Malam Jum’at: Abdul dan Nia
Ali
Hamidi
Jika
Kawan telah mengetahui ceritaku dan Nia hingga kami menikah, maka tidak akan
aku ceritakan lebih jauh ke belakang mengenai kisah kami. Aku yakin setiap
manusia memiliki cerita masing-masing dalam hidupnya. Sungguh beruntung
peternak ikan di desa terpencil sepertiku dapat menikahi Nia yang cantik nan
baik perangainya ini. Semoga pada hari-hari yang kita lalui bersama ini, aku
tak akan menyakiti perempuan yang telah membuatku melupakan perempuan lain di
dunia ini.
Setelah
acara resepsi penikahan kami selesai, inilah malam pertama pernikahan kami. Aku
sengaja duduk di teras rumah tak berani masuk, sebab di luar rumah itu aku
sedang senyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri atas bahagia yang tak dapat
kubicarakan kepada siapapun. Tak lama kemudian Nia menghampiriku, dengan
memakai kerudung putih kesukaannya rasanya rembulam malam ini kalah terang dan
ranum ketimbang pesona istriku ini.
“Aku
serius untuk perkataanku tadi Mas” tiba-tiba Nia berujar padaku.
“Yang
mana Nia?”
“Aku
tidak akan membuatkan kopi lagi kecuali untuk suamiku”
Aku
terdiam sejenak. Sebenarnya aku tau kalau cerita hidupku ini tidak dapat dipisahkan
dengan warung kopi sebab di sinilah aku bertemu dengannya. Aku pikir-pikir
kembali bagaimana caranya agar Nia tak menutup warungnya sendiri, tapi
sekaligus melaksanakan perkataannya.
“Nah,
bagini saja Nia. Aku tidak mungkin menutup warung namun juga tidak mungkin
menolak keseriusan perkatanmu. Bagaimana kalau kamu mengajariku membuat kopi, sementara
nanti aku yang akan membuka warung ini ketika aku pulang mengurus ikan di
tambak. Jujur saja, pasti banyak orang kecewa jika warung ini ditutup, apalagi
kedua temanku Nurman dan Rohim” ujarku menawarkan solusi.
Nia
mengangguk senang, tapi tak lama kemudian dia mengerutkan kedua alisnya.
“Setelah
kamu memiliki istri, ternyata kamu lebih perhatian ya dengan kedua temanmu itu”
nada bicara Nia agak ketus.
Aku
tak dapat menjawab pertanyaannya sebab memang kedua temanku itu sudah seperti
bagian dari tubuhku, aku juga takut jika berdebat dengan perempuan. Dari pada
membuatnya tak enak hati karena perkataanku, aku diam saja. Karena tak kunjung
menerima jawaban, Nia meninggalkanku masuk rumah.
Di
sinilah sensasi menyenangkan yang aku alami untuk pertama kali. Aku ingat
ketika Bapak masih hidup dulu, aku sering melihat ibuku memarahinya, setelah
amarah Ibu mengendur. Bapak akan mencari bagaimana cara untuk menaklukkan amarah
istrinya. Sejak mengamati hal itu, sering kusimpulkan sendiri bahwa selamanya
lelaki tidak akan menang melawan perempuan, dan memang sebaiknya jangan menang
sebab perempuan diciptakan tidak untuk dikalahkan, melainkan untuk disayangi.
Aku
masih senyum-senyum sendiri di teras rumah, malam pertama pernikahanku aku
malah membuat istriku tak enak hati. Aku berpikir bagaimana caranya agar ia tak
marah padaku. Kemudian dengan halus angin membelai rambutku yang panjangnya sebahu,
dan kulirik bintang yang susun bersusun di langit sana, rembulan seperti
berbisik padaku untuk cepat-cepat mengangkat sarung dan masuk ke kamar.
Sekelabat kupadangi sandal Nia di depan pintu yang pernah kubetulkan diam-diam.
Oh tiba-tiba ada ide masuk di kepalaku begitu saja.
Sebelum
memasuki kamar, sengaja aku cuci muka agar makin terlihat tampan, menggosok gigi dan berwudhu meski pada akhirnya akan batal, malam jum'at yang sempurna. Aku ketuk pelan pintu kamar dan
duduk di sebelah Nia yang sedang membaca buku.
“Nia?”
suaraku halus.
Ia
tak menjawabku. Aku menggaruk-garuk kepala. Jantungku berdegup kencang dan
keringat mulai bercucuran. Dengan cepat aku berdiri dan mematikan lampu
sehingga Nia tak akan bisa membaca lagi, kemudian aku duduk di sampingnya. Tepat
di depan tempat tidur kami, ada jendela agak besar yang masih terbuka.
Pemandangan lagsung menuju rembulan dan kupegang tangan istriku. Aku berbisik
padanya meminta maaf dan menawarkan dia sesuatu. Dia mengangguk malu, tanda
setuju. Tanpa ba bi bu, aku memulainya.
Memulai
bercerita sebab aku menawarinya untuk mendengarkan sebuah cerita.
“Oke,
Nia. Sebelum kuceritakan padamu kujelaskan bahwa cerita ini hanya terjadi ketika
aku remaja dulu. Sekarag aku sudah insaf” ungkapku.
Nia
agak terkejut, “Apa ini cerita tentang perempuan? Aku tidak mau mendengarkan!”
suara Nia agak membentak.
“Bukan
Nia, bukan, ini tentang sandal.”
Raut
wajah Nia penasaran, memang apa yang
dapat diceritakan oleh sandal, mungkin itu pikirannya.
Kisah
ini terjadi belasan tahun lalu, ketika aku, Nurman dan Rohim, tepat sekitar
setengah jam sebelum sholat jum’at kami berkumpul di warung kopi pamanku. Kalau
tidak salah kami masih SMA. Siang itu masing-masing dari kami memegang uang 50.000
rupiah hasil upah membersihkan perahu. Akhirnya siang itu, ketika cuaca sedang
panas dan matahari sedang di ujung tanduk, pikiran kami dirasuki setan.
“Bagaimana
kalau kita bertaruh” ujar Nurman dengan semangat.
“Bukan
apa-apa Man, kan kau tahu diantara kita bertiga nilai rapotku paling tinggi”
aku menyombong kepada kedua temanku.
Rohim
diam saja mengamati tingkah kami, tapi apapun yang kami lakukan dia selalu
ikut.
“Eh
ujian sekolah itu tipu-tipu Dul, jangan kau sombong dulu. Aku melihat juara
kelas pun membuka dan menyontek. Aku lebih unggul karena kejujuranku” bela
Nurman.
“Kejujuran
yang mana maksudmu Man? aku tahu riwayat hidup dan karir malingmu itu”
tambahku.
“Sudah-sudah
begini saja. Sendalku ini sudah tidak layak pakai, lihat” kami memandang sandal
Nurman yang memang tidak ditakdirkan berjodoh sebab beda warna dan merek, “Nah
kita taruhan, siapa yang membawa barang paling mahal akan memenangkan taruhan
ini! Ayo kumpulkan dulu uangnya” Nurman menggenggam uang kami.
Rohim
tak berekspresi sama sekali, sebab memang ia diciptakan Tuhan menjadi manusia
pendiam dan penurut, namun sialnya dia dipertemukan dengan teman seperti kami.
“Oke,
kalau barang seperti sandal, gampang” sanggupku pada Nurman.
Kami
sepakat memasrahkan uang kami bertiga pada Rohim sebab ia yang paling amanah,
tapi dia juga ikut taruhan ini. Kami mulai berangkat lalu duduk di teras masjid
menunggu mangsa, mengamati jamaah satu demi satu sambil melihat-lihat sandal
mereka. Rohim pergi dulu sebab melihat sandal terompah kayu yang unik, aku tak
heran dengan prilaku temanku yang satu ini sebab di pikarannya tidak ada mahal
dan murah, yang ada hanya seni.
Sementara
Nurman kulirik sudah megikuti seorang bersandal kulit yang mahal, sial! Pasti Nurman
tidak mengenali kalau yang diikutinya ialah Kepala Desa setempat. Aku yakin
akan hilang sandal Kepala Desa itu setelah selesai rakaat akhir nanti.
Sementara khotib hendak selesai kuputuskan saja untuk berjalan masuk, tiba-tiba
mataku mengarah ke sandal gunung yang mahal bergambar singa melompat, agak
besar dan sepertinya pas untuk kakiku. Aku yakin sandal ini harganya mengalahkan
milik sandal Kepala Desa sebab pernah kulihat iklan sandal ini di televise,
beli sandal gratis mobil remot. Sungguh bodoh penjual sandal itu, bisa-bisanya
memberi barang gratis semahal itu.
Karena
dari awal niatku sudah buruk, baru rakaat pertama kulirik siapa yang mengimami sholat
jum’at karena menurutku lama sekali. Kuintip dari cela bahu jamaah ternyata Kepala Desa calon korban Nurman, aku tertawa kecil membayangkan Nurman pasti
menanggung dosa besar sebab mencuri sandal Kepala Desa ketika hari Jum’at,
ketika sholat jumat dan korbannya adalah imam sholat jumat. Akhirnya Kepala Desa
itu mengucapkan salam dan secepat kilat aku melangkah ke belakang, sambil
melihat-lihat situasi barangkali pemilik sandal yang kuincar mengetahuiku.
Aku
berhenti sejenak, tak jauh dari pintu masjid kulihat seorang Kakek sedang kesulitan
berjalan dengan tongkat. Karena agak iba aku membantunya berjalan dan menepi
dulu agar tidak tersenggol jemaah lain yang berdesakan. Badan Kakek ini kurus kering dan mohon maaf, kakinya sebelah kanannya cacat. Tatapannya sayu dan ia sering tersenyum kepadaku. Hingga masjid
mulai sepi, aku mulai menuntun kakek itu ke teras masjid, saat itu aku
benar-benar melupakan niatku untuk mencuri sandal. Dalam hati aku sudah pasrah
jika Nurman pasti pemenangnya.
Pelan-pelan
aku mulai menuntun Kakek ini menuruni lantai tangga masjid, aku agak terkejut
ketika sandal yang kuincar dipakai oleh Kakek ini. Seketika aku berpikir betapa
berdosanya aku jika mencuri sandal Kakek ini.
“Terima
kasih, namamu siapa Nak?” ujar Kakek itu.
“Abdul
Pak” jawabku. Sambil kulihat Kakek itu kesulitan memakai sandal, aku membantunya.
“Semoga
kebaikanmu ini dibalas oleh Allah SWT Nak” dia mengelus kepalaku, “Bersyukurlah
engkau masih punya kaki yang sehat tidak sepertiku. Dengan melihatku, tidakkah
kau tahu bahwa kaki itu barang yang sangat mahal Nak?”
Aku
tersenyum dan mengangguk cepat. Tak lama kemudian Kakek itu dengan susah payah
berjalan menjauh. Memang sandal Kakek itu bagus, tapi kulihat-lihat aku lebih bersyukur melihat fungsi normal kedua kakiku.
“Dasar
anak setan!!!”
Aku
terkejut mendengar suara itu, takmir masjid berlari dengan pontang-panting
berusaha memecut dan mengejar dua orang
remaja yang tak lain adalah Nurman dan Rohim. Secepat kilat mereka berdua
mereka berlari ke arahku, sialan! Aku yang tak bersalah pun ikut melarikan diri, dilihat dari raut wajah dan kelabat jenggotnya, takmir masjid golongan islam
radikal ini akan memecuti siapa saja dan tak akan menerima penjelasan apa saja,
maka aku ikut melarikan diri. Kulihat Nurman tak beralas kaki sebab sandal
Kepala Desa ia pegang kuat-kuat dengan tangan, begitupula Rohim dengan terompah
kayunya.
Sesampainya
di warung kopi Nurman dan Rohim menaruh sandal curian di atas meja, nafas kami
tak karuan dan keringat membasahi tubuh, kami tertawa cekikikan bersama.
“Kutaksir
sandal Kepala Desa ini haganya ratusan ribu Dul, Him” Nurman mulai membicarakan
harga.
Rohim
tak mau kalah, katanya sandal terompah kayu yang dia bawa sungguh antik dan
berseni.
“Mana
barangmu Dul?” ujar Rohim.
Aku
mengangkat kaki ke meja, “Kau tak tahu betapa mahalnya kakiku ini dasar bodoh!”
Aku menggertak mereka dan menasihati mereka, kuceritakan apa yang kualami
barusan pada mereka. Namun setan telah menguasai pikiran kedua temanku dan pada
akhirnya Nurman pemenang taruhan kali ini.
“Dulll!!!”
suara Paman berteriak dari jauh.
Coba
tolong kau bantu aku mencari maling sandal di masjid, sandal terompah kayu
kesukaanku hilang dicuri orang.
Kami
saling pandang dan dengan cepat kulempar sandal terompah di meja ke muka
warung.
“Maaf
Paman, bukannya terompahnya di situ” aku menunjuk ke terompah curian Rohim.
“Oh
iya, bagaimana bisa ada di sini? Apa kalian lihat aku tadi ke masjid tidak memakai sandal?”
tanya Paman.
Kami
mengangguk bersama, karena pamanku seorang pelupa yang parah, maka dia percaya.
Nia
menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ceritaku, dia tersenyum cantik sekali.
Setelah ceritaku usai, aku bergegas menutup jendela kamar dan tidak akan
kutuliskan lebih rinci tentang apa yang terjadi diantara kami setelah itu. Pada
akhirnya setiap malam sebelum tidur kami saling bertukar cerita, beberapa malam
aku sempat minder sebab semua cerita yang ada dalam hidupku tak ada yang beres dan
memotivasi, namun yang kusyukuri adalah ceritaku selalu membuat istriku
tersenyum atau tertawa. Sungguh setiap pagi dan siang rasanya aku rindu untuk pulang
dan ingin menghabiskan malam dengan istriku, berbagi cerita. Desa Ujungpangkah
ini rasanya sudah sangat sempurna semenjak ada perempuan yang menjadi istriku
ini.

😊
BalasHapus