Ijazah
Ijazah
Ali Hamidi
“Kalau kau mencari ilmu hanya untuk mengalahkan orang lain atau mengejar nafsu duniawi. Maka kau sedang mencelakai dirimu sendiri Dul" ujar Paman dengan bijak sebelum aku pergi merantau, lalu waktu berjalan selemparan batu saja.
Susah payah selama empat tahun aku kuliah di Jawa Tengah, dengan tak mencerminkan rasa bersalah Paman menjadikan ijazahku menjadi ganjal gorengan dan gelas kopi. Ingin kutangisi ijazah itu dan kusentil tenggorokan Paman ketika dia sedang minum tapi aku tak berani. Memang bagi masyarakat Desa Ujungpangkah, Gresik ini, setinggi apapun kita sekolah dan sepanjang apapun gelar seseorang. Jika dia tak mampu membenarkan genteng bocor, tak bisa mengaduk semen atau tak kuat mengangkat dua galon, maka dia termasuk golongan orang yang tak berguna. Aku juga menyesal telah memberitahu Paman bahwa ijazah yang kuterima di Institut Agama Islam Negeri itu mendapat IPK 3,9. Paman tak paham dan menceramahiku balik, Kau itu niat belajar apa sekedar mencari kertas itu?
Sial, aku serasa makin tertampar oleh juragan warung kopi itu. Pamanku bukan lagi manusia jenis sumbu pendek atau pemarah, ia adalah manusia tanpa sumbu yang jika mendengar kursi warung bergoyang saja seketika naik darahnya. Terkadang jika darah tinggi Paman kumat, maka warung kopi ini akan menjelma perpustakaan, dilarang berisik dan membuat kegaduhan kalau tak ingin kena marah. Kalau saja kopinya tak enak mungkin bisnisnya sudah bangkrut.
Kupandangi lagi gerimis yang jatuh dari serambi warung kopi, akhir-akhir ini dunia sedang tidak baik-baik saja. Banyak yang harus kutulis jika menjelaskan semuanya. Kulihat ke belakang, Paman sedang asik membaca buku. Baru kali ini ia sebahagia itu, buku yang Paman baca adalah tulisanku ketika Mahasiswa dulu, tentang mimpi-mimpiku. Sebuah tulisan yang menceritakan keunikan desa Ujungpangkah ini.
"Paman apakah memang meja di sana bolong?" tanya Nurman, seorang kuli yang menekuni karirnya sejak lulus sekolah menengah pertama. Dia adalah salah satu kawanku dari kecil yang memang bercita-cita menjadi kuli sejak dini, mimpinya ialah semua orang punya tempat berteduh. Beberapa kali Nurman membantu membangun rumah orang miskin tanpa memungut biaya, ia telah menemukan mimpinya. Keinginan yang sangat sederhana untuk dicapai.
"Bukan!!" Paman membentak, “Itu namanya seni. Kau ini tak pernah mendapat pelajaran seni dan kebudayaan? Orang-orang Barat sana sengaja merusak barang dan apapun demi seni, sudah duduklah saja. Kalau hutangmu masih banyak jangan banyak tanya" maki Paman yang arogan itu, darah tinggi membuat wataknya menjadi orang yang plin-plan, semuanya menjadi penuh kejutan di hidupnya.
"Ini kopimu, aku belum mencuci piring pakai ini saja untuk ganjal gorengan dan kopi" Paman meletakkan dua kopi dan beberapa gorengan di meja itu, beberapa menit lagi pasti kawanku satunya bernama Rohim akan datang. Rohim adalah temanku yang bercita-cita menjadi seniman, cita-citanya tercapai semenjak diterima bekerja menjadi tukang mebel, dia kreatif dan serba bisa.
"Terimakasih Paman" ucap Nurman sebelum Paman kembali ke beranda warung dan membuyarkan lamunanku.
"Dul! Sudah kubilang berkali-kali jangan melamun di depan pintu!! Bagaimana mungkin sarjana sepertimu lebih suka melamun daripada mengejar cita-cita!!!”
"Aku menunggu kiriman barang dari Pak Pos, Paman, bukti sekolahku entah kenapa diksi yang keluar di mulutku tak menyebutkan kata ijazah sama sekali. Paman kecewa, raut mukanya yang biasanya garang tiba-tiba membeku. “Apa yang kau maksud dengan bukti sekolah Dul?"
“Ijazah" jawabku ragu.
Aku memiliki mimpi sejak Sekolah Dasar dulu, bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang guru. Kubayangkan anak-anak sedang mengamati tulisanku, mendengar perkataanku, mencium tanganku dan selalu menyapaku. Aku ingin merawat desa ini, menyiapkan generasi melalui pendidikan yang efektif. Aku kuliah dengan serius dan menekuni bidang-bidang terkait pendidikan.
"Kalau kertas selembar itu kau sebut bukti sekolah, lantas kenapa lama-lama kuliah empat tahun untuk selembar kertas itu", belum sempat aku memikirkan jawaban, Paman melanjutkan kalimatnya.
"Bukti sekolah mungkin ijazah Dul, tapi itu hal administratif. Akan tetapi bukti belajar ada pada ilmu, prilaku, keikhlasan dan kebesaran jiwa. Itulah yang harus kau sumbangkan pada masyarakat. Mana peduli mereka dengan kertas sialan bernama ijazah itu" begitulah pamanku kadang menjadi seorang pemarah, namun tanpa sengaja ia bisa menjelma motivator. Hal itulah yang membuatku nyaman bekerja di warung kopinya untuk sementara, aku tak malu jika tetangga dan kawan-kawanku membicarakan tentang tidak singkron pendidikan dan pekerjaanku, aku kira pendidikan adalah urusan kesadaran diri, sementara pekerjaan adalah urusan usaha saja.
"Permisi Paman, saya mau nambah pesan es teh” ujar Nurman, tanpa ambil tempo terdengar suara, “Brak!!!" Paman mendobrak meja, "Kau ini mau hutang saja banyak minta. Masuk! Buat es teh sendiri" Nurman dengan agak malu-malu masuk warung, membuat es teh dengan tangan gemetar.
"Ingat Dul!" Kini paman menudingku dengan nada tinggi, "Seseorang sekolah belum tentu belajar, namun belajar juga tak harus sekolah. Kau tak ingat bapakmu susah payah menjual sawah, ibumu menjual kalung untukmu kuliah? Kalau perjuangannya hanya kau tukar dengan ijazah, kualat kau” aku mengangguk.
“Memangnya apa saja yang aku lakukan di Jawa Tengah? apa arti rumah? Dan bagaimana kau mengenang kerinduan?” Sebelum menjawab Paman, pikiranku mengingat Bapak yang sudah renta nun sedang mencangkul tanah di sana, beberapa hektar sawah kami dijual begitu juga dengan perhiasan Ibu untuk mendaftarkanku kuliah. Dengan mengantongi persyaratan berupa riwayat sekolah yang bagus, surat dari desa dan surat keterangan cukup kriminal yang kuambil dari kantor polisi, aku lolos seleksi beasiswa bidikmisi yang kemudian menjadi jalan meringankan beban orang tua. Semasa kuliah dulu aku adalah mahasiswa yang aktif menulis dan berkarya, aku juga telah menerbitkan beberapa buku. Aku bergegas membuka tas dan mengeluarkan salah satu buku milikku berjudul Romansa Ujungpangkah, Paman terbelalak membaca judulnya, meraih buku itu dengan cepat dan memandangku dengan tersenyum. Aku mengangguk sombong, mengisyatkan memang Paman tak salah baca, itu adalah namaku yang tertulis di sana, karyaku. Ia menaruh badannya yang gemuk di kursi, membuka buku dan membacanya dengan tenang hingga kurang lebih setengah jam.
"Assalamualaikum, kopi susu Pak" Paman tersenyum ramah pada pelanggan itu, bukan karena semata-mata darah tingginya sembuh melainkan salam itu keluar dari mulut Kepala Desa kami.
"Waalaikumsalamwarahmatullah. Njenengan duduk dulu Pak, saya buatkan" Tak lama kemudian kopi susu itu sudah berada di depan Kepala Desa dengan ramah tak seperti pelanggan pada umumnya, Paman ikut duduk dan tersenyum-senyum penuh arti hendak berbasa-basi.
"Bagaimana keadaan warung Pak, laris? Kelihatannya ramai” tanya Kepala Desa.
"Ah saya tidak terlalu memikirkan laris ataupun tidak Pak, saya memang fokus mengabdikan diri melalui warung ini. Sesuai dengan nama warung ini, Warung Mengabdi bukan? saya di sini memang selalu ramai Pak, sebab saya tidak terlalu menuntut pengunjung. Baik itu orang atas atau orang biasa, tampan atau buruk rupa, yang bayar maupun yang hutang semua dipersilahkan Pak"
"Wah memang pantas kalau Njenengan dihormati masyarakat Pak" puji Kepala Desa, pipi Paman terangkat.
“Oh itu keponakan Bapak, Abdul ya? Bagaimana kuliahmu Dul, selesai?
"Oh iya Pak, dia adalah mahasiswa terbaik dengan IPS 3,9 (maksud Paman IPK)” Paman melirikku, aku mengangguk membenarkan, "Saya sudah berkali-kali menasihatinya untuk belajar dengan serius, mendapat nilai yang baik dan merawat ijazah dengan benar agar bisa mendaftar pejabat. Bukankah begitu Pak?" Paman agak berbangga diri,
"Saya memiliki firasat yang baik siapa tahu keponakan saya ini bisa meniru Njenengan menjadi Kepala Desa suatu hari nanti" perbincangan itu usai, Kepala Desa kembali pulang dan Paman kehilangan wajah ramahnya dan beranjak pergi.
“Jdukk" suara kaki Paman menabrak ujung meja dengan keras, suasana hatinya berubah. Tanpa diaba-aba, semua yang ada di warung itu mendapat antrean amarah, dari ujung ke ujung.
"Kau jangan berisik!! Kau memakai baju tak serasi, itu terbalik, cepat ganti!! Kau terlalu jelek, perangaimu mengganggu sering-seringlah mandi!! Dan kau Nurman!” Paman menunjuk jarinya, "Jum’at depan jadwal membayar hutang. Kau kira aku ini punya kebun kopi sendiri dan memiliki jatah uang seperti pejabat pemerintah. Kalau kau terus mengutang warung kopi ini akan bangkrut! Abdul?" Paman melirikku.
"Kau ini kebanyakan melamun hingga tak sadar beberapa waktu lalu tukang pos datang. Cepat kau ambil ijazahmu yang ada di bawah gorengan dan cangkir kopi Nurman itu, kau harus merawat ijazah dari sekarang. Tapi jangan jadi Kepala Desa, jadilah kepala rumah tangga yang baik saja dan jadilah seorang guru. Banyak desas-desus kepala desa menyalahgunakan dana sosialisasi desa untuk berternak sapi.”
Begitulah Kawan setidaknya sepenggal ceritaku, Kawan boleh mempercayainya atau tidak. Bagi orang-orang desa seperti kami, mimpi kami tak pernah terlampau jauh. Kami adalah golongan orang yang selalu dekat dengan pencapaian cita-cita dan mimpi-mimpi kami sebab sederhananya harapan dan penilaian kami kepada kesuksesan hidup. Di warung kopi itu kami dengan cepat, ringkas dan murah menemukan kebahagiaan hidup. Bagi masyarakat kami, kesuksesan sejati ialah ketika kami menjadi orang yang bermanfaat, mungkin dengan cara mendirikan warung kopi, menjadi kuli atau pekerjaan-pekerjaan lain yang kami tekuni. Bagi kami, mimpi itu amatlah dekat. Melihat orang-orang di sekitar kami tersenyum, dapat menjumpai sesama dengan bergurau atau melalui pertemuan dengan segelas kopi.
Komentar
Posting Komentar