Lima Pertanyaan, Lima Jawaban



Lima Pertanyaan, Lima Jawaban

[Puisi] Rembulan Menjelma
 https://www.idntimes.com/fiction/poetry/bagas-satya-l/kumpulan-puisi-c1c2-19

Mulutnya masih berkomat kamit menghafal. Beberapa suara semilir angin, irama dedaunan, bisikan jangkrik bahkan Saiful, yang sedari tadi memangngil manggil namanya tetap ia acuhkan. Malam sangat cepat berlalu, langit gelap serta gugusan bintang yang tersusun seakan menunjukan jalan bagi Badrun dan kawan kawan setelah usai mengaji. Mushollah Ar Rahman cukup jauh dari pesantren, butuh 20 menit para santri Baitul Ilmi untuk kembali ke kamar pesantren masing-masing.

Sebentar lagi masa belajar di pesantrennya selesai, hanya sebulan ia diizini belajar di situ. Maka saat sekolahnya mulai memasuki ajaran baru, ia harus pulang. Sangat asing bagi Badrun ketika memasuki pesantren, ia tak pernah memiliki pengalaman di lembaga itu. Sekalinya ikut pesantren kilat, baru tiga jam. Hanya tiga jam ia betah. Selanjutnya ia melarikan diri kembali pulang, dengan alasan tak betah. Mana bisa rasa tak betah datang dari tiga jam awal.? Ia membantah, katanya seperti sedetik pertama bertemu wanita, kau memutuskan ia cantik atau tidak menarik perhatianmu sama sekali.

Ada yang aneh dengan ketidakpunyaan pengalaman tentang pesantren, dari beberapa pagi, siang dan malam yang ia gunakan untuk ikut mengaji, hanya satu yang membuatnya terhipnotis. Tunduk hatinya, ia seperti patung yang sedang dibelai angin, seperti bunga yang sedang disirami air. Tunduk dan tenang hatinya, keika Kyai Walid berbicara mengenai tafsir Al-Qur’an.

Bagi pecinta sastra sepertinya, ada yang indah dalam Al-Qur’an. Ketika satu ayat yang pendek memiliki tafsir dan makna yang sangat dahsyat. Membuatnya menyelam, ingin menyelam lagi lebih jauh, menggali arti arti yang ada dalam ayat tersebut. Tenanglah ia, hikmat mendengarkan. 

“Ushlub” ucap Kyai Walid  sambil matanya melihat ke langit langit, tatapannya menggambarkan keindahan yang teramat tinggi dan luas, senyumnya mengundang ketakjuban, irama suaranya tertekan menggambarkan keistimewaan. Kyai Walid menambahi, ” ushlub merupakan salah satu istilah (seni) dalam Al-Qur’an yang dalam makna beberapa susunan kata memiliki kekuatan ketika sampai kepada sasaran (pendengarnya)”.
Badrun berpikir, ”Bukan main” sambil menggeleng geleng kepala. Saiful terheran ”Ono opo Drun?”
“Lihatlah keajaibannya. Sifatnya seperti sastra puisi, yang kalimatnya singkat tapi memiliki makna, cerita, rasa dan suasana di dalamnya. Tapi tidaak!. Ini bukan sastra biasa, tak dengarkah kau Kyai walid tadi? Kata Bismillahirrahmanirrahim saja, sampai kita mati tak akan selesai mengungkapkan tafsirannya.” Saiful hanya terdiam mengangguk ngangguk, tapi sama sekali tak paham ungkapan pemikran sastrawan ulung teman sekamarnya itu.

Pengurus bagian keamanan mulai melambai lambaikan tangan, tanda para santri harus bergegas kembali. Jam tidur mungkin sudah menanti. Badrun masih acuh, mulutnya masih komat kamit, kepalanya menunuduk, matanya terbuka tapi tak mengawasi sekelilingnya. Ia membuka catatan di buku kecil kesukaannya, terdapat tulisan puisi, cita cita atau sebuah kalimat yang tak sempat ia pikirkan judulnya. 

Sesekali masih teringat sisa sisa ngajinya malam ini, besok ia pulang. Ini ngaji terakhir sementara ia masih memiliki pertanyaan dalam benaknya. Rasanya ada yang ingin ia tanyakan kepada Kyai Walid, tentang ngaji tadi, tentang apa yang ia alami, tentang hubungan antara pertanyaan yang ia tulis ketika beliau berbicara. Ia menulis lima pertanyaaan, yang menghantuinya sebab jika tak bertanya, esok ia akan kembali dengan hampa dan sia sia.
Malam ini, harus malam ini. Tekad Badrun sudah membulat, ia akan bertanya pada Kyai Walid malam ini juga, apapun yang terjadi.
..
..
..
Kita tak butuh jawaban, tapi butuh berpikir.

Kalau yang namanya Sabar itu hanya dampak dari kejadian tak mengenakkan, berarti sabar kita adalah akibat dari sebab yang telah terjadi?
Kyai Walid tertawa, semenit masih sunyi tak ada percakapan apa apa.
"Apakah zuhud itu kyai? padahal ada juga orang kaya yang baik hati. Miskin yang pelit, banyak pula"
"Bagaimana bisa shodaqoh itu bertambah? Padahal materi yang diberi itu berkurang?"
"Aku juga sedang jatuh cinta kyai" Badrun agak gugup, malu. "Apa aku harus mendatangi yang ku cintai? Atau cukup berdo'a saja?"
Kyai Walid menyeruput kopinya, beberapa kali. Mengangkat cangkir kopi dengan hati hati, tubuhnya harum, berbusana serba putih. Menyala. Tubuhnya yang bersila masih menggambarkan perawakan yang besar dan tinggi, berambut panjang dan berjenggot tanggung, penuh wibawa dan sifat seperti Ayah yang mengayomi. Kyai menghela nafas sejenak, menatap mata Badrun yang bertanya bertubi tubi. Sambil tersenyum sedikit mengambil ancang ancang untuk menjawab.
"Begini le" suasana sepi sejenak.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu satu per satu. Sebenarnya bukan aku, aku mengarahkanmu pada sesuatu yang menjawab. Apa kau mau mendengarkan dengan teliti?
"Nggeh Kyai"
"Itu jawaban pertanyaanmu yang pertama. Sudah, kau yang mengalaminya"
Badrun bingung, bahasa Kyai amat tinggi untuknya,"Saya masih tak paham Kyai"
"Jawaban Nggeh-mu adalah kesabaran, itu bentuk kesabaran dan ketundukan. Sabar itu sifat yang kita miliki, ia teman dari keikhlasan. Sabar dan ikhlas adalah makan dan minum, matahari dan bulan, siang dan malam. Tak bisa berdiri dengan alasan akibat. Ia sebab akibat dengan keikhlasan." Pak Kyai menjelaskan, Badrun masih memahami.
"Kau cuma butuh prakek, seperti sikap ketundukanmu tadi" tambah Kyai.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Al Baqarah : 153

Suatu suara menjejali telinganya, merdu sekali. Kyai melantunkan ayat suci. Mata Badrun tertunduk mencoba mengartikan bunyi ayat.
"Sholat dan sabar merupakan penolong kita, barangsiapa yang sholatnya menemukan hakikat sholat, maka hilanglah darinya perbuatan maksiat dan barangsiapa yang sabar dengan sebenar benarmya sabar, Allah SWT bersamanya. Dan keduanya adalah perbuatan  yang sangat, sungguh berat, kecuali kau menjadi orang yang khusyu" keduanya lalu terdiam, saling memahami.
..
..
"Kau lahir ke sini membawa apa" tanya Kyai. Badrun terdiam bodoh, mulutnya ternganga hendak njawab, namun Kyai bertanya lagi,"Kalau mati mau bawa apa?"
"Tidak ada Kyai" jawab Badrun seketika.
"Lha kok sok sok mau zuhud dari materi, memang kita punya apa. Yang namanya ( aku) saja tidak ada. Diri kita saja bukan milik kita" jelas Kyai. Bahasanya masih tinggi.
"Zuhud itu hatimu, bukan duniawimu. Memang kau merasa punya apa di dunia ini Drun. Perkara kecil pun ada yang mengatur. Kau hanya perlu sadar bahwa kau tak punya apa apa, semua milik Tuhan bahkan diri kita, itu baru Zuhud" Badrun mendangakkan kepalanya. Ia bertengak tengok aneh. Tempatnya kini bukan seperti tadi. Namun berada di atas sebuah gedung, entah gedung apa ini, ia tak tahu. Bahkan tempat gelap pertama bertemu Kyai tadi ia pun tak tahu. Sekarang hanya langit hitam di kanan kirinya. Hanya ada Pak Kyai di depannya.
"Kau tak perlu melihat kanan kiri Drun. Dunia hanya angin yang hanya memberi semilir sementara. Ada yang lebih kekal dari dunia, dan karena itu hatimu harus berpaling"

وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’lâ: 17)

“Sedekah yang  bertambah? aku curiga hanya untung dan rugi yang kau pikirkan Drun. Sebenarnya ketika kau bersedekah bukan materi yang bertambah, ibarat ketika air dalam gelas berkurang maka Tuhan akan mudah menambahinya. Ini bukan soal materi Drun, sekali lagi ini keberkahan, rezeki, perasaan kepuasan dan kebaikan yang tak kasat mata Drun"

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Al Baqarah 195
Siapa yang kau cintai Drun? Benarkah cintamu itu?"
Badrun berwajah merah seketika, ia malu. Sangat malu untuk menjawab.
“Kau tak perlu menjawab, tak apa” Kyai tau isi hatinya dari tadi. Badrun tak mau bertanya tentang keanehan ini. Ia takut. Takut salah, takut tak mendapat lima jawaban dengan tuntas.
“Kalau kau menyukai bunga kau akan memetiknya dan membawanya pulang. Kalau kau mencintai bunga kau akan merawatnya, menyiraminya, membiarkannya tetap hidup. Cintailah yang abadi. Atau cintailah sesuatu dengan alasan dzat yang Maha Abadi itu.” Sekali lagi Badrun harus berpikir keras. Bahasa Pak Kyai perlu pemahaman lama.
Badrun mengangguk anggukan kepala, terakhir jawaban yang dinantinya hampir usai.
“Do’a saja Drun. Allah dekat dan mendekatkan. Maha Mendengar dan selalu Mendengarkan”

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang  Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Al Baqarah 186



Badrun merasa cukup dengan lima pertanyaannya. Ia memandangi Kyai yang tersenyum. “kalau sudah kau temukan lima pertanyaanmu lihatlah ke bawah”
“Bagaimana dari tadi Kyai tau isi hati saya?” Badrun bertanya tanya.
 Ketika ia melihat ke bawah seketika itu pula ia terjatuh dari gedung  itu. Bangunan yang ia duduki tadi menghilang, jatuhnya cepat sekali. Ia hanya sempat melihat pak  Kyai masih mengambang bersila di atas langit.
“Bluk!!!”
Bantal mendarat di wajahnya. “Bangun Drun. Subuh” Adzan berkumandang. Saiful membangunkannya. Bergegas. Badrun berdiri berwudhu sambil kepalanya menyisakan berbagai pertanyaan keheranan mungkin juga ketakutan. Mimpi.
Esoknya ia hendak pamit. Kyai tak ada di ndalem hanya beberapa pengurus pondok yang berjaga, ada Bu Nyai dan dua anak perempuan Kyai di rumah. Tampak tak ada tanda tanda Kyai Walid di sana. Terpaksa ia hanya bisa berpamitan dengan Bu Nyai dan pengurus pondok saja, setelah berkemas seusai sholat subuh tak lupa pamit Saiful dan teman temannya. Agak mengganjal ketika berbicara bahwa ia titip salam ke Kyai walid, Bu Nyai dan semua pengurus memasang wajah keheranan. Tak ada yang menjawab.
Badrun sangat ingin bertanya tentang kejadian, mungkin lebih tepat mimpinya semalam. Tapi pada siapa? Pak Kyai. Malah dia akan terlihat aneh. Sebelum melangkah ke luar dari gerbang pondok ia menoleh ke belakang sejenak, mungkin sebenarnya ia tak perlu jawaban atas pertanyaan tadi. Bukankah kejadian semalam, lebih tepatnya mimpi itu  telah menyimpulkan bahwa kita terlalu banyak bertanya tapi enggan berpikir. Hingga kita hanya terdiam pada pertanyaan pertanyaan yang bahkan tak perlu dijawab atau bahkan tak ada jawaban lagi.
Pak Kyai hanya tersenyum namun senyumnya masih dirindukan para santri santrinya. Hari ini hari Jum’at tepat dua tahun lalu ia meninggal. Masih tersisa isak kerinduan di mata santrinya. Kyai Walid. Seorang Kyai yang selalu dirindukan seluruh santri Baitut Ilmi....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077