Surat Sehat

 

 

 


Surat Sehat

 

 

Cara Membuat & Contoh Surat Keterangan Sehat yang Mudah Dibuat - - Berita  Info Publik, Pelayanan Administrasi Pelayanan Publik

 

 

 

 


Gara-gara harta, tahta dan cinta beberapa manusia terpaksa menjadi gila. Dikiranya banyak harta dan tinggi tahta adalah puncak kehidupan, sementara ia tak memikirkan resikonya. Urusan cinta aku hanya mengamati tapi tak mengalami, karena nasib cintaku sendiri selalu buruk. Kuhitung dan kutulis barangkali banyak alasan muda mudi menjalin hubungan adalah sebab cinta. Sementara aku belum sampai pada itu sebab mencari makna cinta saja masih tak kunjung usai.

Cobalah tanya pada kekasihmu (kalau ada), kenapa kau mencintaiku?

Kalau dia menjawab dan mengutarakan segala kelebihan tentang dirimu, berarti dia sedang menghitungmu bukan mencintaimu. Cinta itu ada tanpa kata "tapi dan karena" ia datang tanpa membahas apa yang kurang dan lebih terhadap apa yang dicintainya. Cinta itu urusan memberi bukan kalkulasi, dimana kau tak boleh berharap untuk dibalas cintamu. Sebab cinta itu memberi, cukup memberi saja.

Diantara sulit dan anehnya hidup ini aku sering menertawakan diriku sendiri dan terkadang pula menertawakan orang lain, bagiku orang-orang yang kutemui kebanyakan unik bermacam-macam. Terutama hari itu, kurekam kejadian itu dalam tulisan ini barangkali pihak-pihak yang terkait sedang membacanya pula. Di suatu tempat di desaku, letaknya romantis diantara Kantor Urusan Agama dan kuburan. Setiap hari orang-orang berkunjung ke sana untuk melihat lihat betapa sejuknya tempat itu dibandingkan rumah mereka sendiri. Petugas mondar mandir, pengunjung menunggu nomer antrean, di tembok ada beberapa foto model bapak merokok dan ibu hamil. Tempat itu dinamai orang-orang: Puskesmas.

"Apa keluhanmu?" seorang berbaju putih duduk di atas meja panjang, mengamati satu demi satu pasien di depannya.

 

"Ini Ayah saya" ujar seorang laki-laki memperkenalkan diri, "Ayah saya ingin minta surat sehat ehehuntuk persyaratan daftar RT"

 

"Hehehe" tiba-tiba saja Ayah pemuda yang berjas rapi itu tertawa.

 

"Apa daftar RT saja perlu surat sehat?" tanya Dokter penasaran sambil menulis keterangan peminta surat.

 

"Iya Pak Dokter, tanda bebas virus corona"

 

"Hehehehe" Ayah pemuda itu tertawa makin keras"

 

"Selesai, silahkan" Dokter menyodorkan sebuah surat sehat sesuai permintaan pemuda itu, "Ngomong-ngomong ayahmu ini kenapa kok macam orang ling lung ?"


"Ayah saya kalah dalam pemilihan Kepala Desa hari lalu pak, padahal uang kampanye telah menghabiskan semua hartanya. Semenjak itu dia sering tertawa sendiri" jelas pemuda itu.


"Ha? berarti dia sakit, tidak sehat. Kenapa minta?"


"Justru mungkin kalau nanti terpilih jadi RT akan sembuh penyakitnya Pak" pemuda itu meminta.

 

"Berapa saingan calon RT nya nanti?"

 

"Ada dua lagi Pak, itu juga calon Kepala Desa yang gagal kemarin seperti Ayah saya. Mereka malah lebih parah ketimbang Ayah saya"

Meereka berdua pamit.

 

"Silahkan apa keluhanmu?"



"Saya single pak" ujar seorang bujang di depannya.

"Sialan kau, bukan keluhan yang itu. Maksudmu hendak perlu apa kau kemari? single atau tidak itu penderitaanmu. Aku bukan biro jodoh" Dokter itu agak membentak. Diamatinya lelaki itu, melihat warna kulitnya Dokter tau kalau ia seorang nelayan, hitam.

"Nama saya Rohim Pak, saya besok mau pergi ke luar kota. Saya butuh surat sehat dari puskesmas ini untuk naik bus" jelasnya.


"Hmm, begini Him. Bertahun-tahun aku bekerja begini, sebenarnya surat sehat ini penipuan bagimu. Dilihat dari guratan wajahmu yang melarat itu kukira kau kena penyakit stress stadium akhir, bahkan virus yang viral ini kalah ganas ketimbang yang kau alami" ketus Dokter memandang Rohim tajam.

Tiba-tiba Rohim menunduk dan tersedu-sedu menitihkan air mata. Dramatis.


"Eh eh kenapa kau, jangan kumat di sini" ungkap Dokter.

Rohim melotot, "Delapan tahun saya menunggunya Pak, saya bekerja keras tiap hari. Pergi pagi melaut, pulang kalau sempat hanya untuk menabung biaya menikah. Tapi mengapa dia begitu saja meninggalkanku dan menikah dengan orang lain. Hampir mati aku menanggung cinta Pak"

Dokter itu ikut prihatin, menepuk punggung pasiennya itu. "Untung kau tak bunuh diri Rohim, tenanglah"

"Sudah bunuh diri tapi selalu gagal Pak" sontak saja Dokter itu terkejut, Rohim melanjutkan ceritanya.


"Saya lompat dari jembatan, ternyata airnya dangkal" Dokter terkejut.

"Saya telan racun tikus, tak bereaksi apa-apa" Dokter mulai takut.

"Terakhir dua hari lalu saya telan beberapa batu dan baut pun saya masih hidup Pak. Kenapa Pak? Hidup gagal matipun susah"

"Jaga mulutmu anak muda, kalau kau berani mati mengapa tak berani hidup dan berjuang" ujar Dokter itu bijak.

 
Rohim terdiam merenung, butuh beberapa waktu untuk orang awam sepertinya memahami kalimat itu.

"Apa di sini ada obatnya?" tanya Rohim sambil menyodorkan sebuah kartu kecil.


"BPJS tak mampu mengobati air mata yang menetes Him. Apalagi kasusnya sepertimu."

"Ini surat sehatmu, meski agak stress semoga surat ini jadi do'a untukmu" ujar Dokter, Rohim beranjak pamit.


"Him"
 

"Iya pak" jawabnya sambil menoleh ke Dokter kembali.
 

"Tontonlah film Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, mungkin akan membantu" Rohim mengangguk.

 

"Apa bapak punya anak perempuan?"

 

Dengan cepat Dokter itu menggeleng, "Tidak tidak Him, anakku laki-laki semua", yang sebenarnya kalimat itu digunakan untuk menyelamatkan putrinya.


Setelah dokter itu duduk kembali, tiba-tiba seorang Ibu sudah duduk di depan dan tersenyum padanya. Dilihat dari ukuran perutnya, nampaknya tinggal beberapa hari lagi Ibu itu akan melahirkan.

"Apa keluhan Ibu?" ibu itu diam dan tersenyum memandang Dokter dengan genit.


"Apa ibu mau minta surat sehat untuk syarat melahirkan?"
 

"Iya Pak, kalau sekalian saya minta kasih sayang dari Pak Dokter buat ngerawat saya dan anak saya ini boleh?" Ibu itu mengedipkan sebelah matanya.
 

"Ah ibu ini ada-ada saja, memang suaminya mana?" tanya Dokter itu agak takut, ia menerka dan mengingat-ingat wajah ibu ini mirip artis di televisi, kalau tidak salah El* Sugigi.


"Aman kok Dok, suami saya sudah meninggal. Saya cuma sama anak saya hehe" ketika tertawa, jelaslah bentuk giginya.

"Anak pertama sudah ditinggal ya Bu, kasian" Dokter itu agak takut memandang pasien satu ini. Sesekali ketika berbicara, beberapa ciprat air ludah minggat kemana mana dari mulutnya.

"Ini anak bungsu kok Dok, kakaknya ada 6 di rumah"

"Ini Bu" jawab Dokter itu menyodorkan sebuah surat sehat. Ibu itu berkedip sekali lagi, lalu beranjak pergi.


Hari itu, selepas sore Dokter desa itu pulang sambil senyum-senyum sendiri. Jalan-jalan desa telah ia lalui kemudian sisi perkotaan mulai terlihat, sambil mengamati kendaraan yang lewat, di atas motornya ia membayangkan betapa lucunya orang-orang yang dia temui hari ini. Akhir-akhir ini pekerjaannya padat sebab banyak orang sakit yang minta surat sehat, macam-macam pula sakit orang akhir-akhir ini. Sebelum Dokter pulang ia mampir di sebuah klinik kota, duduk di depan seorang yang kemudia bertanya padanya.

"Apa keluhanmu?"

"Butuh surat sehat? sakit apa hari ini?"

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077