Buku adalah Ganjal Turu
Buku adalah Ganjal Turu
Ali Hamidi
Sumber gambar: google
Kalau Kawan terlalu banyak menonton drama dan sinetron televise, hendaknya sebelum melakukan itu saring dulu pikiran Kawan tentang fiksi dan nyata. Saya yakin, secara tersirat tujuan dari adegan demi adegan akan dibuat se-emosional mungkin, ketika kesesuaian sudah bertemu antara emosi Kawan dan tontonan tersebut, secara tidak langsung Kawan akan terbawa oleh: perasaan.
Lain halnya dengan orang-orang yang berjenis idealis, sebelum melakukan sesuatu mereka akan menyetig otak mereka bahwa fiksi adalah palsu, orang akademis yang akan menonton film serius dan meriset sesuatu atau orang-orang yang hanya ingin menikmati tontonan, tanpa mereka sadari apa yang mereka nikmati akan menjadi tuntunan prilaku karena otomatis merasuk ke alam bawah sadar.
Tidak akan lebih jauh, mari kita membahas sesuatu tuntunan menarik yang lebih efektif dalam dunia pendidikan, buku. Akhir-akhir ini, sosial media telah membuat jangka kehidupan buku lebih memendek. Hal itu secara keren dibungkus dalam kata “digitalisasi”, yang membuat wacana telah dimanifestasikan menjadi elektronik book, yang mudah diakses juga dibeli.
Namun sayang, di sisi lain upaya kemudahan itu jelas tidak akan berjalan jika masyarakat kita masih belum bisa menumbuhkan budaya baca dan tulis. Agak kurang baik ditulisakan kalau Negara kita berada di posisi hampir terbawah dengan predikat Negara dengan sedikit presentase minat baca. Akan tetapi, hal itu tidak serta merta kita jadikan alasan kegagalan bangsa, sebab di sisi lain banyak prestasi lain selain daripada itu.
Jatuh Cinta pada Membaca
Berbagai upaya telah dilakukan Menteri Pendidikan dalam upaya peningkatan minat membaca para warga negaranya, akan tetapi selain pembentukan komunitas literasi, taman baca atau distribusi buku saja tidak akan cukup. Karena jika dilihat dari berbagai sisi, banyak anak-anak yang tak sempat sekolah, apalagi membaca atau belajar. Lalu pertanyaan orang banyak tentang buku? Bagaimanakah menghilangkan phobia melihat buku tebal, melihat kata-kata atau membaca secara utuh. Agar tidak terjadi miskomunikasi/penyebaran hoax yang salah satu faktor utamanya ialah kurang cermat dalam membaca atau riset terhadap bacaan,
Agak kiranya Kawan tahu Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab pernah memberikan kata-kata:
“Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta”
Kalimat tersebut menjelaskan kepada kita bagaimana menumbuhkan minat baca untuk pertama kali, yaitu mencari buku yang kita sukai. Dalam dunia penerbitan atau penulisan buku misalnya, mereka akan selalu membuat buku dengan isi yang aktual juga dibungkus dengan judul yang menarik. Oleh karena itu terkadang dengan membaca judul buku yang sesuai dengan perasaan kita, kita membelinya, tanpa tahu secara garis besar apa isinya. Akan tetapi hal itulah yang membuat kita kemudian ketagihan untuk terus membaca.
Kemdian, sadarkah kita? Bahwa membaca merupakan salah satu cara untuk merekontruksi pikiran dan melatih indra kita, sebagai alat bantu untuk cepat memahami sesuatu. Oleh karena itu membaca merupakan hiburan yang sangat bermanfaat karena terus menerus memberikan tambahan wacana dan wawasan. Buku, secara tidak langsung juga membuat kita membentuk sebuah perpustakaan mini, yang dalam jangka pendek akan dibaca oleh orang di sekitar kita dan bermanfaat bagi mereka. Atau jangka panjang, buku akan jadi benda yang terdekat dan menjadi investasi dengan anak kita nanti.
Nasib Buku
Syahdan, manfaat terbesar dari buku sejatinya bukan terletak pada isi dan predikat yang telah diraiihnya, akan tetapi terletak pada tidap individu yang sedang memegang buku tersebut. Apakah buku akan bernasib bahagia, karena selalu dibaca, dipinjam, diaplikasikan dalam hidup, dirujuk atau ditulis ulang. Atau malah jangan-jangan buku hanya bernasib malang, sunyi sendirian tak pernah dilanjutkan untuk dibaca. Dan akhirnya menjadi ganjal tidur (bantal).
Manusia memiliki peran aktif dan utama dalam kehidupan, buku diciptakan sebagai sarana keabadian ilmu oleh orang-orang yang pandai menulis untuk orang-orang yang gemar membaca. Bukan menyampingkan alasan bahwa tidak semua orang suka membaca. Akan tetapi pada esensinya semua orang butuh membaca. Dan daripada itu, sembari melakukan kesibukan-kesibukan kita di dunia. Marilah kita membaca, marilah kita belajar dan marilah kita mencintai ilmu pengetahuan.

Komentar
Posting Komentar