Takut Kualat
Takut Kualat
Ali Hamidi
:fill(ffffff)/http://static.id.zalora.net/p/baellerry-7334-9471512-1.jpg)
Foto ilustrasi: Google
“Kau
tahu kenapa bangsa kita tak pernah maju?” ia berteriak ke arahku.
“Mereka
yang mengatur itu serakah, penakut, ambisius, hedonis!. Lihatlah anak muda,
siswaku harapanku, tak salah kau sekolah di sini. Cepat sini duduklah”
Aku
duduk dihadapannya lalu menyerahkan selembar surat.
“Ketahuilah
alangkah indah visi misi sekolah ini Nak. Hafalkah kau?”
“Belum
Pak.”
“Akan
kuusulkan kepada sekolah agar pertanyaan Apa
visi misi sekolah kita tercatat di ujian akhir sekolah nanti.”
Aku
takut kualat tapi ketika melihat ekspresinya membaca surat yang kubawa, aku
ingin sekali memotret dan menjadikan foto itu model kalender 2021.
Seorang
guru yang kepalanya botak bersih seperti lampu taman itu tak suka memakai peci,
kalau sudah datang membuka pintu, maka peci hitamnya yang menutupi semacam
aurat tak resmi itu tergeletak di meja. Aku takut kualat jika menggambarkan
dirinya secara jujur, namun ekspresi paling kuingat raut wajahnya yaitu ketika
sedang membaca, bibirnya maju dengan otomatis sekitar dua senti, matanya
menyipit dan kacamata bundarnya turun. Aku takut kualat kalau kubilang
ekspresinya tak layak dipandang oleh anak-anak dan ibu hamil. Dan juga orang
yang bermasalah pengelihatan sebab takut memperparah keadaan.
Kusarankan
Kawan jika membeli kacamata, usahakan yang bening dan nampak dilihat oleh lawan
pandang. Sedikit kasus namun terjadi pada guruku ini, dimana 30 menit lebih
kami menatap beliau, lalu saling tatap dan betanya pada diri sendiri, kenapa ia
tak kunjung bergerak. Beberapa detik kemudian dengan agak terkejut beliau
membuka kacamata gelapnya lalu bilang,”Maaf sampai mana saya tadi”. Beliau tertidur
begitu pulas bersender di kursi empuk dan kami tak bisa melihat sebab matanya
tertutup kacamata gelap itu, bagian mengesalkan dimana ia bertanya sampai manasaya tadi padahal membuka
kelas saja belum. Aku takut kualat jika menyebutnya memiliki penyakit aneh,
dimana suatu hari nanti ada slogan dilarang tidur sembarangan jika penyakitnya
itu menular.
Bukan
Indonesia jika pemerintah, pejabat, pekerja dan rakyat tak aneh-aneh. Aku takut
kualat jika berburuk sangka tapi ada yang aneh dengan guruku itu, selain tenaga
pengajar ia juga menjabat sebagai Kepala Tata Usaha yang mengetahui tentang
seluk beluk administrasi di sekolah.
Suatu
keadaan yang dialami Negara kami saat ini yaitu diserang sebuah pandemi virus
yang mendunia, televisi, koran dan media lain memberitakan keluhan tentang biaya
kehidupan tapi memendam sangat dalam keluhan tentang pendidikan. Orang-orang
kurang mampu sepertiku harus melawan kejamnya anak keturunan setan yang biasa
kami sebut SPP, konon meski kegiatan belajar mengajar diganti dengan metode
daring, anak setan si SPP itu tetap akan datang dan membuat perhitungan penuh
terhadap kami.
Ibuku
yang pendiam menulis surat untuk aku berikan pada Kepala Tata Usaha agar
menjadi pertimbangan dalam keringanan pembayaran, secara ringkas aku harus
berhadapan dengan guru yang kuceritakan di awal tadi Kawan.
“Mmm,
pemotongan SPP ya” ia menaruh surat dan memandangku.
“Kau
tahu Imam Nahrawi, Menteri Olahraga yang sekarang suka berpeci itu terjerat
korupsi 26,5 Milyar Nak!!!. Bahkan untuk membeli bakso, bisa tenggelam desa kita
kena kuahnya saja dan juga Setya Novanto yang dulu wajahnya memenuhi berita
itu!. 2,3 Triliun uang korup itu, jika mengalir di desa kita, tak akan kau temui
para nelayan, buruh, kuli dan tukang tambal ban lagi, mungkin mendadak sudah
alih profesi jadi youtuber mereka itu” ia menyenderkan punggungnya di kursi.
“Memang
di masa pandemi seperti ini banyak masalah terjadi di Negara kita, namun Pemerintah
tak peduli rakyat! para Menteri ditangkap polisi satu persatu!. Kepala desa tak
acuh entah kemana perginya dan dana-dana untuk rakyat di setiap tangan penyalur
berkurang jumlahnya. Miris! Miris aku melihat mereka. Namun apa daya sekolah
ini tak bisa apa-apa Nak, aku dan lembaga ini menurut saja pada atasan sana, seharusnya
memang betul usulan Ibumu itu, kita tak berhak menarik SPP di saat peserta
didik tak dapat apa-apa.”
Aku
mulai menyingkirkan pikiran burukku tentang beliau.
“Permisi
Pak saya pamit dulu” ujar seorang pria dewasa memakai pakaian coklat rapi, aku
agak tahu kalau orang ini adalah pegawai pemerintah yang hendak membantu
mengurus akreditasi sekolah.
“Iya
Pak, bagaimana perkembangan di kantor desa selama masa pandemi ini?” Pak guru menyalami pria itu.
“Baik
Pak, pemerintah melonggarkan pekerjaan, mereka sangat perhatian.”
“Sungguh
hebat pemerintah kita, meski Negara Indonesia luas namun desa kita yang kecil
dan di ujung tetap memperhatikan orang-orang seperti kita.”
Aku menganga mendengar ungkapan itu, belum sampai lima detik lalu umpatan dan ciprtan air keluar dari mulutnya, kini berbalik ia menjilati ludah sendiri.
Aku menganga mendengar ungkapan itu, belum sampai lima detik lalu umpatan dan ciprtan air keluar dari mulutnya, kini berbalik ia menjilati ludah sendiri.
“Lalu
apa rencana terdekat Pemerintah Desa?”
“Dana
simpanan desa untuk pembangunan sementara akan dipakai untuk kebutuhan pangan
masyarakat sementara, sembari mnunggu bantuan resmi dari pemerintah yang akan
turun dua minggu ke depan”
“Wah
saya kehabisan kata-kata untuk memuji para Menteri dan Pemerintah Desa yang bekerja
sama bekerja dengan sangat merakyat, solusi yang cerdas dan sangat membantu.”
“Lalu
bagaimana dengan sekolah ini Pak” pria itu bertanya balik.
“Sekolah mempunyai rencana agar ada pemotongan SPP sebagai upaya membantu pemerintah juga, saya sebagai seorang yang terlibat dalam
lembaga pendidikan harus berani membuat usul, rencana dan gerakan perubahan demi kesejahteraan bersama Pak, terutama pendidikan.”
Pria
dewasa itu keluar dan aku juga keluar serta merta tanpa pamit. Aku takut kualat
tapi kalau bukan guruku sudah kucaci maki dia. Kalau aku tidak takut kualat
maka akan aku jelaskan yang sebenarnya bahwa nama guru itu adalah Pak Mansur.
Good story
BalasHapusNamanya mirip dekan fakultas ku , awokawok :v but literally is gudstoryy, i'Il wait your next story. (Sok nginggris deh gw :v)
BalasHapusNext .. Cerita selanjutnya ๐
BalasHapusLanjut mas
BalasHapusNgukukkk woy๐
BalasHapusJadi ga sabar baca karya selanjutnya ๐๐
Gak mau tau, pokoknya harus adalagi, lagi, lagi, dan lagi terus๐๐
BalasHapus