Pesan untuk Para Calon Perantau
Pesan untuk Para Calon Perantau
Ali Hamidi
Sejatinya manusia tidak mungkin dapat terus hidup stagnan
dan statis dalam pemikiran dan pengalamannya, untuk menambah pengetahuan dan
gaya penghidupan manusia harus melakukan adaptasi terhadap hal-hal baru yang
akan ia jalani. Adaptasi berarti perubahan atau penyesuaian makhluk hidup
terhadap fungsi, struktur, lingkungan atapun keadaan yang membuatnya bertahan
dalam kondisi baru tersebut.
Tentu, kita tidak bisa semena-mena menuntut lingkungan atau
budaya baru yang kita temui untuk menyesuaikan dengan keadaan kita, itu tak
adil. Sebaliknya, karena kita adalah subjek bagi diri kita sendiri, maka
kebaikan yang harusnya kita lakukan adalah melakukan adaptasi terhadap suatu
tempat yang baru, meski tampak berlawanan dari rutinitas kita pada sebelumnya.
Sebut saja santri baru, mahasiswa baru, pekerja pemula, keluaga yang pindah
tempat tinggal dan berbagai kasus lainnya. Dalam menyikapi hal tersebut, ada
beberapa upaya kita untuk mengolah diri kita agar mampu beradaptasi dimanapun
itu.
Menjadi Adaptif
Ubah pola pikir bahwa dunia sebatas rumah kita saja.
Pertama, sejak lahir manusia akan memiliki waktu untuk menghabiskan masa
kecilnya di tempat yang mereka sebut rumah, maka dari sanalah kita mengalami
pelajaran dan pendewasaan hidup. Sebagai awal untuk beradaptsi jika kita harus
pergi dari rumah, maka mulanya kita harus berpikir realita bahwa dunia ini luas
dan kita hanya memilii kedaulatan dalam satu tubuh manusia dibandingkan dengan
ribuan manusia atau makhluk lainnya. Apalagi terhadap alam semesta seisinya.
Setelah menyadari bahwa dunia ini luas, kita akan berlanjut
pada tahap mengenali berbagai perbedaan kultural maupun aspek sosial yang kita
amati. Bahwa kita hidup dengan beramai-ramai dan bermacam-macam pula hal yang
akan terjadi di tempat lain. Ketika kita menyadari hal tersebut, setidaknya
kita paham dan menerima perbedaan individu maupun sosial yang terjadi ketika
kita akan kita mengalami proses berinteraksi pada nantinya.
Interaksi yang terjadi secara rutin dan pengenalan lokasi
secara indrawi dapat menjadikan kita akrab dengan hal-hal baru. Semakin kita
banyak bergaul dan mengenali lingkungan, maka rasa nyaman dan damai akan kita
nikmati. Kuncinya, carilah dan nikmati sesuatu yang bisa membuatmu menyenangi
lingkungan baru, seperti suasananya, cuacanya, orang-orangnya atau rencana
cita-citamu yang akan dikejar di sana.
Setelah beberapa hal tersebut sudah kita lewati, hal yang
paling berat menurut penulis ialah adaptasi pikiran. Bahwa pikiran dan
keinginan kita menuntut untuk pulang ke rumah dan berleha-leha dengan zona
nyaman. Perlu kita sadari bahwa kita harus bergerak keluar, kita tak bisa terus
terusan hidup dalam tempurung kecil yang memanjakan kita.
Maka, belajar menjalani hidup dengan orang baru, ilmu baru,
budaya baru dan pengalaman baru merupakan cara manusia dalam mencari kesejatian
hidupnya. Namun ada satu hal yang tak boleh kita lupakan ketika kita keluar
dari wilayah regional kita, yaitu orang tua. Jalinan komunikasi yang baik dan
pemberian kabar kepada mereka merupakan salah satu hal paling berharga yang
dapat dirasakan. Orang tua ialah pelipur rindu sesungguhnya dalam suasana
rumah, mereka ialah nyawa dan esensi rumah sejati, dimana keduanya ialah alasan
kita untuk kembali pulang. Sedikit pesan untuk para perantau, jangan lupakan
orang tua, terus kabari mereka. Terakhir, sejauh apapun seseorang pulang, ia
tak boleh melupakan rumah. Sebab di sanalah kebahagiaan dan kehidupannya
bermula.

Komentar
Posting Komentar