Cita-Cita



Cita-cita

Ali Hamidi


sumber ilustrasi: google.




Tidak ada yang bisa menentukan takdir Kawan, jangankan menerka-nerka tentang apa pekerjaanmu nanti, siapa dan berapa istrimu, berapa anakmu atau betapa galaknya mertuamu tidak ada yang tahu. Memastikan jam berapa kita kencing saja kita tak mampu. Sayangnya, sedikit banyak aku mengeluh dan sering memikirkan kenapa Tuhan menakdirkanku untuk bekerja di tambak, yang dimiliki manusia mirip setan seperti pamanku. Mungkin kawan telah membaca tulisanku sebelumnya, dimana aku dimarahi habis-habisan karena menebar pakan ikan dengan tangan kiri. Lama kelamaan perintahnya agak aneh dan makin susah kuturuti, misalnya aku harus memberi makan ikan sambil mengitari tambak sebanyak tujuh kali seperti manasik haji, aku juga disuruh mengaduk kopi dengan hitungan tiga puluh tiga kali ataupun menata tempat duduk pengunjung warung agar mereka minum kopi sambil menghadap kiblat.

Hari ini rasanya sunyi sekali sebab sudah dua hari Paman pergi ke luar desa untuk mengunjungi saudara istrinya yang melahirkan untuk kedua belas kalinya, sementara Paman hingga kini tak dikaruniai anak. Itulah sebabnya Paman sangat menyayangi anak kecil. Aku masih ingat dimana ketika aku masih kecil dulu Paman sering memberiku buku dan mengajakku memancing di tambak. Waktu itu aku masih lucu dan belum menjadi begundal kurang ajar, makanya Paman melihatku sebagai malaikat kecil pengobat rindu atas harapannya yang tak kunjung terkabul.

Aku masih kecil dan bodoh saat itu, Paman memberiku buku dengan gambar kancil dan seorang petani. Aku yang masih kecil dan bodoh tak pernah tau kalau coretan yang ada dalam buku itu bernama huruf dan bisa dibaca, Paman yang lebih tua dan pasti memahami makna buku itu dengan bergaya dan tersenyum simpul menceritakan kisah itu sebelum aku tertdiur pulas di suatu malam.

Ringkasnya buku itu bercerita begini, di suatu desa ada seekor kancil yang sering mengintip istri petani yang sedang mandi. Tiap malam kancil itu mengendap-endap di atas genteng dan sering menggedor pintu lalu melarikan diri. Suatu malam, kancil itu memiliki rencana jahat untuk mengintip istri petani yang sedang mandi, dengan membawa senter dan petasan seukuran jari kelingking manusia. Aku yang masih kecil dan bodoh itu tak bisa membayangkan apapun, sebab tetanggaku yang petani amat jelek dan tua, sementara istrinya sudah meninggal. Yang kubayangkan saat itu adalah betapa nakalnya kancil itu sehingga memanjat genteng malam-malam dan berniat menyalakan petasan di kamar mandi.

Selanjutnya karena senter kancil hilang,  maka kancil tak bisa melihat dengan jelas ia membuka genteng dari atas rumah lalu melempar petasan yang telah dinyalakan itu ke kamar mandi, usut punya usut yang mandi di kamar mandi ialah pak petani itu sendiri, ia sedang asik membasuh rambutnya dengan air dan secara sistematis petasan yang dilempar kancil itu jatuh kemudian masuk ke mulut petani yang menganga tersebut, hingga kemudian setelah menerima ledakan petasan di mulutnya, petani itu menjadi bisu.

Esok harinya petani mengetahui siapa penyebab kebisuannya karena menemukan senter yang terjatuh di sekitar rumahnya, akhirnya ia membuat jebakan di sawah dengan memberi timun, makanan kesukaan kancil. Sepintar-pintarnya kancil, akhirnya ia terperangkap juga. Ia terjatuh dan masuk ke lobang yang digali petani, kemudian petani tersebut kegirangan dan melonjak lonjak tapi tak mampu bicara sebab ia bisu. Pesan tersiratnya kata Paman ialah jangan suka menyalakan petasan malam-malam atau kita akan menjadi bisu.

Aku yang masih kecil dan bodoh percaya pada cerita itu, hingga akhirnya hingga agak dewasa serta senakal-nakalnya sepak terjang hidupku, aku tak pernah mau kalau disuruh memanjat genteng rumah petani. Apalagi kusadari bahwa petani tetanggaku tak punya istri. Kemudian di buku lain, yang diberikan Paman terdapat sampul berupa gambar seorang ibu dan seorang pemuda yang tubuhnya berubah menjadi batu.

Paman menjelaskan padaku bahwa pemuda itu dikutuk karena sering mengutang saat membeli kopi. Aku yang masih kecil dan bodoh itu melotot penasaran seakan mempertanyakan kebenaran itu. Kemudian dengan agak membentak Paman berkata, “Jangan sekali kali kau suka mengutang di warung kopi kalau sudah dewasa Dul!!. Atau kau bisa kena kutuk menjadi batu seperti pemuda ini.”

Aku yang masih kecil dan bodoh waktu itu menerima nasihat gilanya dengan lapang dada.

Bapak dan ibuku tak penah menggangu jika kami sedang bercerita, rasanya kedekatanku dan Paman menjadikannya tak kesepian jika di rumahnya memang tak ada anak kecil, maka aku semasa kecil ialah orang yang paling disayang Paman, namun semakin dewasa kini rasanya aku berbalik menjadi pelampiasan amarahnya. 

Semakin dewasa ketika kelas 6 Sekolah Dasar aku menemukan buku bergambar sama yang diceritakan pamanku dulu. Aku yang sudah mahir membaca baru memahami bahwa cerita kancil yang sebenarnya ialah ketika kancil ditangkap petani karena sering mencuri timun di sawah, dan pemuda yang tubuhnya menjadi batu ialah maling kundang yang dikutuk sebab durhaka pada ibunya. Kenapa cerita versi Paman berbeda? Akhirnya setelah kutanyakan pada Bapak dan ibuku baru kuketahui kalau Paman sebenarnya ialah penderita buta huruf, singkatnya ia tak pandai membaca. Koran-koran di warung kopinya adalah koran bekas yang hanya digunakan sebagai bungkus gorengan, bukan bekas dibaca.

Dua hari ini Paman pergi dan kabarnya akan telat pulang, maka warung kopi dipasrahkan kedaulatannya padaku sebab hanya aku satu-satunya orang yang sudi membantunya. Setelah memberi makan ikan di tambak Paman, yang aku-pun sebagai jongosnya. Maka aku kembali ke warung dengan senyum bahagia sebab sampai di warung dengan salam yang tak dibalas dengan amarah dan caci maki dari Paman seperti biasanya.

Ketika Paman tak ada, rasanya aku menemukan hidup tanpa tekanan dan beban apapun, dua puluh empat tahun aku hidup di Indonesia mungkin beginilah rasanya kemerdekaan yang sesungguhnya. Tanpa penjajahan batin yang biasa kualami sebab penyakit pikun dan pemarah pamanku sendiri. Warung kopi ramai seperti biasanya dan dengan gembira aku mengatakan ke pelanggan yang datang bahwa Paman pergi ke luar desa.

Hingga malam tiba, hanya aku dan kedua sahabatku, Nurman dan Rohim yang tersisa sebab kami akan begadang malam ini, merayakan kehilangan Paman. Kami persatuan korban Paman sangat menikmati suasana akhir-akhir ini.

Nurman seorang kuli bangunan senior di desaku serta Rohim sang seniman. Keduanya ialah temanku sejak aku masih berumur dua tahun sebab Tuhan menakdirkan kami sebagai tetangga dan sesama anak nakal. Bedanya setelah lulus SMA aku berkesempatan melanjutkan studi di Univeritas Islam Negeri yang membuatku memiliki ijazah sarjana agama yang lupa kutaruh dimana. Aku tak peduli sebab di mata masyarakat desa, sepintar apapun atau setinggi apapun pendidikan seorang sarjana, jika ia tak mampu memasang pompa air, menjaring ikan atau tak kuat jika disuruh menjadi kuli bangunan, maka ia tak berguna.

Tak jauh kuterangkan bahwa pamanku sering meledek kesarjanaan agamaku sebab aku sering masuk warung dengan kaki kiri, mengaduk kopi tak pas tiga puluh tiga kali atau lupa tak membaca bismillah ketika meminum kopi. Sebenarnya terkadang aku merasa kuliah selama empat tahun adalah sia-sia, sebab memang dosenku tak pernah memberi pelajaran bagaimana merawat ikan atau mengurus warung kopi yang sesuai dengan syariat islam. Yang diajarkan hanya seputar tentang moderat, diskusi, perdebatan, orientalis dan biografi orang barat yang namanya saja susah untuk kuhafalkan.

Malam itu sekonyong-konyong Nurman membuka pembicaraan tentang cita-cita, aku yang terlanjur rendah diri sejak beberapa hari lalu dihina Paman untuk melepas kesarjanaan agamaku, ingin bergaya di hadapan kedua temanku ini untuk menaikkan kembali popularitas dan harga diriku di hadapan mereka.

“Oke Man, Him” kupandangi mereka bergantian.

“Kalau kalian memang ingin membahsa cita-cita bolehlah jika aku yang akan bercerita dulu. Membagikan pengalamanku yang tak seberapa ini” aku menggaya.

Mereka mempersilahkan, diam lalu mengubah pandangannya ke arahku.

“Sebentar Dul!” potong Nurman sambil mengacungkan tangan kanannya.

“Apa Man?”

“Bukankah cita-cita itu hanya pertanyaan untuk anak SD hinga SMA saja? apakah orang berusia 24 tahun seperti kita boleh membahas cta-cita.”

Dengan cepat kujawab pertanyaan itu, “Boleh Man boleh, tak ada yang akan melarang meski itu Menteri Pendidikan” membahas menteri aku malah ingat Paman.

“Apakah kita boleh berganti cita-cita” Rohim juga tiba tiba ikut bertanya.

“Boleh Him, boleh asal itu tak jauh dari profesi” kutanggapi Rohim.

Dari raut wajahnya yang melarat itu dapat kutebak kalau mereka berdua tak paham.

“Misalnya aku ingin menjadi pilot kemudian malah menjadi nelayan itu masih linier, sebab sama sama mengendalikan alat transportasi, paham?” aku merendahkan bahasaku.

Mereka mengangguk

“Tapi kalau cita-citamu ingin menjadi dokter namun tiba-tiba ingin ganti menjadi peternak babi itu baru tak sejalan.”

Mereka berdua mengangguk lagi.

“Lalu apa cita-citamu?” tibalah pertanyaan yang kutunggu, Nurman bertanya dan aku memikirkan kata-kata ilmiah yang kupelajari selama 4 tahun menempuh pendidikan di Universitas. Yang kalau orang-orang primitif di depanku ini mendengarnya, pasti mereka akan menanyakan apakah aku anggota ajudan Presiden atau bahkan ilmuan terkenal karena hebatnya kata-kata yang keluar dari mulutku.

Begini Kawan, kuberi kisi-kisi terhadap kalimatku selanjutnya. Satu kalimat bahwa cita-cita dipikiranku terobsesi oleh kata “or”.

“Sejak semester pertama kuliah Man…” Aku menghentikan ceritaku sejenak.

“Him, Rohim”

“Him kau dengarkan aku, jangan lirik-lirik ke sembarang tempat, aku akan berbicara serius.

Tolong dengarkan”

“Oke Dul, maaf.”

“Sejak semester pertama bergelut di dunia akademisi di Universitas, aku terobsesi untuk menjadi Doktor.”

“Doktor?” Nurman terbelalak, aku makin bangga pada kata-kataku.

“Lalu?”

“Tak jadi Man, karena dari hasil penelitianku banyak Doktor yang memakai kaca mata, sementara aku ingin mataku sehat Man, jadi aku tak mau jadi Doktor.”

“Ooo” Rohim menanggapi.

“Selanjutnya pada semester pertengahan aku ingin sekali menjadi Professor Man”

“Professor?” Nurman terbelalak lagi.

“Lalu?”

“Kuteliti lagi Man, kuamati ternyata para Profesor memiliki syarat yang berat juga melebihi Doktor. Yaitu kepalanya harus botak, aku akan makin jelek jika botak Man. Maka cita-cita Professor kucoret dari pikiranku.”

“Ooo” Rohim menimpali.

“Selanjutnya pada akhir semester aku mulai mantap dengan cita-cita lain Man?”

“Apa itu?” tanyanya makin penasaran

“Yaitu menjadi Rektor.”

“Ah Rektor?” Untuk ketiga kalinya Nurman terbelalak, mata kuli bangunan itu melotot penasaran, dengan cepat ia bertanya, “Lalu?”

“Nah ini yang paling berat Man, kupikir-pikir aku akan tersiksa jika menjadi Rektor. Sejak dulu Mahasiswa doyan demo dan menyalahkan rektornya Man, Him. Aku jadi kasian padanya dan pada akhirnya aku tak mau jadi Rektor sebab tak mau didemo banyak orang seperti itu.”

“Kenapa bisa demo?”

“Karena uang pembayaran kuliah mahal Man, sementara pada waktu itu ada masa pandemi dimana banyak orang tua yang tak mampu Man, Him, sementara pembelajaran tak efektif sama sekali dan rasanya pelajaran yang diberikan sia-sia Man, Him, akhirnya banyak orang tua mengeluh. Entah kenapa susah sekali orang-orang yang mengurus lembaga itu menenagkan hati mahasiswanya, mereka malah seakan menyalahkan mahasiswa yang kebanyakan tingkah Man.

“Lalu kau membela siapa?” tanya Nurman.

Aku bingung sendiri atas pertanyaan itu, “Sudah-sudah ganti saja pertanyaanmu.”

Nurman kemudian berbisik pada Rohim, tak lama kemudian Rohim menggeleng-gelengkan kepalanya lalu keduanya saling menatapku.

“Kami punya pertanyaan Dul?” tanggap mereka.

“Apa, apa ayo tanyakan padaku”

“Apakah pekerjaan Doktor, Professor atau Rektor itu? apa seperti pekerjaan satpam?” ungkap kedua temanku dengan lugunya.

Aku kini yang terbelalak melihat tingkah mereka. Aku lupa kalau sedang berhadapan dengan siapa, orang-orang ini terlalau berat jika mendengar kosa kata baru, sebab jabatan tertinggi yang mereka tau ialah Kepala Desa, itupun mereka tak tahu nama asli Kepala Desa, sebab sepertiku kami hanya tahu nama julukannya saja. Mereka berdua, temanku itu tak pernah keluar dari desa, menghabisakan 24 tahun hidupnya dengan fokus ke pekerjaan mereka tanpa tahu dunia luar, singkatnya mereka tak bisa aku salahkan atas pertanyaan itu.

Jika aku menjawab tidak, pada akhirnya mereka akan meminta penjelasan kembali. Maka dengan lirik kanan kiri aku memberanikan diri menjawab, “iya” untuk membesarkan hati dan menutupi kebodohan mereka.

“Sama-sama menjaga tapi yang dijaga bukan tempat, melainkan lembaganya Man, Him” terangku pada mereka bijak.

“Apa menjadi Doktor, Professor atau Rektor harus pintar Dul? apa orang bodoh seperti kita bisa menjadi seperti mereka?”

Sungguh aku ingin membesarkan hati mereka lagi, “Boleh, boleh saja.”

Mereka berdua tersenyum antusias, “Atau, atau apakah orang bodoh seperti kami boleh menjadi sepertimu, Mahasiswa dan lulus menjadi sarjana”

“Wah bisa, bboleh, bahkan bisa diberi ijazah berpigura.”

“Berarti kau juga adalah Mahasiswa bodoh yang mendapat ijazah berpigura?”

Aku tersedak saat meminum kopi pait tanpa gula ketika mendengar pertanyaan itu, aku diam saja.

Makin dewasa kini aku tak punya cita-cita sebab keseharianku sebagai peternak ikan di tambak sekaligus penjaga warung kopi ini melupakanku pada cita-cita.

Dengan agak kaku aku menanyai mereka, “Lalu apa cita-cita kalian?”

“Cita-citaku sudah terwujud Dul” mereka serentak menjawab demikian.

Mereka berbicara ringkas saja, Nurman bercerita ingin menjadi kuli bangunan sejak kecil sebab ia ingin sekali membantu orang membangun rumah, ada kepuasan tersendiri jika dia membantu manusia membangun tempat perlindungan. Pemerintah perlu tau bahwa Nurman memiliki peran penting dalam kelestarian manusia sebab ia adalah kuli pembangun rumah. Rohim berkata ia ingin menjadi seniman sejak kecil, cita-citanya terkabul sebab kini ia menjadi tukang mebel yang sangat mahir membuat segala bentuk barang rumah tangga dari kayu.

Tiba tiba senyumku timbul dan tak terasa mataku berkaca kaca, sungguh kedua temanku ini adalah orang-orang sederhana yang tak banyak keinginan yang dituntut dari hidup ini, mereka tak serakah sebab keinginannya sangat mudah dicapai,,mereka juga tak mengalami kesedihan seperti yang kualami sebab aku terlalu tinggi memaknai keberuntungan dalam hidup, seperti mapan, kaya dan terjamin. Sementara mereka mengukur kebahagiaan mereka dengan jarak yang dekat sekali sehingga ketika orang-orang sepertiku melawan ambisi dan persaingan karena menuntut nafsu pribadi, mereka justru berhasil mengalahkan nafsu mereka terhadap dirinya sendiri.

“Duuul!”

“Maan!”

“Hiim!”

“Baru kutinggal dua hari warungku jadi kotor begini, apakalian tak tau hadis kebersiha sebagian dari iman ha? Lagi-lagi sarjana agama sepertimu perlu kumarahi Dul, kalian juga Man, Him sudah jelek, kumuh lagi! Inilah mengapa Menteri Kesehatan tak mau datang ke kampung kita sebab orang-orang kotor seperti kalian merusak citra desa!” suara Paman memaki-maki ketika baru pulang ternyata mengajarkan kami satu hal, meski ia mengesalkan, kami merindukannya.

 

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan

Skripsi: Insomnia

7.077