroh tersenym memandanginya.

“Iya, tidak apa-apa. Dahimu cepat sembuh ya” canda Rafi membalas pertanyaannya.
“Haha,gak kepanasan?” Tanya Mifroh.
“Senyummu perteduhanku” Ucap Rafi menggodanya.

Mifroh tertawa dan memegangi dahinya lagi, mereka saling melempar senyum, Rafi tak bisa menahan luapan perasaannya, terutama ketika Mifroh tersenyum manis memandangnya, angin segar merasuki sel-sel tubuhnya hinga tak terasa sinar matahari yang membakar kulitnya. Yang Rafi tahu hanya senyum Mifroh telah lebih dulu menyinari hatinya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077