Hujan

Hujan 
(pengertian dan prosesnya)

Umat manusia diberi oleh Allah sebuah pedoman dan petunjuk hidup agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup. Bukan hanya soal membaca dan mengkaji ayat ayat Al-Qur’an, di dalamnya juga terdapat amalan amalan untuk menghayati alam semesta sebagai salah satu ciptaan dan bukti Maha Hebatnya Tuhan. Dengan lebih dekat dan lebih memahami alam, maka manusia semakin sadar akan kekuasan Allah SWT, dengan mengenali “tanda-tanda”nya. Akan tetapi jika berbicara mengenai ayat ayat Allah SWT (Al-Qur’an) maka kita juga harus mengetahui bahwa ada juga ayat ayat yang terdapat dalam alam semesta yang disebut ayat kauniyah.

Keduanya saling melengkapi, tidak diragukan lagi penemuan penemuan mutakhir baik berupa teknologi, bidang kesehatan dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya  telah dijelaskan dalam Al-Quran 14 abad yang lalu. Adanya petunjuk tersebut tidak lain demi menjamin kemaslahatan umat manusia dan membantu manusia itu sendiri jika setiap generasi mengambil petunjuk dari ajaran-Nya.

Berbagai aspek kejadian, proses, atau elemen alam adalah ayat ayat kauniyah, namun akan terdapat salah satu tema yang akan dibahas dalam makalah kali ini tentang kejadian alam berupa hujan.

Hujan dalam KBBI berarti titik tiik air yang berjatuhan dari udara kerena proses pendinginan. Mungkin sejak kecil kita tahu dan sering melihat hujan, namun sedikit sekali wawasan kita tentang hujan baik dari awal mulanya atau bagaimana Al-Qur’an sendiri menggambarkan keajaiban hujan menjadi salah satu ciptaan terindahnya.

Sepertiga zat di bumi ini adalah air, air memiliki tiga fase (gas, cair, padat). Semua transformasi air dalam bentuk fasenya disebut hidrologi.  Air mengalami proses penguapan melalui sumber mata air seperti danau, laut atau hasil tranpalasi tumbuhan, uap air jang ada di lapisan atmosfer dibawa oleh angina hingga jauh, menjadi dingin kemudian turunlah titik tikik air sebagai presipitasi (Hujan atau salju).


 Sebagian besar air yang jatuh tersebut akan kembali ke laut sebagai muara alirannya, sisanya yang jatuh di tanah akan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup juga menjadi cadangan air tanah.

Secara ilmiah hujan merupakan proses kondensasi uap air pada atmosfer yang merubah menjadi butir air untuk jatuh dan tiba di daratan. Siklus hujan diawali dengan keadaan sinar matahari yang panas menyebabkan terjadinya evaporasi [perubahan zat dari cair ke uap]

Sumber sumber air seperti laut, sungai serta sumber air lainnya mengalami penguapan.  Uap air tersebut akan naik ke langit lalu mengalami proses kondensasi.[ perubahan zat dari uap ke air, terjadi di atmosfer langit]

Tinggi suhu udara membuat titik embun semakin banyak dan berkumpul memadat, terciptalah awan. Kemudian karena ada perbedaan tekanan udara (angin).

Dibawalah awan yang berisi butir butir air itu ke lokasi yang suhunya lebih rendah. Setelah berkumpul banyak jadilah warna awan menjadi kelabu, dikarenakan partikel yang dibawa sudah menumpuk. Dengan ukuran diameter 0,5 milimeter sampai 0,02 inci tidak semua air hujan dapat menyentuh tanah, ada juga yang kembali ke awan. Hujan yang tak sampai .ke daratan


Hujan dalam Tafsir Al-Qur’an surah An Nur 43

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ

“Tidaklah kamu lihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara bagian bagiannya kemudian menjadikannya bertindih tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah celahnya dan Allah (juga) menurunkan butiran butiran es dari langit (yaitu) dari gumpalan gumpalan awan seperti gunung , maka ditimpakan-Nya (butiran butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat itu hampir hampir menghilangkan pengelihatan.” QS An nur 43.

Dalam tafsir al misbah karya M Quraisy shihab, ayat ini bertujuan untuk menguraikan kekuasaan Allah SWT, kandungan tafsir ayat tersebut juga disinyalir telah mendahului pemikiran ilmuan modern tentang proses atau fase pembentukan hujan, disebutkan bahwa awan yang menjadikan hujan disebut awan kumulus.

Bentuk awan tersbut seperti onggokan (timbul ke atas) dengan puncak mencapai 15 sampai 20 kilometer. Ada tiga fase ilmu modern dalam membagi fase hujan : 1) Koherensi dan pertumbuhan 2) penurunan hujan 3) penghabisan.

Adapun dalam bentuk kekuasaan dan ciptaan-Nya, Allah SWT juga menyebutkan adanya kilatakibat gesekan gesekan awan karena itu kata sana berarti kilauan kilat.

Hal tersebut juga berkaitan dengan surat Al-Baqarah yang konteksnya adalah ancaman kepada seorang yang mengaku muslim tapi mereka kufur (munafik) maka makna tersirat dari yakhthafu (menyambar) berupa siksaan.

Kilat sering terjadi berturut turut juga berkisinambungan, sekitar peengosongan aliran listrik dalam satu menit dengan cahaya yang amat terang dapat membutakan mata bagi yang melihatnya. Kasus tersebut sering terjadi pada pelaut atau penerbang yang menembus angin berguruh di daerah yang panas, demikian tafsir Al-muntakhab.

Dalam tafsir Al asraar terdapat penjelasan lebih ilmiah tentang awan dengan lebih detail. Hujan bermula dari awan yang ditiup angin (QS 7:57, 30:48, 35:9), sedangkan awan adalah uap air yang mengembun setelah melewati masa titik jenuhnya di udara.

Pada tahun 1894 komisi cuaca internasinal membagi bentuk awan menjadi empat pembagian awan, diantaranya adalah :
Awan tinggi  (sirrus, sirostratus, sirocumulus)
Awan sedang (altocumulus, altostratus)
Awan rendah (stratocumulus, stratus, nimbostratus)
Awan vertical (cumulus/cumulonimbus)

Dalam tafsir ini, awan yang paling mendekati dalam proses menjadi hujan adalah jenis awan cumulonimbus, digambarkan awan tersebut terdapat butiran es sebagai hujan es, yang keluar dari gumpalan awan yang bertindih tindih, berkumpul, besarnya seperti gunung setinggi lebih dari 10 km.

Sementara awan terjadi karena gesekan dan cahaya terangnya dapat membutakan pengelohatan manusia.

Dari kesimpulan tafsir al asraar terdapat beberapa kesimpulan mengenai fase hujan : Allah mengarak awan, mengumpulkan antara bagian bagiannya, menjadikannya bertindih tindih, keluar dari celah celahnya dan terakhir menurunkan hujan. Namun oleh ilmuwan disingkat menjdi tiga fase ; bahan baku naik ke udara, awan berbentuk dan hujan terlihat.

Prilaku manusia akan menjadi respon bagi alam sekitar, karena sejatinya alam semesta termasuk bumi seisinya diciptakan agar manusia sebagai khalifah dapat menjadikannya bermanfaat dan agar kemaslahatan hidup umat manusia dapat terjamin. Semua ciptaan Allah tidak ada yang sia sia, selagi manusia dapat merenungkan tanda tanda kekuasaannya.

Manfaat hujan bagi kehidupan manusia
Air merupakan sumber kehidupan terpenting bagi seluruh makhluk hidup, sepertiga lebih tubuh manusia beisi air. Apabila tidak ada air atau tidak ada hujan maka hewan dan tumbuhan tidak akan bertahan hidup, tak lama kemudian makhluk hidup di dunia akan punah seketika.

Bagaimana bisa air turun dari langit secara serta merta? Bagaimana bisa air itu segar tidak asin, hinga bisa di minun menghilangkan haus serta dapat menumbuhkan tumbuhan? Siapa dibalik semua itu?. Maka sangat rugi orang yang lupa bersyukur, buta akan tanda tandanya atau kufur terhadap nikmatnya
An nahl 10-11

{هُوَ الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ (10) يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (11)
“Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kalian, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kalian menggembalakan ternak kalian. Dia menumbuhkan bagi kalian dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan”

Diantara manfaatnya hujan dalam Al-Qur’an ialah :

Air tawar untuk minum, ”Dan kami jadikan padanya gunung gunung yang tinggi dan kami beri minum kamu dengan air tawar”  QS Al Mursalat : 27

Mengairi dan menghidupi tanah yang mati, “Dia-lah yang meniupkan angina sebagai kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih” Al-Furqan 48

Penyubur tanaman,”Dan kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu kami tumbuhkan dengan air itu pohon pohon dan biji biji tanaman yang dipanen:” QS Qaf : 9

Unsur penting makhluk hidup,”Dan apakah orang orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu dulunya suatu yang padu kemudian kami pisahkan antara keduanya dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada mau beriman” QS Al Anbiya : 30

Dan manfaat lain seperti :
Menghilangkan bau amis, pengejutan system syaraf tubuh, menyiram tanaman, menopang tubuh, sumber tenaga listrik, mengurangi konsumsi air tanah, kelestarian hutan, mencegah kekeringan, bahan utama membersihakan diri dan seterusnya.

Kesimpulan :
Dari pernyataan ilmiah tentang fenomena alam dan Al-Qur’an, terdapat fase tentang proses hujan yang telah dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu. Penemuan mutakhir dan kajian ilmiah zaman akhir ini, menguatkan dan membuktikan bahwa memang Al-Quran adalah pedoman umat yang kompleks. Adanya tulisan ini diharapkan agar ketika seseorang melihat hujan, yang mereka ingat bukan kenangan atau jemuran melainkan tentang rahmat Tuhan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan semakin dapat menemukan kkuasan Allah di setiap ciptaan-Nya.


DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M. Quraish, 2012. Tafsir al-misabah. Jakarta: Lentera Hati.
H. Asrari. 2017. “Tafsir Al Asraar”. Yogyakarta : Kaukaba.
Arfan, Abbas. 2009. Ayat Ayat kauniyah. Malang:UIN-Malang Press.
Evi Heryani, 2019.”Fenomena hujan dalam Al-Qur’an”,Skripsi. Ilmu Al-Qur’an dan tafsir, Fakultas UShuluddin dan dakwah, Institut Agama Islam Curup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077