Cita-Cita
Tidak
ada yang bisa menentukan takdir Kawan, jangankan menerka-nerka tentang apa pekerjaanmu nanti, siapa dan berapa istrimu, berapa anakmu atau betapa galaknya
mertuamu tidak ada yang tahu. Memastikan jam berapa kita kencing saja kita tak
mampu. Sayangnya, sedikit banyak aku mengeluh dan sering memikirkan kenapa Tuhan
menakdirkanku untuk bekerja di tambak, yang dimiliki manusia mirip setan
seperti pamanku. Mungkin kawan telah membaca tulisanku sebelumnya, dimana aku
dimarahi habis-habisan karena menebar pakan ikan dengan tangan kiri. Lama
kelamaan perintahnya agak aneh dan makin susah kuturuti, misalnya aku harus
memberi makan ikan sambil mengitari tambak sebanyak tujuh kali seperti manasik
haji, aku juga disuruh mengaduk kopi dengan hitungan tiga puluh tiga kali ataupun
menata tempat duduk pengunjung warung agar mereka minum kopi sambil menghadap kiblat.
Hari
ini rasanya sunyi sekali sebab sudah dua hari Paman pergi ke luar desa untuk
mengunjungi saudara istrinya yang melahirkan untuk kedua belas kalinya,
sementara Paman hingga kini tak dikaruniai anak. Itulah sebabnya Paman sangat
menyayangi anak kecil. Aku masih ingat dimana ketika aku masih kecil dulu Paman sering memberiku buku dan mengajakku memancing di tambak. Waktu itu
aku masih lucu dan belum menjadi begundal kurang ajar, makanya Paman melihatku
sebagai malaikat kecil pengobat rindu atas harapannya yang tak kunjung
terkabul.
Aku
masih kecil dan bodoh saat itu, Paman memberiku buku dengan gambar kancil dan
seorang petani. Aku yang masih kecil dan bodoh tak pernah tau kalau coretan
yang ada dalam buku itu bernama huruf dan bisa dibaca, Paman yang lebih tua dan
pasti memahami makna buku itu dengan bergaya dan tersenyum simpul menceritakan
kisah itu sebelum aku tertdiur pulas di suatu malam.
Ringkasnya
buku itu bercerita begini, di suatu desa ada seekor kancil yang sering
mengintip istri petani yang sedang mandi. Tiap malam kancil itu mengendap-endap
di atas genteng dan sering menggedor pintu lalu melarikan diri. Suatu malam,
kancil itu memiliki rencana jahat untuk mengintip istri petani yang sedang
mandi, dengan membawa senter dan petasan seukuran jari kelingking manusia. Aku
yang masih kecil dan bodoh itu tak bisa membayangkan apapun, sebab tetanggaku
yang petani amat jelek dan tua, sementara istrinya sudah meninggal. Yang
kubayangkan saat itu adalah betapa nakalnya kancil itu sehingga memanjat
genteng malam-malam dan berniat menyalakan petasan di kamar mandi.
Selanjutnya
karena senter kancil hilang, maka kancil tak bisa melihat dengan jelas ia membuka genteng dari atas rumah lalu
melempar petasan yang telah dinyalakan itu ke kamar mandi, usut punya usut yang
mandi di kamar mandi ialah pak petani itu sendiri, ia sedang asik membasuh
rambutnya dengan air dan secara sistematis petasan yang dilempar kancil itu
jatuh kemudian masuk ke mulut petani yang menganga tersebut, hingga kemudian setelah
menerima ledakan petasan di mulutnya, petani itu menjadi bisu.
Esok
harinya petani mengetahui siapa penyebab kebisuannya karena menemukan senter
yang terjatuh di sekitar rumahnya, akhirnya ia membuat jebakan di sawah dengan
memberi timun, makanan kesukaan kancil. Sepintar-pintarnya kancil, akhirnya ia
terperangkap juga. Ia terjatuh dan masuk ke lobang yang digali petani, kemudian
petani tersebut kegirangan dan melonjak lonjak tapi tak mampu bicara sebab ia
bisu. Pesan tersiratnya kata Paman ialah jangan suka menyalakan petasan
malam-malam atau kita akan menjadi bisu.
Aku
yang masih kecil dan bodoh percaya pada cerita itu, hingga akhirnya hingga agak
dewasa serta senakal-nakalnya sepak terjang hidupku, aku tak pernah mau kalau
disuruh memanjat genteng rumah petani. Apalagi kusadari bahwa petani tetanggaku
tak punya istri. Kemudian di buku lain, yang diberikan Paman terdapat sampul
berupa gambar seorang ibu dan seorang pemuda yang tubuhnya berubah menjadi
batu.
Paman
menjelaskan padaku bahwa pemuda itu dikutuk karena sering mengutang saat
membeli kopi. Aku yang masih kecil dan bodoh itu melotot penasaran seakan
mempertanyakan kebenaran itu. Kemudian dengan agak membentak Paman berkata, “Jangan
sekali kali kau suka mengutang di warung kopi kalau sudah dewasa Dul!!. Atau
kau bisa kena kutuk menjadi batu seperti pemuda ini.”
Aku
yang masih kecil dan bodoh waktu itu menerima nasihat gilanya dengan lapang
dada.
Bapak dan ibuku tak penah menggangu jika kami sedang bercerita, rasanya kedekatanku dan Paman menjadikannya tak kesepian jika di rumahnya memang tak ada anak kecil, maka aku semasa kecil ialah orang yang paling disayang Paman, namun semakin dewasa kini rasanya aku berbalik menjadi pelampiasan amarahnya.
Semakin dewasa ketika kelas 6 Sekolah Dasar aku menemukan buku bergambar sama yang diceritakan pamanku dulu. Aku yang sudah mahir membaca baru memahami bahwa cerita kancil yang sebenarnya ialah ketika kancil ditangkap petani karena sering mencuri timun di sawah, dan pemuda yang tubuhnya menjadi batu ialah maling kundang yang dikutuk sebab durhaka pada ibunya. Kenapa cerita versi Paman berbeda? Akhirnya setelah kutanyakan pada Bapak dan ibuku baru kuketahui kalau Paman sebenarnya ialah penderita buta huruf, singkatnya ia tak pandai membaca. Koran-koran di warung kopinya adalah koran bekas yang hanya digunakan sebagai bungkus gorengan, bukan bekas dibaca.
Dua
hari ini Paman pergi dan kabarnya akan telat pulang, maka warung kopi dipasrahkan
kedaulatannya padaku sebab hanya aku satu-satunya orang yang sudi membantunya.
Setelah memberi makan ikan di tambak Paman, yang aku-pun sebagai jongosnya.
Maka aku kembali ke warung dengan senyum bahagia sebab sampai di warung dengan
salam yang tak dibalas dengan amarah dan caci maki dari Paman seperti biasanya.
Ketika Paman tak ada, rasanya aku menemukan hidup tanpa tekanan dan beban apapun, dua puluh empat tahun aku hidup di Indonesia mungkin beginilah rasanya kemerdekaan yang sesungguhnya. Tanpa penjajahan batin yang biasa kualami sebab penyakit pikun dan pemarah pamanku sendiri. Warung kopi ramai seperti biasanya dan dengan gembira aku mengatakan ke pelanggan yang datang bahwa Paman pergi ke luar desa.
Hingga malam tiba, hanya aku dan kedua sahabatku, Nurman dan Rohim
yang tersisa sebab kami akan begadang malam ini, merayakan kehilangan Paman.
Kami persatuan korban Paman sangat menikmati suasana akhir-akhir ini.
Nurman
seorang kuli bangunan senior di desaku serta Rohim sang seniman. Keduanya ialah
temanku sejak aku masih berumur dua tahun sebab Tuhan menakdirkan kami sebagai
tetangga dan sesama anak nakal. Bedanya setelah lulus SMA aku berkesempatan
melanjutkan studi di Univeritas Islam Negeri yang membuatku memiliki ijazah sarjana
agama yang lupa kutaruh dimana. Aku tak peduli sebab di mata masyarakat desa,
sepintar apapun atau setinggi apapun pendidikan seorang sarjana, jika ia tak
mampu memasang pompa air, menjaring ikan atau tak kuat jika disuruh menjadi
kuli bangunan, maka ia tak berguna.
Tak
jauh kuterangkan bahwa pamanku sering meledek kesarjanaan agamaku sebab aku
sering masuk warung dengan kaki kiri, mengaduk kopi tak pas tiga puluh tiga kali
atau lupa tak membaca bismillah ketika meminum kopi. Sebenarnya terkadang aku
merasa kuliah selama empat tahun adalah sia-sia, sebab memang dosenku tak pernah
memberi pelajaran bagaimana merawat ikan atau mengurus warung kopi yang sesuai
dengan syariat islam. Yang diajarkan hanya seputar tentang moderat, diskusi,
perdebatan, orientalis dan biografi orang barat yang namanya saja susah untuk
kuhafalkan.
Malam
itu sekonyong-konyong Nurman membuka pembicaraan tentang cita-cita, aku yang
terlanjur rendah diri sejak beberapa hari lalu dihina Paman untuk melepas
kesarjanaan agamaku, ingin bergaya di hadapan kedua temanku ini untuk menaikkan
kembali popularitas dan harga diriku di hadapan mereka.
“Oke
Man, Him” kupandangi mereka bergantian.
“Kalau
kalian memang ingin membahsa cita-cita bolehlah jika aku yang akan bercerita
dulu. Membagikan pengalamanku yang tak seberapa ini” aku menggaya.
Mereka
mempersilahkan, diam lalu mengubah pandangannya ke arahku.
“Sebentar
Dul!” potong Nurman sambil mengacungkan tangan kanannya.
“Apa
Man?”
“Bukankah
cita-cita itu hanya pertanyaan untuk anak SD hinga SMA saja? apakah orang
berusia 24 tahun seperti kita boleh membahas cta-cita.”
Dengan
cepat kujawab pertanyaan itu, “Boleh Man boleh, tak ada yang akan melarang
meski itu Menteri Pendidikan” membahas menteri aku malah ingat Paman.
“Apakah
kita boleh berganti cita-cita” Rohim juga tiba tiba ikut bertanya.
“Boleh Him, boleh asal itu tak jauh dari profesi” kutanggapi Rohim.
Dari
raut wajahnya yang melarat itu dapat kutebak kalau mereka berdua tak paham.
“Misalnya
aku ingin menjadi pilot kemudian malah menjadi nelayan itu masih linier, sebab
sama sama mengendalikan alat transportasi, paham?” aku merendahkan bahasaku.
Mereka
mengangguk
“Tapi kalau cita-citamu ingin menjadi dokter namun tiba-tiba ingin ganti menjadi
peternak babi itu baru tak sejalan.”
Mereka
berdua mengangguk lagi.
“Lalu
apa cita-citamu?” tibalah pertanyaan yang kutunggu, Nurman bertanya dan aku
memikirkan kata-kata ilmiah yang kupelajari selama 4 tahun menempuh pendidikan
di Universitas. Yang kalau orang-orang primitif di depanku ini mendengarnya,
pasti mereka akan menanyakan apakah aku anggota ajudan Presiden atau bahkan
ilmuan terkenal karena hebatnya kata-kata yang keluar dari mulutku.
Begini
Kawan, kuberi kisi-kisi terhadap kalimatku selanjutnya. Satu kalimat bahwa
cita-cita dipikiranku terobsesi oleh kata “or”.
“Sejak
semester pertama kuliah Man…” Aku menghentikan ceritaku sejenak.
“Him,
Rohim”
“Him
kau dengarkan aku, jangan lirik-lirik ke sembarang tempat, aku akan berbicara
serius.
Tolong
dengarkan”
“Oke
Dul, maaf.”
“Sejak
semester pertama bergelut di dunia akademisi di Universitas, aku terobsesi
untuk menjadi Doktor.”
“Doktor?”
Nurman terbelalak, aku makin bangga pada kata-kataku.
“Lalu?”
“Tak
jadi Man, karena dari hasil penelitianku banyak Doktor yang memakai kaca mata,
sementara aku ingin mataku sehat Man, jadi aku tak mau jadi Doktor.”
“Ooo”
Rohim menanggapi.
“Selanjutnya
pada semester pertengahan aku ingin sekali menjadi Professor Man”
“Professor?”
Nurman terbelalak lagi.
“Lalu?”
“Kuteliti
lagi Man, kuamati ternyata para Profesor memiliki syarat yang berat juga
melebihi Doktor. Yaitu kepalanya harus botak, aku akan makin jelek jika botak Man.
Maka cita-cita Professor kucoret dari pikiranku.”
“Ooo”
Rohim menimpali.
“Selanjutnya
pada akhir semester aku mulai mantap dengan cita-cita lain Man?”
“Apa
itu?” tanyanya makin penasaran
“Yaitu
menjadi Rektor.”
“Ah
Rektor?” Untuk ketiga kalinya Nurman terbelalak, mata kuli bangunan itu melotot
penasaran, dengan cepat ia bertanya, “Lalu?”
“Nah
ini yang paling berat Man, kupikir-pikir aku akan tersiksa jika menjadi Rektor.
Sejak dulu Mahasiswa doyan demo dan menyalahkan rektornya Man, Him. Aku jadi
kasian padanya dan pada akhirnya aku tak mau jadi Rektor sebab tak mau didemo
banyak orang seperti itu.”
“Kenapa
bisa demo?”
“Karena
uang pembayaran kuliah mahal Man, sementara pada waktu itu ada masa pandemi
dimana banyak orang tua yang tak mampu Man, Him, sementara pembelajaran tak efektif
sama sekali dan rasanya pelajaran yang diberikan sia-sia Man, Him, akhirnya banyak
orang tua mengeluh. Entah kenapa susah sekali orang-orang yang mengurus lembaga
itu menenagkan hati mahasiswanya, mereka malah seakan menyalahkan mahasiswa
yang kebanyakan tingkah Man.
“Lalu
kau membela siapa?” tanya Nurman.
Aku
bingung sendiri atas pertanyaan itu, “Sudah-sudah ganti saja pertanyaanmu.”
Nurman
kemudian berbisik pada Rohim, tak lama kemudian Rohim menggeleng-gelengkan
kepalanya lalu keduanya saling menatapku.
“Kami
punya pertanyaan Dul?” tanggap mereka.
“Apa,
apa ayo tanyakan padaku”
“Apakah
pekerjaan Doktor, Professor atau Rektor itu? apa seperti pekerjaan satpam?”
ungkap kedua temanku dengan lugunya.
Aku
kini yang terbelalak melihat tingkah mereka. Aku lupa kalau sedang berhadapan
dengan siapa, orang-orang ini terlalau berat jika mendengar kosa kata baru, sebab
jabatan tertinggi yang mereka tau ialah Kepala Desa, itupun mereka tak tahu
nama asli Kepala Desa, sebab sepertiku kami hanya tahu nama julukannya saja.
Mereka berdua, temanku itu tak pernah keluar dari desa, menghabisakan 24 tahun
hidupnya dengan fokus ke pekerjaan mereka tanpa tahu dunia luar, singkatnya mereka
tak bisa aku salahkan atas pertanyaan itu.
Jika
aku menjawab tidak, pada akhirnya mereka akan meminta penjelasan kembali. Maka
dengan lirik kanan kiri aku memberanikan diri menjawab, “iya” untuk membesarkan
hati dan menutupi kebodohan mereka.
“Sama-sama
menjaga tapi yang dijaga bukan tempat, melainkan lembaganya Man, Him” terangku
pada mereka bijak.
“Apa
menjadi Doktor, Professor atau Rektor harus pintar Dul? apa orang bodoh seperti
kita bisa menjadi seperti mereka?”
Sungguh
aku ingin membesarkan hati mereka lagi, “Boleh, boleh saja.”
Mereka
berdua tersenyum antusias, “Atau, atau apakah orang bodoh seperti kami boleh
menjadi sepertimu, Mahasiswa dan lulus menjadi sarjana”
“Wah
bisa, bboleh, bahkan bisa diberi ijazah berpigura.”
“Berarti
kau juga adalah Mahasiswa bodoh yang mendapat ijazah berpigura?”
Aku
tersedak saat meminum kopi pait tanpa gula ketika mendengar pertanyaan itu, aku
diam saja.
Makin
dewasa kini aku tak punya cita-cita sebab keseharianku sebagai peternak ikan di
tambak sekaligus penjaga warung kopi ini melupakanku pada cita-cita.
Dengan
agak kaku aku menanyai mereka, “Lalu apa cita-cita kalian?”
“Cita-citaku
sudah terwujud Dul” mereka serentak menjawab demikian.
Mereka
berbicara ringkas saja, Nurman bercerita ingin menjadi kuli bangunan sejak
kecil sebab ia ingin sekali membantu orang membangun rumah, ada kepuasan
tersendiri jika dia membantu manusia membangun tempat perlindungan. Pemerintah
perlu tau bahwa Nurman memiliki peran penting dalam kelestarian manusia sebab ia
adalah kuli pembangun rumah. Rohim berkata ia ingin menjadi seniman sejak
kecil, cita-citanya terkabul sebab kini ia menjadi tukang mebel yang sangat
mahir membuat segala bentuk barang rumah tangga dari kayu.
Tiba
tiba senyumku timbul dan tak terasa mataku berkaca kaca, sungguh kedua temanku
ini adalah orang-orang sederhana yang tak banyak keinginan yang dituntut dari
hidup ini, mereka tak serakah sebab keinginannya sangat mudah dicapai,,mereka
juga tak mengalami kesedihan seperti yang kualami sebab aku terlalu tinggi memaknai
keberuntungan dalam hidup, seperti mapan, kaya dan terjamin. Sementara mereka
mengukur kebahagiaan mereka dengan jarak yang dekat sekali sehingga ketika
orang-orang sepertiku melawan ambisi dan persaingan karena menuntut nafsu
pribadi, mereka justru berhasil mengalahkan nafsu mereka terhadap dirinya
sendiri.
“Duuul!”
“Maan!”
“Hiim!”
“Baru
kutinggal dua hari warungku jadi kotor begini, apakalian tak tau hadis
kebersiha sebagian dari iman ha? Lagi-lagi sarjana agama sepertimu perlu
kumarahi Dul, kalian juga Man, Him sudah jelek, kumuh lagi! Inilah mengapa
Menteri Kesehatan tak mau datang ke kampung kita sebab orang-orang kotor
seperti kalian merusak citra desa!” suara Paman memaki-maki ketika baru pulang
ternyata mengajarkan kami satu hal, meski ia mengesalkan, kami merindukannya.

UKT gak usah dibayar ya dul.
BalasHapusKasih nomer rekeningmu, tak transfer.
HapusKeren mas lur,, Rohim melok dadi tokoh.. Wkwk
BalasHapus