Menteri Malam Tahun Baru

 

Menteri Malam Tahun Baru

Ali Hamidi

 


Tidak banyak yang tahu kalau laki-laki pendek setinggi sapu pel ditambah sebetol air mineral satu liter, amat suka berkaus partai yang mengidap penyakit pikun itu adalah Pamanku. Sebab yang masyarakat ketahui dari dirinya hanyalah seorang pemilik Warung Kopi Rumah Rakyat dan peternak ikan di utara Pulau Jawa, di desa terpencil tak terllihat di ujung peta bernama Ujungpangkah.

            Setelah mengakhiri karirnya menjadi pegawai listrik bagian pengganti kabel akibat tersetrum, rasanya listrik tegangan tinggi menjadikan lelaki pendek itu memiliki pribadi yang pemarah dan pikun.  kemudian Paman mendirikan Warung Kopi Rumah Rakyat yang kondang seantero desa, sebab harga kopinya yang merakyat tak seperti kopi biadab yang dijual atas dasar kekayaan di kota sana.

            “Barangkali dengan uang tiga ribu Le, kita bisa menamani keluh kesah rakyat dengan segelas kopi” kata Paman sebelum penyakitnya kambuh. Ia menjelaskan keunggulan warung kopinya.

            “Kau tau kopi di kota Dul?”

            “Iya Paman” jawabku dengan nada rendah.

            “Harganya memeras uang rakyat, hedonis, materialistis. Mereka tidak pernah membaca sejarah bahwa warung kopi bukan untuk menjaring harta, melainkan menjadi wadah keluh kesah rakyat. Kalau tidak percaya tanyalah Menteri Perekonomian dan Menteri Sejarah” ungkapnya yang jelas tak kupercaya bahwa ada Menteri Sejarah.

            “Kupikir mahalnya kopi akhir-akhir ini menandakan bahwa kita memasuki akhir zaman, coba kalau sempat tanyakan ke Kantor Urusan Agama kalau perlu” dikiranya ketika ada kata agama, Paman menyimpulkan bahwa itu menyangkut semua urusan dan permasalahan agama.

            “Dengar Dul? Apa yang kubicarakan,? Coba ulangi!”

            “Harga kopi tak sesuai anjuran Menteri Perekonomian dan Menteri Sejarah, Paman”

            Paman mengerutkan kedua alisnya, hal inilah yang kubenci. Ia lupa kata-katanya.

            “Kenapa kau membahas politik negara? Kopi ya kopi? Politik biar diurus Jakarta. Desa terpencil kita ini tak akan digubris pemerintah kecuali urusan pengeboran minyak saja!”

            Apalah dayaku, seorang sarjana lulusan kampus agama islam yang menekuni karirnya di bidang perikanan, menjadi kacung Pamanku. Nyatanya untuk menjadi pegawai di kota sana, banyak persyaratan yang diajukan Menteri Ketenagakerjaan setelah Menteri Pendidikan telah menuntut rakyat belajar hingga sarjana. Akibat malu dan putus asa yang berkepanjangan, kuputuskan pulang ke rumah dengan menggeluti pekerjaan yang ada, tibalah nasibku menjadi kacung Pamanku sendiri.

            “Hei, kau Dul. Kulihat kemarin kau kasih makan ikanku dengan tangan kiri, betulkah itu?” teriaknya pada suatu siang, apabila cuaca mulai panas aku paham kalau aliran listrik yang pernah menyerang tubuh Paman akan menimbulkan reaksi kejutan, semacam memori reflek akibat sengatan listrik dahsyat namun korban tetap hidup. Maka marah bagi Paman bukan lagi urusan benar atau keliru, melainkan memang gaya hidupnya dan faktor lingkungannya.

            “Tak ingat kau Ulama dan Menteri Agama berkata apa ha?” bentaknya padaku, sebagai kacung, kubiarkan kata-kata ngawur dari mulutnya keluar.

            “Sekali-kali bacalah kitab kuning, dengarlah pengajian atau berita di televisi bahwa Menteri Agama, mereka menganjurkan memberi makan ikan ternak dengan tangan kanan” aku tak percaya dengan kata-katanya, kukira tak pernah Menteri Agama memberi fatwa tentang cara menebar pakan ikan. Tapi saran Paman itu benar.

“Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan kemarin itu! Yang tersandung kasus suap benur atau lobster pun tahu kalau menebar pakan itu paling berkah jika menggunakan tangan kanan!”

            “Dengarkah kau?”

            “Dengar Paman”

            “Apa? Coba ulangi?”

            “Ulama dan Menteri Agama menyarankan memberi makan ikan di tambak dengan tangan kanan”

            “Apa? Sejak kapan mereka berbicara begitu?” di sinilah hal yang paling kubenci, kombinasi antara pemarah dan pikun menyebabkan suatu kejengkelan yang sangat fatal bagi korban sepertiku.

            “Dari tadi kujelaskan bahwa sebagai Umat Islam kita beternak ikan saja, bukan beternak babi. Paham kau?”

            Aku mengangguk. Kecewa. Menahan tawa, tapi takut kualat.

            Sore tadi, setelah pulang memberi makan ikan aku terjebak hujan ketika berteduh di Warung Kopi Rumah Rakyat ini, Paman duduk di kursi khusus miliknya tepat berada di teras warung sedang mengamati situasi di warungnya. Kami berdua dan dua orang pelanggan duduk meringkuk di kursi warung terjebak hujan, maka kurekam cerita hujan akhir tahun ini. Beserta percakapan yang terjadi di sini, tentang tahun yang berbeda ini, cerita dan keluh kesah pengunjung warung kopi.

            Di ujung sana, Nampak dua orang pemuda yang sedang banting-membanting kartu remi. Nurman dan Rohim, seorang kuli dan seniman, mereka temanku sejak kecil hingga kini.

            “Poker! rasakan” bentak Nurman dengan kencang.

            Rohim seniman yang pediam itu, diciptakan Tuhan memiliki perangai yang tak banyak berekspresi.

            Paman yang terkantuk-kantuk mendengar irama hujan di genteng warung, tiba-tiba bereaksi aliran listrik di tubuhnya akibat terkejut.

            “Man!!” suasana hening seketika.

“Sekali lagi kau berteriak-teriak, kupindah rumahmu ke desa sebelah. Kau ini beli segelas kopi saja dari pagi tak pulang-pulang” Nurman gemetar.

            “Kau juga Him” Rohim yang pendiam mendapat jatah.

            “Apa Menteri Sosial tak pernah mengajarimu sopan santun? Kupikir kau ini pendiam seperti orang ditanya kasus korupsi!. Persis, persis Menteri Sosial yang terang-terangan memotong uang bantuan Covid sebesar 8,2 milyar itu! Heran aku, buat apa uang sebanyak itu.”

            “Kau juga, Dul” senyumku hilang tiba-tiba, sebab meski hanya diam, aku juga mendapat jatah.

            “Kau harusnya malu pada Menteri Agama sebab kau ini sejak kecil terlalu nakal, aku tau tabiatmu. Rasanya nasibmu yang sial ini disebabkan kena kualat! Karena sering mematikan mikrofon muadzin yang sedang adzan.”

            “Paham kau?”

            “Paham Paman?”

            “Bilang apa aku tadi?”

            “Aku harusnya malu pada Menteri Agama sebab aku nakal”

            “Apa kau? Kenapa kau sangkut pautkan Menteri Agama! Ketahuilah, bahwa kenakalan itu disebabkan masalah mental dan psikologismu yang tak beres, kalau tak percaya coba tanyakan pada Menteri Kesehatan.

Aku mengangguk saja, Nurman dan Rohim menahan tawa.

            Pada akhir tahun yang panjang ini, Bangsa Indonesia diselimuti oleh warna-warni kehidupan. Dimulai dari masa pandemi virus Covid yang menyebabkan para sarjana sepertiku harus terkurung dan menggelandang di kampung sendiri, sebab yang bekerja dipecat dan yang mencari pekerjaan tak ada tempat. Kemudian tiap hari akhirnya nasib membawaku ke Paman, yang tiap hari pula mendapat pelajaran martikulasi kehidupan oleh Pamanku yang pemarah dan pikun ini.

Kalau saja hujan deras ini sudah reda, tentu aku, Nurman dan Rohim ingin cepat-cepat melarikan diri. Sebab, hal seperti ini sering terjadi, bahwa ketika kami terjebak kemudian hujan disertai dengan bunyi petir yang menggelegar, maka Paman dan daya listrik di tubuhnya akan bereaksi, membuatnya akan uring-uringan sendiri, kemudian kami bertiga akan menjadi pelampiasannya.

...

“Duarr” suara petir pertama. Paman terkejut.

            “Nurman!!”

Paman selalu memarahi kami sesuai absen, Nurman yang pertama. Ia menggigil.

            “Kudengar kini sekolah anakmu di pindah, benarkah itu?

“Tidak Paman”

“Kau jangan membodohiku Man! Kau kira aku tak sering menonton berita? Semua sekolah di Indonesia dipindah ke wilayah Onilne!” pikirannya yang tradisional dan primitif itu menyangka bahwa online adalah nama suatu daerah.

            “Memang ada-ada saja tanda-tanda akhir zaman ini! Kau juga harusnya cepat menikah Him!” absen kedua adalah Rohim.

“Gara-gara pemuda lama menikah regenerasi menjadi lambat, bisa-bisa estafet bangsa muda kita melambat pula, dan akhirnya kita terlalu  lama menunggu pemimpin yang adil” Paman mengambil nafas sejenak.

            “Kalau kau ingin tau dampak jangka panjang dari membujang, maka anakmu nanti lahir tanpa teman sebab generasinya sudah lulus dan bekerja di kota. Juga jangan kau contoh ponakanku yang tak becus itu” Paman melirikku sinis.

            “Dul!”

            “Besok sebelum ke tambak cobalah mampir ke sini dan bawa ijazah sarjanamu yang katanya bernilai 7,9 itu. Aku ingin mengeceknya barangkali palsu”

            Bagiku, omelan Paman tak pernah kuanggap sebagai caci maki. Melainkan sebagai semangat dan ajang untuk memperbaiki diri, aku tak pernah marah jika Paman memarahiku, selain tak berani aku juga punya kelapangan hati sebab di balik amarah itu, aku selalu mendengar kata-kata tulus dari mulut Paman. Meski tanpa data yang valid,

            Duar!!” suara petir kedua.

            Paman tak bereaksi, sebab sebelum marah kepada kami. Ia lupa ingin marah tentang apa.

Duaar!!” petir ketiga agak keras. Paman tiba-tiba beranjak berdiri kemudian menutup warungnya, ia menata piring demi piring, gelas dan sisa makanan. Hujan kini dari deras menjadi gerimis, sepertinya suara petir terakhir tak menimbulkan efek apa-apa bagi Paman.

Tiar, tanpa sengaja Nurman menyenggol dan memecahkan gelas kopi.

            Nurman gelagapan memandang gelas yang pecah itu, ia gemetar sekalgus menatap Paman dengan iba, takut dan was-was.

Paman beranjak melangkah ke arah Nurman dengan langkah yang tenang berirama.

“Sudah Man, tidak apa-apa. Cuma gelas, begitulah barang dunia. Tidak ada yang awet” aku, Nurman dan Rohim seperti patung yang menganga tak percaya memperhatikan sikap Paman itu. Serta kata-kata indah yang baru saja keluar dari mulutnya.

            “Kukira hujan reda, silahkan kalau mau pulang. Malam tahun baru ini bebarengan dengan malam Jumat, kukira kata Menteri Agama akan mendapat dua pahala jika berbuat kebaikan di waktu-waktu seperti ini.”

“Kau Dul” Paman melirikku.

“Kau bantu aku bereskan warung ya, nanti bawalah sisa dagangan di warung itu untukmu, makan malam”

Paman tersenyum simpul, kami masih tak percaya. Setelah kami berberes dan hujan sudah benar-benar reda. Aku, Nurman dan Rohim hendak pamit. Paman berdiri di ambang warung sambil terus tersenyum dan baik hati, seakan sesosok arwah Sahabat Nabi telah merasukinya. Paman melambaikan tangan pada kami, wajahnya cerah secerah rembulan yang terbuka setelah mendung bergeser, Paman berbalik dan 

“Jjeduk”

Suara jempol kaki Paman terbentur kursi warung yang menurut Menteri Kesahatan pasti akan menimbulkan daya kejut listrik di sekujur tubuhnya, ia lantas berbalik ke arah kami yang baru selangkah pergi dan kini ia memberikan tatapan kejam seperti permulaan hujan tadi.

“Man, Nurman!!! Besok kalau kau pecahkan gelas kopi lagi, maka akan kutemui Pak Kepala Desa dan kucoret namamu di daftar penduduk desa ini.”

“Kau Him! Jika terus menjadi seorang pendiam, kudoakan kau agar menjadi seorang Kepala Desa, biar capek sambutan seumur hidupmu.”

“Dan kau Dul!”

“Kenapa kau tutup warungku ini? Ini masih jam 8 malam.”

“Bukan aku, tapi Paman sendiri”

“Nah, nah. Begini kau jika masa kecilmu selalu menyembunyikan sandal ustad ngajimu dulu, kini kau jadi pandai berbohong dan menyembunyikan kesalahan. Coba besok kau lepas saja gelas S,Ag. milikmu, memalukan.

 

 

 

Komentar

  1. Kualatkah aku kalau ketawa terbahak-bahak dul.

    BalasHapus
  2. Dari dul kami belajar, untuk tetap bersikap tenang dan Sabar,, dn tetap memghormati yg sepuh..
    Wkwkw dul dul ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077