Anda Jatuh Cinta atau Sedang Ber-Matematika

 

Anda Jatuh Cinta atau Sedang Ber-Matematika

Ali Hamidi



Sebagai manusia yang normal secara personal dan sosial, jatuh cinta merupakan perasaan yang selalu kita alami. Sebagaimana deskripsi tentang “rasa” itu tidak ada, maka cinta pun demikian. Membahas tentang perasaan kita tak pernah menemukan definisi atau arti katanya, melainkan yang kita temukan hanyalah tanda-tanda. Misal, rasa pedas itu apa definisinya? Susah bukan untuk dijelaskan, akan tetapi jika diberi tanda-tanda seperti perih di lidah, dampak makan sambel atau sebagainya. Maka kita mampu mentrasfer pengertia tersebut lewat ingatan indra.

Tidak sedikit kasus di dunia ini yang tak bisa dinalar sebab urusan perasaan, sejak zaman dulu Kawan. Kalau tak percaya, bacalah cerita karya Nizami Ganjavi beberapa abad lalu Layla Majnun, dimana Qays rela meninggalkan kepintaran, kekayaan dan fasilitas lain demi mencintai Layla, hingga ia dianggap gila/Majnun. Atau Romeo yang rela mati demi Juliet, padahal zaman demikian mungkin sangat banyak jumlah janda cantik asal Italia sana. Atau Raja Mughal Shah yang membuat  Taj Mahal untuk istrinya. Atau, di Indonesia sendiri, dimana Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan demi cinta, bagaimana tak melarat jin zaman itu demi mewujudkan perasaan tuannya. Namun kiranya kini orang-orang sering mengeluhkan tentang cinta dan penolakan, berepuk sebelah tangan, pengabaian, peniadaan atau nasib-nasib naas lain yang menimpa generasi muda saat ini.

Cinta Bukan Matematika

Alasan-alasan kesedihan seseorang tentang cinta karena hal di atas sejatinya bukan disebabkan oleh objek atau seseorang yang kita cintai, melainkan oleh pikiran dan harapan kita sendiri. Cinta tidak bisa disamakan dengan matematika, dimana kita harus hitung-menghitung, memikirkan rugi atau untung, bahkan berharap untuk sama dengan dibalas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mas Sabrang (Neo Letto) dalam kajian-kajiaannya bahwa, “Cinta ya cinta saja, titik. Kita tak bisa menuntut orang lain untuk mencintai kita kembali” dalam penjelasannya, kita tak tak bisa memaksakan perasaan orang lain terhadap apa yang ada dipikiran dan harapan kita.

Selain itu, Sujiwo Tedjo selaku Presiden Jancukers juga mengatakan bahwa, “Cinta itu bukan kalkulasi” yaitu sesuatu yang dapat dihitung dan dimintai timbal balik. Maka bukanlah urusan matematika, melainkan jatuh cinta sejatinya ialah memberi, tanpa berharap pengembalian apa-apa. Orang yang merasa bahwa cinta iala pengorbanan, maka seketika itu pula cintanya sudah tiada, begitu kurang lebih ungkapan Sujiwo Tedjo pula. Ketika mental, sikap, hati, pikiran dan perasaan kita hanya fokus untuk memberi dengan keikhlasan, kita tak akan pernah sakit hari. Berat memang, tapi adakah cerita cinta yang lurus-lurus saja di dunia ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077