Mahasiswa dan Umat Pak Musa
Mahasiswa
dan Umat Pak Musa
Lagi-lagi semua peserta didiknya terdiam, kini jemari pak Musa
mulai bergeriliya mematikan laptop dan menata satu persatu peralatan mengajarnya.
Setelah semua peralatan masuk ke dalam tasnya. Ia memberikan penjelasan akhir
terkait materinya. “Jadi, kesimpulan materi kita hari ini adalah tentang
bagaimana menjadi orang yang ikhlas. Perlu kalian ketahui, Surga itu sangat tinggi derajatnya. Meskipun
seluruh hidup kalian digunakan untuk beribadah, tetap saja tidak pantas bagi kita
untuk sekedar mencium baunya.” Pak Musa terdiam sejenak mengambil nafas, para
peserta didiknya hanya terdiam penuh arti.
“Rahmat, hanya rahmat dan kasih sayang-Nya lah yang dapat
menjadikan kita bisa diterima disisi-Nya, hanya itu!” tegas beliau sambil
membenarkan posisi peci hitamnya. Rambutnya yang gondrong menghiasi tepi-tepi
peciya seperti akar pohon beringin namun amat hitam lebat.
“Ikhlas itu seperti apa pak?” sahut Firaun dari bangku pojok
belakang, tangannya mengacung bersemangat, tatapan matanya tak sabar menunggu
jawaban dari pak Musa.
“Seperti buang air
besar!”jawab pak Musa agak keras, semua orang di kelas terkejut.“Mohon maaf,
apakah kamu akan mengingat kegiatan itu ketika sudah menyelesaikannya” Tanya
beliau.
“Ya tidak pak buat apa” ujar Fir’aun sambil sedikit meringis.
“Seperti itulah ikhlas, kamu tidak perlu mengingatnya lagi”
“Gampangnya begini, kamu akan mengetahui rasa ikhlas itu ketika
perbuatan baikmu menyebabkan adanya rasa
sejuk dan bahagia dalam hatimu. Sekecil apapun perbuatanmu itu, asal manfaat”
tambah pak Musa dengan tenang, gerak gerik tangannya turut serta
mendeskripsikan ucapannya hingga para pendengarnya lebih mudah memahami.
Fir’aun tersenyum puas sambil tangannya terus mencatat petuah-petuah dari
dosennya itu.
“Oke, sebelum saya keluar, saya akan beri kalin tugas.
Besok harap menulis kembali tentang
materi kita hari ini dan dikumpulkan di meja saya!” perintah pak Musa.
“Di meja itu
maksudnya di ruang pribadi bapak atau kantor fakultas pak?” Tanya Qarun yang
dengan gagah duduk di depan. Tangannya diangkat tinggi, memang seorang anak
terkaya di kelas itu ingin memamerkan jam tangan merek Jaeger-Lecoultre
seharga sekitar 63 Milyar. Mungkin seharga gedung belajar yang dihuninya.
Bajunya rapi tak ada lekukan sedikitpun, matanya melirik wajah lugu teman-temannya
yang memandangi jam tangan mewah itu. Tau akan hal itu Qarun segaja
berlama-lama mengangkat tangan sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
“Di ruang pribadi
saja”.
“Diketik atau
tulis tangan pak?” jawab Qarun.
“Ditulis saja”.
“Minimal berapa halaman pak?”.
“Lima halaman”.
“Dikertas apa pak?” Tanya Qarun bertubi-tubi hanya karena ingin
berlama-lama pamer jam tangannya.
“Kertas karton”.
“Warna apa pak?”
“Kuning tua. Yah terimakasih. Terakhir dari saya, tetaplah jadi orang
yang ikhlas ketika berbuat apapun, termasuk dalam mengerjakan tugas itu”.
Para peserta didiknya hanya menganga kebingungan sementara Qarun
baru tersadar apa akibat dari berbagai pertanyannnya itu. Kini pak Musa
mencangklong tas hitamnya dan bergegas pamit keluar kelas, wajahnya tersenyum
menahan tawa. Dalam hatinya ia bergumam,”Sungguh kalian ini umat yang banyak
tanya”.
keesokan harinya badan mereka seperti padi tua, merunduk khusu' atau mungkin malu. Mengetahui isi hati murid-muridnya pak Musa tak menanyakan apapun tentang tugas kemarin, jam pelajaran pagi hanya berisi tentang cerita orang-orang dahulu yang kebanyakan bertanya kepada utusan Tuhan hingga mereka kerepotan sendiri dalam menjalankan perintahnya.
Di akhir cerita pak Musa menutup pembicaraannya dengan sebuah do'a kepada umat seisi kelas. Beliau berkata,"Semoga kita dijadikan orang yang belajar dari para pendahulu. Semoga kebaikan dan kejahatan yang terjadi di masa lalu menjadi media pembelajaran bagi kita"
"Aamiiinn" serempak seisi kelas dengan lantang mendorong do'a tersebut ke langit.
"Al-Faaatihah" tutup kegiatan belajar hari itu
"Sejarah ada bukan untuk terulang kembali namun untuk dipelajari" petuah itu tertulis besar di papan tulis kelas. Semua mata menyoroti petuah itu. Terutama Qarun, sekarang badannya membisu engan menampak-nampakkan hartanya dan Fir'aun duduk di pojok kelas memutar tasbih, mulutnya berkomat-kamit membaca istighfar.
baca cerpen saya lainnya :
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/hijau-itu-suasana.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/03/wanita-pemegang-dahi.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/03/bukan-kata-kata.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/puisi-dan-patah-hati.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/dyschromatopsia.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/mbah-wali-gagal-meramal.html
Di akhir cerita pak Musa menutup pembicaraannya dengan sebuah do'a kepada umat seisi kelas. Beliau berkata,"Semoga kita dijadikan orang yang belajar dari para pendahulu. Semoga kebaikan dan kejahatan yang terjadi di masa lalu menjadi media pembelajaran bagi kita"
"Aamiiinn" serempak seisi kelas dengan lantang mendorong do'a tersebut ke langit.
"Al-Faaatihah" tutup kegiatan belajar hari itu
"Sejarah ada bukan untuk terulang kembali namun untuk dipelajari" petuah itu tertulis besar di papan tulis kelas. Semua mata menyoroti petuah itu. Terutama Qarun, sekarang badannya membisu engan menampak-nampakkan hartanya dan Fir'aun duduk di pojok kelas memutar tasbih, mulutnya berkomat-kamit membaca istighfar.
baca cerpen saya lainnya :
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/hijau-itu-suasana.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/03/wanita-pemegang-dahi.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/03/bukan-kata-kata.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/puisi-dan-patah-hati.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/dyschromatopsia.html
https://shopiaaway.blogspot.com/2019/02/mbah-wali-gagal-meramal.html
Nice 👍
BalasHapus