Manusia yang Ashabul Kahfi
Ali Hamidi
Pada awalnya saya agak ragu untuk menulis tentang hal ini, namun dengan rasa semangat untuk “Menyindir” diri saya sendiri. Maka akan saya lawan kemalasan-kemalasan saya dengan membaca tulisan ini pada nantinya. Saya sering mengingatkan diri saya sendiri dan meyakinkan bahwa saya adalah manusia malas, oleh karena itu sedikit usaha saya untuk melawan dan menekannya dengan motivasi dan inspirasi. Hal yang paling saya syukuri dari kemalasan dan luangnya waktu saya ialah mempunyai laptop, sehingga saya dapat menulis. Lalu saya menjadi manusia yang cerewet jika berada di depan laptop ini.
Beberapa hari lalu saya membaca dengan hatam novel Ashabul Kahfi karya Muhammad El Natsir, semoga ganjaran jariyah akan mengalir pada beliau atas kemanfaatan tulisan-tulisannya. Selanjutnya saya terbayang betapa sombongnya seseorang bernama Diqyanius yang menguasai secara paksa Kota Ephesus, tempat para Ashabul Kahfi dulunya hidup makmur di bawah ajaran Nabi Isa AS. Kota Ephesus kemudian menjadi kota yang buruk akhlak dan tauhid, karena para rakyat dipaksa menyembah sang Raja Diqyanius atau mati disiksa pemerintah, pilihan yang sulit, maka enam pemuda yang menjadi pengawal raja itu hanya berpura-pura saja ikut menyembahnya, padahal di balik layar mereka sedang merencanakan pemberontakan untuk melawan kedzholiman. Mengajak rakyat kembali ke Nabi Isa AS, menyembah Allah yang Maha Esa.
Dengan analogi yang sederhana keenam pemuda itu menyadari bahwa, “Kalau Diqyanius mengaku Tuhan, kenapa ia makan dan minum seperti manusia, kenapa ia bertingkah dan memiliki kebutuhan layaknya manusia dan tidak mungkin ia menciptakan sesuatu sementara dirinya dulu juga tidak ada/belum ada”. Singkat cerita, ke enam pemuda itu melarikan diri dari Ephesus demi menyelamatkan iman, dalam perjalanan mereka bertemu seorang pengembala dan anjing bernama Khitmir yang bisa berbicara atas rahmat Tuhan. Mereka bertujuh dan anjing itu bersembunyi di goa (Beberapa sumber menyebut berada di Yordania, Turki, Suriah dsb) yang dari luar, pasukan Diqyanius sudah menimbun mereka dengan bahan pengeras bangunan untuk menyiksa semuanya. Di sana mereka tertidur selama 309 tahun, namun ketika bangun, mereka berdoa untuk dijemput ajalnya ketika Raja Abdurrahman serta masyarakat luas mengetahui jati diri mereka.
Syahdan, dari cerita tersebut hanya beberapa hal dapat saya tiru dari keterbatasan kapasitas saya dibanding para Ashabul Kahfi tentunya. Pertama, jika mereka dijadikan Allah SWT “Tidur” untuk menyelamatkan iman, jasad dan menunjukkan kuasa Tuhan. Maka sebaliknya dengan sengaja saya memanfaatkan “Tidur” sebagai salah satu cara berleha-leha untuk membuang-buang waktu saya sendiri. Saya sangat sadar dan tahu, bahwa dalam Islam sudah dijelaskan beberapa hal yang kurang baik seperti tidur setelah subuh, setelah ashar, setelah maghrib dan setelah makan misalnya, namun lagi-lagi dengan sadar dan tahu saya rutin khilaf melakukannya.
Kedua, membaca Ashabul Kahfi secara kontekstual membuat saya selalu berpikir bahwa “Menyendiri” atau menjauhi hal-hal yang dilakukan orang banyak (jika salah atau tidak sesuai kebenaran diri kita) juga perlu kita lakukan. Secara jauh, hal itu menjadi obat untuk diri kita pribadi agar tak menjadi orang yang terbawa “Arus” kehidupan dan melakukan sesuatu tidak dengan taklid buta atau ikut-ikutan orang saja. Emha Ainun Najib atau Cak Nun pernah menjelaskan bahwa, “Hidup itu melawan arus. Hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus”. Demikian yang saya baca dan temukan dalam cerita Ashabul Kahfi, mereka adalah orang-orang yang tak pernah ikut arus sosial atau kontrol luar terhadap diri mereka, demi menyelamatkan diri dari pengaruh buruk atau sesuatu yang tak menjadikannya sampai pada kebaikan dan kebenaran.
Ketiga, di akhir cerita para Ashabul Kahfi dibangunkan oleh Allah SWT setelah 309 tahun dari tidurnya. Saat itu Ephesus dipimpin Raja Sulaiman yang bijaksana, dan masyarakat Ephesus sudah kembali ke ajaran Nabi Isa AS, mengetahui kisah mereka dan membuktikan sendiri ketika melihat uang dari ratusan tahun yang lalu, mereka dieluh-eluhkan dan dimintai berkah oleh masyarakat, dengan bijak Thamlika (salah satu Ashabul Kahfi) menjawab, “Saya manusia biasa seperti kalian, kejadian yang kami alami bukan karena kemampuan kami, namun kuasa Allah SWT.”
Ketika ditarik kasus dan cerita akhir mereka, dalam bahasa kini mereka tak mau menjadi orang yang “Viral”, mereka takut akan menjadi orang-orang yang dimuliakan dan terlena olehnya, maka kemudian mereka sepakat berdo’a agak dijemput ajalnya di goa tempat mereka tidur, tanpa menemui Raja Abdurrahman dan masyarakat yang menunggu mereka di luar goa. Akhir yang sangat menampar diri saya sendiri, dimana sebagai manusia pada umumnya, terkadang terselip perasaan ingin dipuji dan diberi perhatian lebih dari yang lain. Dan menjadi terkenal/viral ialah kenikmatan yang sedang dicari-cari abad ini, bahkan dengan cara memotong urat malu sekalipun.
Sekali lagi, saya ingatkan kepada diri saya sendiri. Bahwa saya tak akan pernah mampu disandingkan dengan kapasitas para Ashabul Kahfi dalam hal apapun, akan tetapi saya menjadikan kisah-kisah teladan untuk menyindir diri saya sendiri. Saya adalah orang malas yang sadar akan kemalasan saya, sebisa mungkin saya menumbuhkan motivasi dari hal-hal yang baik dengan cara saya sendiri, kisah Ashabul Kahfi ini salah satunya. Semoga dapat kita petik hikmah dan kesadaran dalam cerita Ashabul Kahfi, bukan hanya sebagai manusia yang ahli tidur, ikut-ikutan orang banyak dan ingin viral. Dengan menyindir diri saya sendiri, saya tidak akan sakit hati.

Komentar
Posting Komentar