Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu.
Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu
Ali Hamidi
Di antara Bahasa yang tak dapat kupahami di dunia ini adalah Bahasa bayi, Bahasa orang gila, Bahasa tumbuhan / hewan dan Bahasa istriku. Sempat kutanya pada Abdul, kawanku yang sering ikut duduk di warung kopi. Katanya istrinya juga begitu, tak banyak bicara namun sering mengeksekusi dirinya.
Sementara istriku adalah orang yang paling kutakuti di rumah, melebihi ketakutanku ketika malam jum’at lalu sebungkus “pocong” dengan iseng mengetuk pintu.
Mengenai bahasa, aku sering keliru memahami maksud kalimat istriku, lebih luasnya sepertinya semua perempuan memiliki kode bicara yang kalau laki-laki tak mampu menafsirkannya, maka ia akan celaka. Bilangnya begini maksudnya begitu, seperti judul puisi Pak Sapardi. Begitulah yang kualami dari istriku.
“Aku ingin beli bakso” ungkap istriku suatu malam. Kukira dari segi sastra memang itu kalimat itu adalah kompleks dan jelas. Esok sore setelah pulang mengajar, aku pulang dan membawakannya sebungkus bakso paling enak di desa, kubelikan untuknya agar ia tak capek-capek keluar rumah.
Sesampainya di rumah aku malah tak mengerti, mengapa ia tak memakan baksonya hingga dingin. Setelah kutanyai, dia malah diam saja.
“Kenapa tak dimakan? Katanya pengen bakso?” tanyaku padanya yang sudah memejamkan mata tapi pura-pura tertidur.
"Kalau tak dimakan, aku saja yang makan ya. Dari pada basi” dia masih diam, dan aku terus berbicara sendiri.
Setelah kuhangatkan, wangi bakso itu enak sekali. Di luar sedang gerimis, hawa mulai dingin dan kukira seluruh rumah penuh dengan aroma bakso.
Setelah semua siap dan aku hendak menyendok semangkuk bakso di depanku, terdengar suara seperti geluduk.
“Bruak” tiba-tiba istriku datang dan seenaknya saja menggebarak meja, aku menghentikan sendok yang beberapa senti lagi sudah masuk ke mulutku.
Dengan cepat dia menggeser semangkuk bakso itu ke hadapannya. “Dasar! Kenapa laki-laki tidak ada yang pengertian” ucapnya menggerutu, tangannya terus bergerak memakan semangkuk bakso dan aku menganga saja.
"Aku ingin beli bakso itu, maksudnya aku ingin keluar dan jalan-jalan. Kenapa sih susah sekali laki-laki memahami itu?” dia kini melotot padaku.
“Tapi..”
“Sudah-sudah cukup. Banyak alasan” belum sempat kujawab, telah muncul beberapa kalimat yang masuk ke telingaku.
Kini giliranku yang diam saja, kudengarkan istriku bicara hingga semangkuk bakso yang kudambakan itu habis dilahapnya.
“Baksonya habis tuh” aku sengaja menyindirnya.
“Eh katanya beliin aku, ya kumakan lah” ujarnya tak bersalah.Kemudian ia beranjak pergi begitu saja.
Aku yakin istriku tak berbakat kalau sedang marah atau cerewet. Karena setiap ia marah aku tak pernah melihat marahnya dan setiap ia cerewet, aku tak melihat letak cerewetnya. Yang kulihat hanya cantiknya. Semenjak ada dirinya sejak dulu aku telah melupakan perempuan lain di dunia ini, kecuali Ibu.
“Ini makan” tiba-tiba ia datang lagi membuyarkan lamunanku, membawa sepiring nasi goreng yang menggoda. Tanpa ba-bi-bu kulahap saja nasi itu dengan cepat, aku tak mau makan di luar sebab masakannya ini yang paling enak.
"Dasar ya! Gak pengertian” ujarnya dengan agak keras.
Aku menghentikan gerakanku, untuk kali ini aku paham maksudnya. Kuambil satu sendok lagi di dapur lalu memberikan sendok itu padanya. Di suatu malam yang gerimis, nasi goreng itu kumakan sepiring berdua.
...
…
“Kau tahu sejak kapan kita langganan kopi di warung ini?” Tanya Abdul padaku sambil menyeruput kopi susunya.
“Sejak kita SMA kalau tak salah” jawabku mengingat-ingat. "Ada apa?” tambahku pada Abdul sebelum ia bercerita.
"Pagi itu sengaja aku duduk di depan rumah, tumben sekali istriku membawa segelas kopi. Lalu dia menyuruhku tidak pergi beli kopi di warung Mbok Paija ini, ia curiga padaku sebab anak Mbok Paija yang baru saja menjanda itu. Kuteguk kopi yang dibawanya lalu kukatakan kopi itu tak enak, tak seperti buatan Mbok Paija. Tak jauh setelah aku beranjak, sebuah panci entah dari mana asalnya mendarat di kepalaku. Tak kusangka ternyata kopi yang kuminum itu, diam-diam istriku membelinya di warung Mbok Paija pula”
"Hahaha” aku terpingkal-pingkal.
“Malam itu aku tidur di ruang tamu. Istriku itu tak banyak bicara, namun sekali marah entah dari mana sebuah panci selalu ada ditangannya lalu melayang ke kepalaku” jelas Abdul menunjukan benjolan di kepala belakangnya.
“Aku juga tak paham bahasa perempuan Dul” kini giliranku yang bercerita.
Kemarin sengaja aku ajak jalan-jalan istriku ke pasar malam. Setelah mencoba semua permainan yang ada tiba-tiba dia berdehem.
“Ehm” aku membiarkannya, hingga dia melotot dan menekuk kedua tangannya.
“Dasar gak pengertian” dia mengucapkan lagi kalimat itu.
Bagaimana bisa kutafsirkan suara, “Ehm” sebagai maksud dan tujuan apa yang hendak ia sampaikan kepadaku. Mungkin Tuhan memang menciptakan perempuan untuk dijadikan serumit ini, agar aku tak macam-macam dengan yang namanya perempuan.
“Ada apa?” aku bertanya halus padanya.
“Dasar! Apa laki-laki susah paham begini”
“Susah paham bagaimana? Ayo cepat jelaskan manusia mana yang mampu menghadapi kondisi seperti ini! Bilang saja semuanya dengan jelas, tak usah memberi kode-kode yang membuatku gila!!” bentakku dalam hati saja.
“Aku capek, lapar” ujarnya ketus.
“Yaudah makan di warung mie ayam itu ya, aku sudah lama tak makan makanan kesukaanku itu” aku menunjuk warung mie ayam di seberang jalan.
"Terserah"
Baru selangkah aku hendak beranjak ke warung dia bergumam agak keras, “Dasar! Laki-laki egois”.
“Yaudah mau makan dimana?” aku mengalah.
“Terserah”
Aku menggigit bibir, kalau saja aku tak mencintainya dan dia bukan istriku. Sudah kujurus dia dengan semua ilmu silat yang telah kupelajari semasa kuliah dulu. Kudiamkan dia, kuikuti dia dari belakang. Ketika berjalan sesekali aku tersenyum sendiri, meski dari belakang ia masih terlihat sangat cantik dan rasanya aku tak bisa kesal padanya. Entah kenapa perempuan aneh satu ini selalu membuatku kesal pada diri sendiri namun tak pernah bisa kesal padanya.
Setelah puas memakan sate, kulihat Ia seperti orang kesurupan karena senyum-senyum sendiri menatapku. Anehnya padahal dia sudah istriku tapi aku masih salah tingkah dan malu-malu ketika dia menatapku seperti ini.
“Ada apa?” kali ini ia diam saja dan terus tersenyum padaku, “Aku tau aku tampan, tapi tak usah melihatku seperti itu” tegasku padanya.
Sialnya setelah bicara itu ekspresinya berubah menjadi ekspresi ragu akan ketampananku.
“Kalau bukan aku, memang perempuan mana lagi yang akan khilaf mencintaimu ha? Sok tampan” ketusnya.
Kemudian aku tersenyum semanis yang kubisa, kupastikan jika orang melihatku akan kambuh penyakit diabetesnya. Dia tertawa saja.
“Besok kita jalan-jalan bertiga” ujarnya aneh. Aku menerka-nerka apa maksudnya.
Setelah melihat tangannya mengelus-elus perutnya, aku sontak terkejut dan meyakinkan diri. Setelah beberapa bulan menanti akhirnya calon bayi kami sudah datang dan suatu saat akan hadir di bumi.
“Nah bagus to? Udah hamil istrimu. Bentar lagi kan jadi bapak” ujar Abdul memotong cerita.
"Semenjak bilang dia hamil, permintaannya jadi makin aneh-aneh Dul. Coba saja bayangkan, jam 12 malam aku diminta cari bakso, pokoknya harus dapat, lalu di hari-hari libur dia selalu minta jalan-jalan entah kemana saja, kadang tengah malam aku disuruh salto, push up sambil pakai pakai daster dan perbuatan aneh lainnya Dul”
“Hahaha mungkin dia sengaja mengerjaimu Mas” kini ganti Abdul menertawakanku.
"Yasudah Dul, toh aku mencintainya.”
Keren" nggarai ngakak 😂
BalasHapus